RIBA (Bagian 4) – Bahaya riba terhadap kehidupan sosial

Tentu para pembaca sudah tahu bahwa ekonomi Islam dibangun diatas 4 (empat) pilar yaitu; Tauhid, Adil, Kebebasan Kehendak, Tanggungjawab. Umat Muslim sadar betul bahwa rezeki adalah Allah yang beri dan dunia serta isinya diciptakan Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia. Karenanya manusia harus terus ingat bahwa semua ini ada karena Allah dan harus digunakan untuk kemaslahatan sesuai dengan perintah Allah.

Karenanya manusia diperintahkan untuk berlaku adil agar tidak ada pihak manapun yang merasa teraniaya atau terzolimi, walaupun kita diberikan kebebasan kehendak dalam menggunakan harta yang kita pegang untuk kebutuhan kita, tetapi tetap saja kita akan dimintai pertanggungjawaban dari mana dan kemana harta kita didapat dan dibelanjakan. Memahami hal ini, maka harta menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk menjalankan kehidupan yang penuh dengan keimanan.

Allah melarang riba karena praktik ini melanggar prinsip keadilan. Tentu Anda sudah dapat mengira ketika keadilan sudah tiada, dan ada pihak yang merasa teraniaya maka terasa sempitlah kehidupan dunia; sengketa, kesenjangan, hasad dan hasut, berselisih, dan akhirnya manusia jauh dari Allah (Tauhid). Dan ini lah yang diinginkan iblis; “dia (iblis) berkata, ‘Rabb ku, oleh karena Engkau telah memutuskan aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al Hijr:39).

Harta adalah karunia Allah yang kita gunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat, sehingga jelas bahwa tujuan kita adalah bukan dunia. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al Qasas:77) maka beruntunglah Anda yang Allah beri karunia kelebihan harta yaitu yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Ini mengapa dalam Islam diperbolehkan mencari rezeki yang banyak untuk digunakan dalam hal seperti ini. Anda yang memiliki mobil mewah dapat memberi tumpangan bagi tetangga-tetangga untuk diajak menuju tempat-tempat kajian ilmu, Anda yang memiliki rumah besar dapat menjadikannya tempat-tempat kajian, Anda yang memiliki uang banyak dapat Anda gunakan untuk membantu terlaksananya kegiatan-kegiatan kajian-kajian ilmu dan inilah harta yang bermanfaat.

Harta adalah “budak” manusia, bukan sebaliknya. Harta harus tunduk pada kehendak manusia bukan sebaliknya, kita, manusia, bekerja siang malam melalaikan hak-hak Allah, sholat lewat, dzikir tak sempat, zakat tak pernah terlihat, seluruh waktu dicurahkan untuk mencari harta. Ketika Anda ditanya, “untuk siapa harta ini?” Anda menjawab, ” Untuk anak dan istri.” Boleh kah yang demikian itu? Mencari harta untuk menafkahi keluarga adalah keharusan tetapi hingga membuat Anda lalai dari hak-hak Allah, itu yang bermasalah. “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al Munafiqun:9).

Dan disaat demikianlah kita sudah menjadi hamba harta, bukan lagi hamba Allah. Terlebih utang ribawi yang Anda harus bayarkan, yang Anda juga tentu sudah tahu bahwa bunga tersebut adalah compounded alias bunga berbunga yang ketika Anda telat membayar maka bunga akan berlipat dan semakin besar sehingga disaat itu Anda akan disibukkan olehnya karenanya semakin sedikitlah waktu untuk mengingat Allah. Anda atau istri Anda akan didatangi preman-preman penagih utang. Anda akan diintimidasi dan dicaci karena hutang tidak dapat terlunasi dan disaat ini lah Anda kehilangan harga diri dan disaat ini pula adalah saat yang paling kritis bagi keimanan Anda, untuk menyelamatkan diri, Anda akan tetap menyembah Allah atau “menyembah” yang lainnya.

Itulah diantara bahaya riba bagi diri sendiri dan keluarga yang nantinya akan berdampak pada sosial Anda. Di saat -saat tersebut menyesali keputusan kita di masa lalu ketika mengambil utang ribawi sepertinya tidak terlalu bermanfaat sebelum masalah pelunasan terselesaikan. Anda akan menyalahkan situasi dan pihak pemakan riba bahwa ini tidak adil.

Benar, Riba memang bertentangan dengan keadilan, karena itulah riba dilarang dalam Al Qur’an. Riba dianggap CURANG dan EKSPLOITATIF karena:

  1. Kreditur mengambil bunga (uang) dari debitur tanpa mau menanggung risiko kerugian. Contohnya dalam utang bisnis, kreditur tidak peduli apakah debitur yang sedang berbisnis sedang mengalami keuntungan atau kerugian, kreditur tetap harus mendapat bunga.
  2. Kreditur tidak bekerja dan mendapatkan uang sedang debitur bekerja keras untuk membayar bunga.
  3. Maka yang memiliki modal (kapital) akan semakin kaya dan yang miskin harus terus bekerja untuk membayar bunga. Ini lah ide kerusakan sistim kapitalisme.

Riba memiliki efek yang sama seperti morfin, seolah terlihat mengobati menghilangkan rasa sakit, namun kemudian Anda akan kesulitan lepas dari jeratannya.

Karenanya saudaraku, BERSABARLAH, jika kau memiliki hajat bersabar dan sholatlah meminta pertolongan Allah, bertakwa dan berserah dirilah pada Allah, insyaa Allah akan diberi jalan keluar, kecukupan dalam hidup, dan kemudahan dalam usaha dan Allah akan melipat gandakan pahala dan menghapuskan dosa-dosa.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At Talaq:2)

“…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …” (QS. At Talaq:3)

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At Talaq:4)

“…, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At Talaq:5)

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

One thought on “RIBA (Bagian 4) – Bahaya riba terhadap kehidupan sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *