PELUANG (OUTLOOK) ASURANSI JIWA SYARIAH 2017

Bagi banyak praktisi, tema outlook sangat diperlukan untuk menjadi acuan dalam menjalankan bisnisnya. Mereka beranggapan hal ini menjadi gambaran untuk meramalkan bisnisnya di tahun berjalan. Ketika outlooknya bagus, ramai-ramai mereka bersemangat dalam berbisnis dan sebaliknya ketika outlooknya tidak seberapa baik, ramai-ramai pula mereka khawatir kemudian menjadi lesu menjalankan bisnis ini. Dalam syariat, hal ini bisa bertentangan dengan hukum Allah karena hanya Allah lah yang mengetahui hal ghaib. Masa depan adalah hal yang ghaib (yang tidak terlihat/tidak diketahui) dan ketika kita menyerahkannya pada seseorang maka inilah yang bertentangan dengan keimanan dalam syariat. Allah memerintahkan kita untuk mengusahakan hari esok kita.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hasyr : 18)

Lalu apakah outlook tidak penting? Outlook tetap lah penting tetapi kita menganggap bahwa outlook ini sekedar sudut pandang seseorang terhadap sesuatu. Dan sudut pandang ini sangat terbatas pada pengetahuan si pengujarnya dan waktu outlook tersebut dikeluarkan. Jika ada seseorang mengatakan pada Anda, “Jangan lewat jalan A karena kemarin terjadi kecelakaan.” Apakah Anda turuti perkataan orang tersebut karena Anda yakin Anda akan mengalami kecelakaan ketika lewat jalan itu? Jika itu adalah jalan satu-satunya menuju tempat yang Anda akan kunjungi tentu Anda tetap akan lewati tetapi sangat mungkin Anda berhati-hati ketika melintasinya atau jika Anda mendapati ada jalan lain menuju tepat yang sama maka sangat mungkin Anda akan mengambil jalan yang berbeda. Tetapi Anda tetap menuju jalan yang sama, kan?

Maka dari nya, ketika Anda mendengar outlook yang kurang “cerah” akhir-akhir ini, itu Artinya Anda hanya harus berhati-hati dan mencari cara yang lebih baik untuk melewatinya, bukan untuk memercayai bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri kita. Tetapi tenang saja, berdasarkan pengalaman kami, setiap outlook yang disajikan oleh perusahaan penjualan asuransi, insyaa Allah, akan selalu menggunakan sudut pandang dan kalimat positif karena mereka tahu jika menggunakan bahasa alakadarnya maka hal itu bisa jadi merugikan perusahaan karena penjualan akan lesu.

LALU BAGAIMANA OUTLOOK ASURANSI SYARIAH 2017 BERDASARKAN BANYAK SUMBER YANG KAMI KUMPULKAN?

Asuransi Syariah tahun 2017 masih biasa-biasa saja bahkan cenderung turun. Kenapa? Karena banyak perusahaan besar di Indonesia, khususnya perusahaan asuransi jiwa besar yang percaya bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih sedang lesu. Hal ini akan diyakini sumberdaya manusia di perusahaan tersebut, kemudian disampaikan pada agen-agen nya, dan terus menjadi efek virus menular yang lalu secara kolektif meyakini bahwa memang kondisi ekonomi sedang sulit, padahal kita tahu siapa yang sebaik-baiknya pemberi rejeki? ALLAH. Walaupun banyak pengamat mengatakan bahwa Pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) Amerika Serikat hanya tumbuh 2%-3%, Eropa 1,2%-2%, Cina 6,3%-6,4%, dan Indonesia 5%-5,1%, tetap saja ini hanya sebagai rambu-rambu yang membuat kita berpikir bagaimana kita melalui masa-masa ini bukan sebuah keniscayaan.

Alasan kedua, belum banyak perusahaan yang menaruh perhatian pada pengembangan sumberdaya manusia dalam syariah, jika pun ada, sebagian besar masih bersifat formalitas. Mungkin ini karena mindset bahwa Keuangan Syariah adalah keuangan inklusif yaitu semua bisa memanfaatkan danmenggunakan instrumen dan fasilitas keuangan syariah. Itu tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena mindset tersebut sepertinya membuat perusahaan asuransi berpikir bahwa membawakan keuangan syariah sama dengan asuransi konvensional hanya beberapa kalimatnya saja yang diubah. Jelas TIDAK DEMIKIAN, Keuangan syariah memang inklusif dari sisi pengguna tetapi tetap esklusif dari sisi pelaku. Hanya pelaku yang memiliki pengetahuan yang memadai yang berhak membawakan asuransi syariah. Sebenarnya ini merupakan fitrah dalam bermuamalah, suatu perkara harus diserahkan pada ahlinya. Ilmu kedokteran dapat dimanfaatkan oleh semua orang, tetapi pelaku kedokteran hanya mereka yang ahli dan bersertifikat dokter.

Mengapa alasan ini kami kemukakan? Karena nasabah membutuhkan penjelasan yang tepat tentang asuransi syariah. Yang kami amati, kebanyakan nasabah syariah adalah orang yang memercayai agennya walau belum paham betul apa itu syariah dan sedikit lainnya adalah orang yang sudah paham syariah. Banyak orang yang belum mau membeli asuransi syariah karena belum mendapatkan penjelasan yang tepat tentang asuransi syariah. Semakin banyak masyarakat yang terdidik dan paham akan asuransi syariah makan akan semakin berkembang. Lalu yang diuntungkan? Pasti yang pertama diuntungkan adalah Perusahaan dan Pelaku (agen) asuransi syariah. Memang pengembangan sumberdaya manusia ini bukan hal instan. Perusahaan tidak bisa sembarang mengadakan sebua acara seminar motivasi syariah lalu menganggap hal itu sudah cukup sebagai bekal agen untuk menjual asuransi syariah. Ketika agen menjual dengan cara yang salah, maka dikemudian hari perusahaan akan direpotkan dengan banyak masalah.

Alasan ketiga yaitu Masih Membutuhkan Dukungan Pemerintah. Tidak dipungkiri, pemerintah melalui OJK sudah melakukan banyak untuk membangun ekonomi syariah dan tentu masih tetap diperlukan dukungan pemerintah seperti kemudahan-kemudahan kebijakan dan secara langsung mendukung pengembangan perusahaan-perusahaan asuransi syariah. Ketika Malaysia sangat serius dalam pengembangan ekonomi syariah, terlihat nyata pertumbuhan asuransi syariah di tahun 2015 yaitu 9,7% untuk asuransi jiwa syariah dan Indonesia di angka 6,2%. Memang Alhamdulillah angka ini masih lebih tinggi dari pertumbuhan GDP Indonesia yaitu 4,79% jika dibanding pertumbuhan asuransi konvensional pada tahun yang sama yaitu 1,6%.

Alasan keempat, kemudahan masyarakat akan akses informasi yang dibutuhkan. Masih dibutuhkan banyak sosialisasi asuransi syariah secara masif. Sementara ini sosialisasi baru menyasar kelompok kecil walaupun kami tidak mengatakan bahwa itu tidak baik. Pemerintah (OJK) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah telah melakukan banyak kegiatan sosialisasi keuangan syariah namun jika hanya  mereka yang melakukan sosialisasi tentu persoalannya adalah sumberdaya manusia yang terbatas. Bisa saja, OJK bersama perusahaan menerbitkan aturan bahwa perusahaan yang menjual asuransi syariah wajib membuat program edukasi dan literasi keuangan syariah. Iklan layanan masyarakat di televisi dinilai ampuh karena dapat menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Pun demikian, perusahaan asuransi yang besar yang memiliki jumlah agen yang banyak sebetulnya memiliki kekuatan untuk “Menyelam sambil minum air.” Satu sisi memberikan eddukasi pada masyarakat dan ketika masyarakat sudah paham, maka dijual lah produknya. Sementara ini kebanyakan yang dikedepankan adalah menjual walau kami memerhatikan para agen masih memerlukan wawasan asuransi syariah. Sekali lagi, yang kami sarankan memang tidak kompatibel untuk hasil jangka pendek tetapi hal ini berguna untuk melanggengkan bisnis asuransi syariah.

PELUANG-PELUANG YANG MASIH TERBENTANG

  1. Masih menjadi sumber motivasi utama bagi praktisi asuransi bahwa penetrasi asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah. Banyak laporan dari para agen bahwa masyarakat merasa sudah cukup dengan program BPJS sehingga memperkecil peluang mereka untuk dapat menjual asuransi ke masyarakat. Kami melihat ini sebagai peluang bahwa masyarakat belum mengetahui fungsi berbeda dari prduk asuransi yang tawarkan dan menyamakannya dengan BPJS. Untuk ini dibutuhkan agen-agen asuransi yang memiliki wawasan yang luas tentang pemahaman asuransi jiwa khususnya syariah.
  2. Populasi penduduk dan market asuransi syariah yang luas belum tergarap. Ini juga yang membuat banyak perusahaan asuransi menerbitkan produk syariah bahkan beberapa perusahaan yang belum terbilang lama ada yang sudah langsung membuat perusahaan asuransi syariah full pledged.
  3. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak buruk, maka yakinlah bahwa rejeki Allah itu besar. Berdoa lah agar dipermudah dan berusahalah ubah lelah menjadi lillah, begitu kira-kira kata-kata bijak yang sering kita dengar.
  4. Inovasi Produk menjadi salah satu pengungkit pasar yang menurut kami, hal ini dapat mengungkit semangat agen atau praktisi asuransi jiwa untuk menjual lagi karena memiliki produk baru yang bisa ditawarkan ulang. Kami mengira, tidak banyak masyarakat yang paham ketika ada produk baru yang diluncurkan, mereka hanya memahami asuransi adalah asuransi dan mereka hanya harus membayar premi. Edukasi yang tepat dari agen nya akan sangat bermanfaat.
  5. Tingkat menabung masyarakat yang masih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi masyarakat masih baik dan mereka perlu edukasi asuransi syariah dari praktisi yang mumpuni.

Kesimpulannya, mari kita bangun keyakinan bahwa ekonomi masih akan baik-baik saja ketika kita percaya bahwa Allah lah yang memberikan dan menahan rejeki. Maka berdoa dan berusaha tanpa terpengaruh oleh ramalan-ramalan moderen yang disebut outlook kecuali hanya memperlakukannya sebagai rambu-rambu agar berhati-hati dan bijak dalam menjalankan bisnis asuransi jiwa syariah ini. Wallahu a’lam

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>