Menjadi Agen Syariah, Tapi Belum Kaya Juga?

 

Setiap orang memerlukan harta untuk menopang kehidupannya. Tidak dipungkiri, makanan harus dibeli, pakaian pun demikian, juga tempat tinggal membutuhkan dana untuk dibeli atau paling tidak sewa. Karenanya kita perlu bekerja untuk mendapatkan bagian dari rezeki ini, yaitu harta.

Pertanyaannya adalah apakah setiap orang butuh kaya?

Jika jawabannya YA, lanjut jawab pertanyaan berikutnya, untuk apa kekayaan itu?

Bagaimana cara mendapatkannya? Dengan cara halal saja atau halal dan haram semua disikat?

Untuk dibelanjakan kemana kekayaan Anda ini?

Lalu ketika Anda meninggal dan banyak harta yg diwariskan, apakah Anda tahu bahwa Anda juga harus mempertanggungjawabkan harta itu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hanya untuk yang telah meyakini betul hukum Allah. Bagi mereka yang masih sering melanggar ketentuan Allah walau penampilannya menyerupai agen syariah maka mereka membutuhkan pertanyaan tambahan tentang keimanan sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas.

Jika Anda menjawab sesuai dengan ketentuan syariat dan Anda meyakininya dalam hati, maka Anda membutuhkan kekayaan.

Orang-orang sholeh jika diberi harta (kekuasaan) maka dia akan bertambah kesholehannya sedangkan orang-orang jahat ketika diberi harta (kekuasaan) dia akan bertambah kejahatannya.

Lalu bagaimana, jika Anda dengan kesholehan Anda dan Allah belum mengamanahkan kekayaan pada Anda?

Sabarlah, karena orang-orang sholeh atan tetap sholeh dengan ada atau tidak adanya harta. Hal ini berbeda dibandingkan orang-orang yang tertipu dunia, mereka akan merasa susah ketika tidak ada harta dan mereka akan tetap susah ketika padahal sudah diberi kekayaan, mereka akan dipusingkan dengan mencari cara bagaimana caranya agar semakin kaya, kalau memungkinkan dialah satu-satunya orang terkaya didunia dan mereka akan dibuat sulit dengan bagaimana melindungi dan mempertahankan kekayaannya seolah mereka akan hidup kekal di dunia.

 

BAGAIMANA ORANG-ORANG SHOLEH MENGELOLA HARTANYA?

Qana’ah —> Adl —> Zuhud 

Qana’ah adalah merasa cukup, dengan demikian kita bisa terhindar dari jebakan dunia. Ketika mendapatkan banyak, orang ini bersabar dan metika mendapatkan sedikit maka orang ini bersabar. Banyak atau sedikit dirasakan cukup baginya. 

Apakah Qana’ah artinya berhenti (stop) bekerja ketika sudah merasa cukup? TIDAK.

Anda baru berhenti bekerja ketika panggilan sholat dikumandangkan;

QS Al Jumu’ah : 9

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat JumĀ“at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Perhatikan ayat di atas, bahkan ayat selanjutnya menerangkan bahwa setelah sholat, umat Islam diperintahkan bekerja lagi.

QS Al Jumuah : 10

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Orang beriman adalah bukan orang yang cengeng yang meminta libur setelah bekerja. Umat Islam hanya berhenti bekerja ketika sholat. Dan setelahnya, kita kembali bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah dan mengisi waktu dengan terus mengingat Allah dan karenanya kita akan mendapat keuntungan.

Kesimpulan Qana’ah, yaitu merasa cukup atas apa yang Allah rizki kan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan terus bekerja untuk mencari karunia Allah lainnya. Tentu Anda tahu bahwa ketika Anda sudah merasa cukup dengan apa yang Allah rizkikan dan kemudian saat itu Anda terus bekerja, maka secara matematis Anda akan memiliki kelebihan rizki? Itu lah rizki yang akan Anda sedekahkan.

Adl (Adil) adalah berarti menempatkan sesuai porsinya. Harta Anda yang berasal dari Allah hanya diperkenankan didapat dari cara yang halal dan dipergunakan pada jalan yang halal sehingga dalam membelanjakan hartanya umat Islam tidak pelit dan tidak juga berlebihan.

QS Al Furqan :67

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

 

Dan ketika kita yakin menafkahkannya di jalan Allah, maka hilanglah kekhawatiran bahwa harta kita akan berkurang karena Allah sendiri yang berjanji akan mengganti harta yang kita keluarkan di jalan Allah.

QS Saba : 39

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

Dan terakhir Zuhud. Menurut Ibnu Taimiyah seperti yang dikutip olwh muridnya Ibnu Qayyim, zuhud artinya meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat. Zuhud tidak berarti harus hidup berkekurangan. Zuhud adalah ketika Anda menguasai sejumlah harta namun Anda terikat oleh harta tersebut.

Seperti yang terjadi pada Abdurrahman bin Auf ketika hendak hijrah ke Madihah dan ia dihadang orang-orang Quraisy dan dipaksa memilih harta atau agama barunya (Islam) yaitu jika ia membatalkan diri untuk berhijrah dan kembali ke agama lamanya maka mereka tidak akan mengambil hartanya namun jika ia bersikeras berhijrah maka ia dipaksa untuk meninggalkan hartanya karena mereka berdalih bahwa harta Abdurrahman bin Auf itu dikumpulkan selama ia di Makkah. Abdurrahman bin Auf yang adalah saudagar kaya meninggalkan hartanya dan dia tidak tertarik untuk mempertahankan hartanya daripada dia harus kehilangan jalan menuju Allah.

Juga yang terjadi pada Utsman bin Affan, begitu pula Abu Bakar Ash Shiddiq, dan sahabat-sahabat lainnya yang kaya raya namun tidak tertarik untuk mempertahankan hartanya namun harus kehilangan Islam. Bagi Muslim, harta adalah sarana dan bukan tujuan sehingga umat Muslim menempatkan dunia (hartanya) dalam genggaman dan menempatkan iman (agamanya) dalam hati dan bukan sebaliknya. Umat Muslim dapat dengan mudah melepas hartanya tetapi tidak akan mungkin melepas keimanannya.

Karenanya Muslim yang zuhud dan qana’ah adalah orang-orang yang kaya (hatinya) yang tidak tidak menggantungkan hidupnya pada dunia (harta) namun menjadikan harta tersebut hanya sebagai sarana.

Lalu bagaimana jika ada agen asuransi syariah namun belum kaya juga?

Tanyakanlah padanya apa yang menjadi standar dalam kekayaan. Jika dia menjawab bahwa kekayaan haruslah memiliki rumah impian, mobil mewah, tamasya keliling dunia maka sesungguhnya dia agen yang sangat miskin bahkan ketika hartanya berlimpah untuk ukuran dunia.

Tetapi jika ia menjawab bahwa kekayaan itu bukan tetang berapa banyak harta yang dikumpulkan dan dihitung-hitung melainkan berapa banyak harta yang diinfaqkan melalui tangannya maka ia adalah agen suransi syariah yang sesungguhnya kaya walaupun ia belum terlihat memiliki kemewahan dunia dan lebih mementingkan membelanjakan hartanya dijalan Allah. Terlebih jika Allah karuniakan harta berlimpah, maka ia akan semakin kaya.

… Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

(QS Al Baqarah: 200-202)

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

One thought on “Menjadi Agen Syariah, Tapi Belum Kaya Juga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *