Header Image - As-Salam Training Consultant

admin

FALSAFAH DASAR EKONOMI ISLAMI Oleh : H. Karnaen A. Perwataatmadja

Beberapa petunjuk Al Qur’an dan Hadits yang dijadikan acuan sebagai falsafah dasar ekonomi Islami antara lain, adalah :

  1. Tentang ketentuan Syariah.

Dengan didirikannya masjid pada awal hijrah Nabi Muhammad SAW ke Medinah menunjukan pentingnya pembentukan aqidah dan ahlak yang kuat pada diri pengikutnya sehingga dengan demikian mereka akan dapat taat mengkuti ketentuan-ketentuan agama Islam (syariah).

Al-Qur’an: Surat Al-Maa’idah ayat 5:

“… Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima syariat Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”.(Madaniyah, QS.: 5:5).

 

Al-Qur’an: Surat Al-Maa’idah ayat 48: 

“… Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan (syariah) yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (Madaniyah, QS.: 5:48).

 

  1. Tentang Halalan Toyyiban

 

  1. Kepemilikan Harta, Status dan Peranan Manusia.

 

  1. A. Sabzwari mengatakan bahwa kekuasaan paling tinggi hanyalah milik Allah semata dan manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Pemahaman terhadap prinsip ini mengharuskan manusia bersifat amanah dalam memiliki kekuasaan, kekayaan, dan dalam memimpin masyarakat.

 

Al-Qur’an: Surat Adz-Dzaariyaat, ayat 56:

 

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Makkiyah, QS.: 51:56).

 

Al-Qur’an: Surat Al-Anaam, ayat 165:

 

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa (khalifah) dimuka bumi  dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajad, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya; dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Makkiyah, QS.: 6:165).

 

  1. Kehidupan di dunia dan akherat.

 

Sesuai dengan petunjuk tentang syariah, dengan bekal aqidah dan ahlak yang kuat dari para pengikut Nabi Muhammad SAW maka tidak sulit bagi mereka untuk memahami bahwa dalam ajaran agama Islam tidak ada pemisahan antara kehidupan didunia dan kehidupan di akherat seperti menyatunya jasad dan roh pada diri setiap manusia. Pencapaian dua dimensi kesejahteraan didunia dan diakherat ini yang harus diperjuangkan oleh setiap muslim.

 

Al Qur’an surat Al Qashash ayat 77

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Makkiyah, Q.S.: 28:77)

 

Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 201

 

Dan diantara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.(Madaniyah, Q.S..2:201)

 

  1. Mencari rizki di dunia yang dapat menjadi bekal di akherat.

 

Sejalan dengan petunjuk tentang tentang kehidupan di dunia dan akherat, maka hanya rizki yang halal dan baik saja yang dapat menjadi bekal kehidupan di akherat.

 

Al-Qur’an Surat Al-Maaidah ayat 88

 

“ Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya “. (Madaiyah, QS.: 5:88)

 

Hadits :

 

Diriwayatkan dari jabir bin ‘Abdullah bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda: “Wahai ummat manusia !  Bertaqwalah kepada Allah dan sederhanakanlah dalam mencari (rizki), karena seseorang tidak akan meninggal sebelum rizkinya lengkap, sekalipun Ia melambatkan darinya. Bertaqwalah kepada Allah dan sederhanakanlah dalam mencari (rizki). Ambilah apa yang halal, dan tinggalkanlah apa yang haram !”

 

  1. Mengelola rizki yang halal dan baik.

 

Rizki yang halal dan baik harus dikelola sesuai dengan petunjuk Allah SWT agar dapat menjadi bekal kehidupan di dunia dan akherat. Pengelolaan rizki sesuai dengan petunjuk Allah SWT ini yang membentuk pola perilaku konsumsi, simpanan, dan investasi.

 

 

  1.  Tentang pembentukan pola konsumsi :

 

  1. Mengendalikan nafsu mengkonsumsi

 

Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183

 

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakawa “.(Madaiyah, QS.: 2:183)

 

  1. Hidup Sederhana.

 

Al-Qur’an Surat A’Raaf  ayat 31

 

“ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap ( memasuki ) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan “.(Makkiyah, QS.: 7:31)

 

Hadits :

 

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: “Berhasillah orang yang menyerahkan diri kepada Allah (menjadi Muslim) sedang rizkinya pas-pasan, tetapi Allah memuaskannya”.

 

  1. Tidak boros

 

Al-Qur’an Surat Al Israa ayat 26-27

 

  1. “ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan ( hartamu ) secara boros“.

 

  1. “ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya“.(Makkiyah, QS.: 17:26-27)

 

Hadits :

 

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda: “Sesungguhnya termasuk ‘isrof’ (pemborosan), seandainya anda memakan semua yang mendatangkan nafsu makan kepada anda”.

 

 

  1.  Tentang pembentukan pola simpanan dan pinjaman :

 

      Surat Ar Rum ayat 39

 

“ Dan sesuatu riba ( tambahan ) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah itu, maka ( yang berbuat demikian ) itulah orang-orang yang melipat gandakan ( pahalanya ) ”. (Makkiyah, QS.: 30:39)

 

Surat Ali Imran ayat 130

 

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan “.(Madaiyah, QS.: 3:130)

 

Surat An Nisaa’ ayat 161

 

“…. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih “.(Manadiyah, QS.: 4:161)

 

Surat Al-Baqarah ayat 275, 276

 

  1. “ Orang-orang yang makan ( mengambil ) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran ( tekanan ) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata ( berpendapat ), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti ( dari mengambil riba ), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu ( sebelum datang larangan ); dan urusannya ( terserah ) kepada Allah, Orang yang mengulangi ( mengambil riba ) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya“..:

 

  1. “ Allah memusnahkan ribadan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa “.(Madaniyah, QS.: 2:275-276)

Surat Al-Baqarah ayat 278, 279

 

  1. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang  belum dipungut )jika kamu orang-orang yang beriman “.

 

  1. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasol-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat ( dari pengamblan riba ), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Madaniyah, QS.: 2:278-279)

 

Hadits :

 

Diriwayatkan dari Jabir r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah S.A.W mengutuk pemakan riba, yang menyuruh memakan riba, juru tulis pembuat akte riba dan saksi-saksinya. Sabda beliau: “Mereka itu sama saja (dosanya)”.

 

 

  1.  Tentang pembentukan pola investasi :

 

  1. Usaha yang tidak dibenarkan :

 

Surat Luqman ayat 34

 

“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.  Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui ( dengan pasti ) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengatahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Makkiyah, QS.: 31:34)

 

Surat Al-Maa’idah ayat 90, 91

 

  1. “ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ( meminum ) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasibdengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”.

 

  1. “ Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran ( meminum ) khamar dan berjudiitu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu ( dari mengerjakan pekerjaan itu )”. (Madaniyah, QS.: 5:90-91)

 

  1. Usaha yang dibenarkan :

 

  • Usaha Perniagaan.

 

Surat An Nissa ayat 29

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Madaniyah, QS.: 4:29)

 

Surat Al-Baqarah ayat 275

 

“ Orang-orang yang makan ( mengambil riba) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran ( tekanan ) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata ( berpendapat ), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti ( dari mengambil riba ), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu ( sebelum datang larangan ); dan urusannya ( terserah ) kepada Allah, Orang yang mengulangi ( mengambil riba ) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya “.(Madaniyah, QS.: 2:275).

 

  • Bagihasil Usaha.

 

Surat Al Muzzammil ayat 20

 

“ Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri ( sembahyang ) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan ( demikian pula ) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menetukan batas-batas itu, maka Dia memberikan keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah ( bagimu ) dari Al Qur’an, Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang dijalan Allah, maka bacalah apa yang mudah ( bagimu ) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikan zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh ( balasan ) nya disisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.(Makkiyah, QS.: 73:20)

 

Surat Saad ayat 24

 

“” Daud berkata : ” Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini “. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat “”(Makkiyah, QS.: 38:24)

 

Surat Al Baqarah ayat 286

 

“” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa ( dari kejahatan ) yang dikerjakannya. ( Mereka berdoa ) : ” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.  Ya Tuhan kami, janglah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “”.  (Madaniyah, QS.: 2:286)

 

Hadits :

 

Diriwayatkan dari Shahih bin Shuhaib, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad S.A.W bersabda: “Ada tiga hal yang mendapatkan keberkatan, yaitu: jual beli untuk masa tertentu; muqaradah (membagi keuntungan, profit sharing); dan mencampurkan satu jenis gandum (burr, wheat) dengan jenis gandum yang lain (sya’ir, barley), tetapi bukan untuk dijual”.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurarirah dalam bentuk hadits marfu, yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah orang Ketiga dari dua orang yang bermitra, selama salah satu dari kedua orang itu tidak mengkhianati yang lainnya. Bila salah satu berkhianat, Aku keluar dari kedua orang itu”.

 

(3)  Pinjaman lunak. (Qardhul Hasan).

 

Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 245.

 

Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatkan gandakan pembayaran kepadanya dengan  lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizqi) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Madaniyah, Q.S. 2:245)

 

Al Qur’an surat At Taghaabun ayat 17.

 

“ Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun “. (Madaniyah, Q.S. 64:17).

 

 

  1.  Tentang pembentukan pola industri.

 

  1. Pekerja sebagai mitra usaha.

 

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Rasulullah S.A.W bahwa beliau bersabda: “Bagi pemilik budak bertanggung jawab memberi makan dan pakaiannya, dan tidak membebaninya dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya”.

 

  1. Upah

 

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya”.

 

 

  1. Tentang distribusi pendapatan.

 

Sejalan dengan petunjuk tentang mengelola rizki yang halal dan baik, aktivitas pertanian meningkat dan jumlah industri serta kerajinan tangan berkembang di Medinah. Pendapatan per kapita penduduk Mendinah meningkat dan telah melebihi pengeluaran yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan meningkatnya kemakmuran pemerataan kesejahteraan masyarakat menjadi sangat penting.

 

Surat Al-Hasyar ayat 6

 

“ Apa saja harta rampasan ( fai-i ) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rosul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang dalam parjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukum-Nya “.(Madaniyah, QS.: 59:6)

 

  1. Distribusi pendapatan melalui pola kemitraan usaha

 

Surat Al Muzzammil ayat 20

 

“ Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri ( sembahyang ) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan ( demikian pula ) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menetukan batas-batas itu, maka Dia memberikan keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah ( bagimu ) dari Al Qur’an, Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang dijalan Allah, maka bacalah apa yang mudah ( bagimu ) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikan zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh ( balasan ) nya disisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.(Makkiyah, QS.: 73:20).

 

Surat Saad ayat 24

 

“” Daud berkata : ” Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini “. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat “”(Makkiyah, QS.:38:24)

.

Surat Al Baqarah ayat 286

 

“” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa ( dari kejahatan ) yang dikerjakannya. ( Mereka berdoa ) : ” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.  Ya Tuhan kami, janglah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “”.  (Madaniyah, QS.: 2:286).

 

Hadits :

 

Diriwayatkan dari Shahih bin Shuhaib, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad S.A.W bersabda: “Ada tiga hal yang mendapatkan keberkatan, yaitu: jual beli untuk masa tertentu; muqaradah (membagi keuntungan, profit sharing); dan mencampurkan satu jenis gandum (burr, wheat) dengan jenis gandum yang lain (sya’ir, barley), tetapi bukan untuk dijual”.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurarirah dalam bentuk hadits marfu, yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah orang Ketiga dari dua orang yang bermitra, selama salah satu dari kedua orang itu tidak mengkhianati yang lainnya. Bila salah satu berkhianat, Aku keluar dari kedua orang itu”.

 

 

  1. Distribusi pendapatan melalui pola mekaisme pasar.

 

  • Penentuan harga

 

Diriwayatkan dari Anas bahwa ia mengatakan: Harga pernah mendadak naik pada masa Rasulullah S.A.W. Para sahabat mengatakan: Wahai Rasulullah tentukanlah harga untuk kita. Beliau menjawab: “Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga, penahan dan pencurah serta pemberi rizki. Aku mengharap dapat menemui Tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kezaliman dalam hal darah dan harta”.

 

  • Larangan Ihtikar (menimbun barang)

 

Al Qur’an surat Al Humazah

  1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

2.Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,

  1. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,

(Makkiyah, QS. 104:1-3)

Hadits :

 

Diriwayatkan dari Sa’id Al-Musayyab, dari Mu’ammar bin ‘Abdullah, dari Rasulullah S.A.W yang bersabda: “Tidak ada yang melakukan penimbunan barang kecuali pembuat kesalahan (dosa) !”.

 

(3)  Larangan spekulasi

 

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah yang mengatakan Rasulullah S.A.W melarang penjualan tumpukkan kurma yang tidak diketahui timbangannya dengan timbangan kurma yang dikenal.’

 

  1. Distribusi pendapatan melalui system zakat.

 

Perintah membayar zakat ada pada Al Qur’an di 17 surat dan 34 ayat. Surat-surat yang turun di Mekkah, yaitu : Al-A’raaf, Maryam, Al-Anbiyaa’, Al-Mu’minuun, An-Naml, Luqman, Fussilat, Al-Muzzammil. Sedang surat-surat yang turun di Medinah, yaitu : Al-Baqarah, An-Nissa, Al-Maidah, At-Taubah, Al-Hajj, An-Nuur, Al-Ahzaab, Al-Mujadaalah, dan Al-Bayyinah.

 

Ketentuan zakat menyangkut system pengumpulan zakat, jenis harta yang harus di zakati, syarat waktu (haul) suatu harta wajib di zakati, syarat batas minimum harta kena zakat (nisab), dan orang-orang yang berhak menerima zakat (asnaf) sesuai dengan petunjuk Al Qur’an Surat At Taubah ayat 60..

 

  1. Distribusi pendapatan melalui system pewarisan.

 

Al Qur’an surat Al Baqarah

 

  1. Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda maut), jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.

 

  1. Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantara kamu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (mereka sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

 

  1. Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang taqwa.(Madaniyah, Q.S. 2:180, 240-241).

 

 

  1. Tentang pembangunan ekonomi.

 

Pembangunan ekonomi yang dimaksudkan disini adalah segala upaya yang secara sadar dilakukan Nabi Muhammad SAW sebagai Kepala Negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Petunjuk dan bimbingan langsung beliau dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat inilah yang kelak dikemudian hari dikenal sebagai kebijaksanaan pembangunan dengan menggunakan berbagai instrumen fiscal dan meneter. Banyak sekali hadits Rasulullah SAW yang menunjukan secara nyata kepedulian beliau kepada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

  1. Tidak menyukai kemiskinan

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah berdo’a: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemiskinan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan, serta aku berlindung kepada-Mu dari berbuat kejam dan dizalimi”.

 

  1. Filasafat Pembangunan Ekonomi

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah S.A.W: “Sesungguhnya orang kafir, bila mengerjakan suatu kebaikan, memberikan sebuah kelezatan di dunia. Sedangkan orang yang beriman, maka Allah menyimpankan untuknya kebaikan-kabikannya di akhirat dan memberikan rizki kepadanya di dunia sesuai dengan ketaatannya kepada Allah”.

 

Daftar Rujukan :

 

  1. Al Qur’an dan Terjemahnya hadiah dari Khadim al Haramain asy Syarifain, Fahd ibn ‘Abd al ‘Aziz Al Sa’ud, Madinah, Saudi Arabia, 1990;
  2. Ma’mur Daud, Terjemahan Shahih Muslim, Pt. Wijaya Jakarta, Jl. Pacenongan 48C, JakartaPusat, Cetakan ke1, 1983;
  3. Ahmad, Khursid, Studies in Islamic Economics,The Islamic Foundation, United Kingdom, 1981
  4. Akram Khan, Muhammad, Economic Teachings of Prophet Muhammad, International Institute of Islamic Economics, Islamabad, 1989
  5. Aslam Haneef, Mohamed, Contemporary Islamic Economic Thought, Abdul Majeed & Co for Ikraq, Kuala Lumpur, 1995
  6. Ghazali, Aidit, Islamic Thinkers on Economics, administration and Transactions, Quill Publisher, Kuala Lumpur, 1991
  7. Chapra, Umer M, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam (The Future of Economics : An Ismaic Perspective, Gema Insani, Jakarta, 2001
  8. Mannan, Muhammad Abdul, Ekonomi Islam : Teori dan Praktek,terjemahan dari Islamic Economics : Theory and Practice, PT. Intermasa, Jakarta, 1992
  9. A. Sabzwari, Sistem Ekonomi dan Fiskal pada Masa Pemerintahan Nabi Muhammad SAW., dalam buku Bunga Rampai Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam,  Penyusun Adiwarman Azwar Karim, M.A. International Institute of Islamic Thought, Jakarta, September 2001
  10. Sadeq, AbulHasan M., Reading in Islamic Economic Thought,Longman Malaysia Sdn. Bhd, Kuala Lumpur, 1992
  11. Samuelson, Paul A., Economics, Ninth Edition, McGraw-Hill Book Company, USA, 1973
  12. Samuelson, Paul A., Economics, Fourteenth Edition, McGraw-Hill Book Company, USA, 1992
  13. Zaman, A., M., Hasanuz, Economic Functions of an Islamic State (The Early Experience), the Islamic Foundation, First Edition, International Islamic Publisher, Karachi, 1981
  14. Ensiklopedi Islam Indonesia, Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Penerbit Jambatan, Jakarta, 1992

TADABBUR ANTARA AL QASHASH AYAT 77 DAN ASURANSI SYARIAH

YUK HIJRAH!

Seruan ini menjadi viral saat ini, terlebih berbondong-bondongnya kaum muda milenial yang bersemangat mengunjungi kajian-kajian Islam yang dan termutakhir ditandainya dengan banyak peserta yang hadir dalam Hijrah Fest di Jakarta lalu. Karenanya kami sebagai pegiat ekonomi syariah juga bersemangat mensyiarkan apa yang menjadi bagian dari kehidupan berIslam, yaitu berekonomi secara Islami.

Kami bukan ahli tafsir melainkan orang-orang yang berusaha untuk berIslam dengan baik dengan belajar dalam kajian-kajian dan sekolah-sekolah Islam yang kemudian kami sampaikan kembali dalam tulisan-tulisan dan pelatihan-pelatihan. Karenanya ijinkan kami mentadaburi sebuah ayat Al Quran yang bisa menjadi penyemangat kita melaksanakan hal-hal yang perlu kita kerjakan dalam berIslam. Dan tadabbur berarti merenungkan, memikirkan dan menghayati. Ketika kita melakukannya, kita dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kita berangkat dari tafsir Ibnu Katsir tentan ayat ini, Al Qashash : 77;

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah membangga-banggakan diri. Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah bersikap jahat dan sewenang-wenang, sebagaimana sikap orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.
Firman Allah Swt.:
{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash: 77)
Maksudnya, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.
{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash: 77)
Yakni yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan perkawinan. Karena sesungguhnya engkau mempunyai kewajiban terhadap Tuhanmu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap dirimu sendiri, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap keluargamu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap orang-orang yang bertamu kepadamu, maka tunaikanlah kewajiban itu kepada haknya masing-masing.
{وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ}
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Al-Qashash: 77)
Artinya, berbuat baiklah kepada sesama makhluk Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.
{وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ}
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. (Al-Qashash: 77)
Yaitu janganlah cita-cita yang sedang kamu jalani itu untuk membuat kerusakan di muka bumi dan berbuat jahat terhadap makhluk Allah.
{إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ}
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash: 77)
Kita diperintah untuk mencari negeri akhirat dengan apa yang Allah karuniakan pada kita. Kita memiliki uang, sejatinya itu adalah milik Allah, namun kita diuji untuk memilih. Apakah kita memilih untuk menggunakan di jalan Allah agar kita dapat akhirat yang baik, atau kita memilihnya untuk bermaksiat pada Allah.
 
Kita memiliki keluarga, Istri dan Anak-Anak, dan itu juga karunia dari Allah, apakah kita akan menggunakannya untuk mencari negeri akhirat atau menyiakannya sehingga pertanggunjawaban yang berat menanti kita di akhirat nanti.
 
Kita juga dikarunia akal. Dengannya kita menjadi makhluk modern. Ini pula yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan adanya akal, ada teknologi untuk mempermudah kehidupan dunia. Dengan adanya akal, ada metode dan mekanisme pengaturan keuangan. Dengannya pula bertujuan mempermudah kehidupan. Ada jual beli, ada utang piutang, ada simpan menyimpan, ada saling menjamin. Dan itu pula karunia Allah. Dan apakah kita akan menggunakannya untuk mencari negeri akhirat?
 
Asuransi merupakan hasil pemikiran manusia, sama seperti handphone, laptop, atau apapun yang Anda gunakan untuk membaca artikel ini. Hasil pemikiran ini bisa saja ada kekurangannya dan begitulah sunatullah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun kami yakin bahwa pemikiran manusia dalam hal ini digunakan untuk bertujuan baik walaupun dalam praktiknya bisa saja keluar dari koridor Islam. Dan untuk itulah kita memikirkannya bagaimana karunia-karunia itu bermanfaat dalam berIslam. Karena itu juga lahirlah Asuransi Syariah yang menggunakan kaidah-kaidah Islami. Kita tidak lagi sedang membahas kesyariahan asuransi syariah. Silakan periksa tulisan-tulisan kami yang berbicara tentang ini.
 
Ketika kita sudah sepakat bahwa Asuransi Syariah adalah karunia dari Allah. Mari kita pergunakan ini untuk mencari negeri akhirat. Dalam asuransi syariah, ada tolong-menolong sesama peserta. Dalam asuransi syariah, ada sedekah pada anak-anak kita, yang dalam An Nisaa’ ayat 9 kita diminta takut meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan yang lemah.
 
Dalam mekanisme asuransi syariah ini pula ada bagian kecil yang bisa kita nikmati dalam kehidupan dunia ini. Yaitu ketika kita sedang terkena musibah dan dana tolong menolong ini diberikan pada kita sebagai santunan sehingga hal itu dapat meringankan keadaan kita
 
Sungguh tolong-menolong ini yang disukai Allah, karena hal ini juga yang termaktub dalam ayat ini. Maka tolong menolonglah kita dengan nama Allah dan jangan berbuat kerusakan karena Allah tidak mencintai orang yang berbuat kerusakan. Bagaimana Asuransi syariah menjaga diri dari kerusakan? Mekanisme riba, mekanisme judi sangat merusak dan yang mengerikan adalah kerusakannya tidak terlihat jelas saat-saat awal. Pelan-pelan tetapi membuat kita kehilangan segalanya dan di saat itu barulah orang-orang merasakan ketidak-adilan. Asuransi syariah menghindarkan diri dari Maisir, Gharar, dan Riba sehingga ini adalah karunia Allah yang digunakan untuk menjaga keadilan bermuamalah dan menghindarkan diri dari kerusakan.
 
Akhirnya, berasuransi syariah dapat dijalankan dengan mentadabburi ayat-ayat Al Quran yang dengannya tujuan kita adalah untuk menjalankannya karena Allah sehingga kita berharap pahala dari Nya dan mendapatkan negeri akhirat yang kita cari.
 
Allahu a’lam.
 
Andrie Setiawan

MENANTI KEMBALINYA KEJAYAAN EKONOMI SYARIAH

Suatu hari saya terjadwal untuk memberikan sebuah materi training untuk para agen asuransi syariah dengan tajuk MENANGANI KEBERATAN. Ini adalah materi yang “sakral” dalam dunia asuransi jiwa. Seolah jika seseorang sudah memiliki keterampilan dalam hal ini, maka bisa dipastikan ia dapat menutup (clisong) kebutuhan nasabahnya. Artinya, ia menghasilkan bisnis yang banyak dan tentu menghasilkan banhak uang. ASUMSI ini TIDAKlah BENAR.

Setiap tahapan dari proses penjualan adalah penting. Tahapan sebelumnya dari setiap tahapan proses penjualan ikut memengaruhi kesuksesan tahapan berikutnya. Keberhasilan CLOSING dipengaruhi oleh keberhasilan HANDLING OBJECTION dan tahapan ini dipengaruhi oleh tahapan PRESENTATION yang dipengaruhi oleh tahapan FACT FINDING yang juga dipengruhi oleh tahapan APPROACHING yang dipengaruhi oleh tahapan PROSPECTING yang didahului oleh tahapan PLANNING.

Maka perencanaan (PLANNING) sangatlah penting.

Hari ini saya menjumpai kantor yang masih tutup padahal acara harus dimulai dalam waktu beberapa menit. Jelas saya sudah merencanakan kehadiran saya untuk memberikan materi di kantor ini. Saya melatih diri saya untuk membawakan materi yang diminta, saya merencanakan penggunaan perlengkapan yang akan saya gunakan, saya merencanakan waktu kapan saya harus berangkat dari rumah, bahkan saya merencanakan rute dan jenis kendaraan yang harus saya gunakan menimbang rute dan kondisi jalan.

TAPI TERNYATA….

Kesuksesan perencanaan membutuhkan kesuksesan perencanaan orang lain juga sehingga ketika kantor masih tutup dan peserta belum hadir, maka perencanaan yang sudah saya buat tidak berjalan sesuai rencana.

MENGAPA UMAT ISLAM SAAT INI TERTINGGAL?

Entah pertanyaan ini sudah disadari atau belum oleh ummat. Jawaban dari mengapa ummat Islam saat ini Tertinggal adalah karena sebagian ummat sering TERLAMBAT.
Tahukah kita bahwa sesama Muslim adalah bersaudara dan sesama Muslim seperti satu tubuh. Satu bagian sakit, maka bagian lain akan ikut sakit. Jika sebagian terlambat, maka yang lainnya akan terkena dampak keterlambatannya.

Fahamkah bahwa ummat ini adalah yang terbaik yang sudah dilatih setiap hari dengan kedisiplinan dalam sholat. Bahwa sholat didirikan untuk mengingat Allah dan sholat hars tepat pada waktunya juga sholat dilakukan dengan cara berjamaah.

Pemahaman dalam sholat sangat memengaruhi etos kerja ummat ini.

Hhmmm… ini menjadi peringatan bagi kita semua, jangan-jangan sholatnya masih sering terlambat dan tidak berjamaah, karenanya ummat hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, egois, dn hatinya terpisah.

Hayya ‘alash sholaah (Mari kita sholat)
Hayya ‘alal falaah (Marikita mencapai kemenangan/kesuksesan)

Menangani Keberatan dengan FEEL, FELT, FOUND

Bismillah,

Menjual, berdakwah, mengajar, dan lainnya merupakan aktivitas yang memerlukan proses komunikasi. Dalam komunikasi ada kalanya kawan bicara kita tidak sepaham atau tidak bisa menerima pemikiran kita dan dan menanganinya ada beberapa teknik yang dapat kita lakukan dan salah satunya akan kita bahas sekarang, insyaa Allah.

Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan mengenai hal ini dan beberapa klien saya juga merasakan hal serupa sampai dengan mereka menemukan bahwa … (lanjutkan dengan kalimat topik yang sedang dibicarakan).”

Misal:

  • produk ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya.”
  • kumpul-kumpul dalam kajian di masjid benar-benar membawa perubahan positif dalam hidup kita.”
  • “kesulitan-kesulitan dalam belajar akan selalu dijumpai dan manfaatnya pikiran kita terlatih untuk menghadapi persoalan-persoalan sekaligus bersabar dalam pemecahannya.”
  • dan lain-lain.

FEEL (Merasakan, present-saat ini) : Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan mengenai hal ini

FELT (Merasakan, past tense-saat yang sudah lewat) : beberapa klien saya juga merasakan hal serupa

FOUND (Menemukan, past tense-saat yang sudah lewat) : dengan mereka menemukan bahwa … (lanjutkan dengan kalimat topik yang sedang dibicarakan)

 

Bagaimana pola kalimat tersebut bekerja? Ini bagian yang paling menarik bagi Anda yang kritis terhadap fungsi pola kalimat dalam komunikasi. Ingatlah, pola kalimat teratur dan sistimatis akan disenangi pendengarnya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling teratur bicaranya.

 

FEEL : Anda sedang membangun kedekatan emosional dengan berempati pada kawan bicara Anda sehingga saat-saat ia bersama Anda merupakan saat yang selaras dan tak ada perselisihan.

FELT : Anda sedang mengubah fokus dari perasaan Subjektif kawan bicara Anda menjadi pikiran Objektif dengan memasukkan banyak orang kedalam pembicaraan Anda. Hal ini berarti bahwa perasaan yang sedang ia rasakan adalah hal umum yang orang lain juga rasakan dan ini akan membuat ikatan pemikiran nya terhadap pemikiran banyak orang.

FOUND : Ini adalah pikiran yang kita sedang masukkan kedalam pikiran kawan bicara kita setelah ia terikat secara emosional kepada kelompok orang yang sedang kita bicarakan. Dan salah satu prinsip persuasi adalah, ketika seseorang sulit untuk memilih (belum memiliki pilihan) maka ia akan menyerahkan pada keputusan orang banyak. Contoh, ketika kita datang ke sebuah restoran dan kita belum memiliki pilihan menu dalam pikiran kita maka biasanya kita akan bertanya, “Menu apa yang paling banyak dipesan, Mbak?” 

SEMOGA BERMANFAAT DAN GUNAKAN HANYA UNTUK KEBAIKAN. 

SAYA BERLEPAS DIRI DARI KEBURUKAN YANG ANDA LAKUKAN MENGGUNAKAN APA YANG SAYA AJARKAN.

 

Contoh-contoh penanganan keberatan agen asuransi jiwa syariah: 

Keberatan #1 | Masih banyak cicilan
“Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan, nasabah saya juga merasakan hal yang sama dan menemukan bahwa asuransi jiwa syariah merupakan cara yang sangat baik untuk situasi Bapak yang sedang banyak cicilan seperti saat ini. Asuransi adalah satu cara untuk melindungi keluarga dari cicilan yang Bapak miliki yang akan ditagihkan kepada mereka saat kita tidak bisa lagi membayar karena risiko hidup yang terjadi.”
Keberatan #2 | Belum membutuhkan, masih sehat
“Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan, nasabah saya juga merasakan hal yang sama dan menyadari bahwa “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari). Kesehatan sangatlah penting dan kami hadir karena kesehatan Bapak… sangatlah penting. Dan sesekali seseorang harus dirawat di rumah sakit, saat itulah Bapak … Harus kembali menjadi sehat. Asuransi Syariah sangat dibutuhkan untuk membayar biaya rumah sakit yang mahal. Biarkan asuransi yang membayarnya, Bapak… Tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit tersebut.”
Keberatan #3 | Belum membutuhkan, masih sehat
“Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan, nasabah saya juga merasakan hal yang sama dan menyadari bahwa “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari).

Kesehatan sangatlah penting dan kami hadir karena kesehatan Bapak… sangatlah penting. Dan sesekali seseorang harus dirawat di rumah sakit, saat itulah Bapak … Harus kembali menjadi sehat. Asuransi Syariah sangat dibutuhkan untuk membayar biaya rumah sakit yang mahal. Biarkan asuransi yang membayarnya, Bapak… Tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit tersebut.”

Keberatan #4 | Saya tanya orang rumah dulu
“Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan, dan nasabah saya juga merasakan hal yang sama kemudian memahami bahwa asuransi ini penting. Apa yang Bapak… Katakan barusan adalah cerminan bahwa Bapak… Sangat menyayangi keluarga. Untuk membuat keputusan penting, Bapak… Perlu melibatkan keluarga untuk memberikan pertimbangan.

Asuransi jiwa syariah adalah juga sarana untuk melindungi orang-orang yang Bapak sayangi di rumah, saya akan sangat senang untuk berjumpa dengan istri dan anak-anak untuk juga menjelaskan bahwa manfaat ini adalah juga untuk mereka ”

(buat janji temu di rumahnya dengan bertemu keduanya –suami dan istri)

Keberatan #5 | Saya bertawakal pada Allah
“Saya dapat merasakan apa yang Bapak rasakan, nasabah saya juga merasakan hal yang sama dan menemukan bahwa asuransi jiwa syariah merupakan cara bertawakal pada Allah. Tentu Bapak sudah sering mendengar perjuangan para nabi Allah.

Mereka adalah orang-orang yang terjaga dari perbuatan dosa, yang dijamin surga, yang dicintai Allah yang doanya pasti dikabulkan. Diantara kaumnya para Nabi adalah orang-orang yang paling beriman, bertakwa, dan bertawakal pada Allah. Dan tentu Bapak… Tahu bahwa para Nabi tetap berperang dan berjuang membela Allah bersama-sama dengan umat nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap terjun ke medan perang, Nabi Musa ‘Alaihis Salam dikejar pasukan Firaun kemudian memukulkan tongkatnya di tepi laut merah walau ia tidak tahu apa yang terjadi maka ia tetap bertawakal, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam membuat bahtera walau ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa bertawakal adalah setelah berikhtiar.”

“Dalam sebuah hadist (sabda Nabi Muhammad SAW) disebutkan bahwa seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berserah diri (tawakal) kepada Tuhan, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku berserah diri? Maka Nabi menjawab, Ikatlah untamu lalu berserah diri kepada Tuhan.”

(Ref. Hadist riwayat Imam Al Qudhai dalam Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368).

Asuransi serupa dengan helm yang Bapak pakai walau tidak pernah berharap kecelakaan, seperti ban serep walau tak pernah menginginkan ban mobil Bapak kempes, seperti kunci pintu walau tidak pernah berharap rumah kita kemalingan.

Keberatan #6 | Berasuransi bertentangan dengan takdir
“Sama dengan jawaban atas Keberatan #5.”

(Tambahan)

Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah menyikapi takdir ada di tengah-tengah. Bukan seperti Qodariyyah yang menganggap bahwa apa yang terjadi adalah karena kehendak manusia bukan karena kehendak Allah dan Jabariyyah yang menganggap bahwa seluruh yang terjadi didunia ini adalah kehendak Allah sehingga manusia seolah-olah tidak memiliki kemampuan dan ikhtiyar.

Maka Islam memerintahkan kita untuk berusaha dan tentu usaha yang dilakukan haruslah yang halal dan baik. Asuransi syariah adalah sebuah usaha sebagai bagian dari takdir Allah.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Innallaha laa yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiruu maa bi annfusihim (Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.)

Baik, Bapak memilih berasuransi ataupun menolaknya, itu adalah takdir Allah yang Bapak pilih. Karenanya saya datang ke sini untuk menunjukkan pilihan seperti penjual payung yang menawarkan agar Bapak aman saat hujan, atau menyarankan Bapak untuk membawa ban serep dan juga mengunci pintu untuk berjaga-jaga dari hal buruk yang mungkin terjadi.

 

MENJADI PEBISNIS HEBAT; Jangan Alergi dengan Teori

Dari kamus Merriam Webster online mengatakan bahwa salah satu definisi teori adalah, “The analysis of  a set of facts in their relation to one another.” Yang terjemahan bebasnya dapat bermakna analisa dari serangkaian fakta-fakta dalam hubungannya antara satu dengan lainnya. Maka bisa dipahami bahwa teori muncul dari hal-hal yang sifatnya empirik yang bukti-bukti tersebut merupakan hasil pengamatan atau pengalaman yang menjadi pelajaran bagi orang lain untuk dibuktikan dalam setting waktu, tempat, dan pelaku yang berbeda.

Ketika bukti-bukti teori berlaku secara mutlak dan jika dipraktikkan hasilnya sama maka hal tersebut dinamakan hukum, contoh HUKUM GRAVITASI. Ketika benda dijatuhkan akan meluncur ke bawah dan itu akan berlaku secara mutlak.

Dalam dunia bisnis juga banyak berkembang teori-teori yang penting untuk dijalankan dan diuji coba kesesuaiannya dengan pelaku bisnis yang memelajarinya. Bisa jadi hasilnya serupa, atau karena faktor lain bahkan haslinya menjadi lebih sukses, dan dengan begitu akan muncul teori baru. Karenanya, teori akan dikatakan sesuai setelah dipraktikkan.

Apakah ada orang yang hidup di dunia ini tanpa teori? Jika ada yang menjawab Ya, saya yakin orang tersebut sedang berbohong atau orang tersebut tidak paham dengan hidupnya. Bahkan orang yang mengatakan, “saya sih hidup mengalir saja seperti air.” Sebenarnya dia juga sedang berteori. Apakah benar-benar ada orang yang hidup ingin mengalir seperti air? Jika pun ada, ia harus ridho jika dirinya mengalir ke selokan atau pun ke septic tank.

Perhatikan gambar teori dari Action Coach nya Brad Sugar dibawah ini

 

Ini adalah teori yang diyakini banyak orang yang dapat membawa pada kesuksesan bisnis dan ini merupakan teori yang dijalankan banyak orang. Bahkan ketika orang yang mempraktikkannya belum berhasil ia tidak langsung menghukumi bahwa itu hanya teori, “Ah Teori!” Ia tetap akan mencoba dan mencoba sampai berhasil. Lalu apakah kemudian bisnis tidak membutuhkan teori?

Terlalu berlebihan ketika orang alergi terhadap teori padahal ia mendapatkan ijazah sekolahnya dari teori-teori yang ia hapalkan di sekolah. Bahkan orang yang tidak sekolah pun membutuhkan teori ketika ia membutuhkan tips dan trik untuk bisa sukses dalam bisnisnya dari kawannya yang telah lebih dulu sukses.

Yang tepat adalah Teori diharapkan akan dibuktikan dengan praktik dan jika teori tidak berhasil maka evaluasi dan carilah teori lain yang sesuai dengan konteks Anda.

 

Bahkan dengan sangat indah Allah memberikan kita dua hal yang sangat berharga, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Al Quran berisi konsep-konsep yang secara praktis Anda dapatkan di dalam As Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Al Quran mengajarkan untuk sholat tetapi Anda tidak akan menjumpai cara-cara sholat yang terperinci melainkan Anda akan mendapatinya di As Sunnah.

Anda, para praktisi asuransi syariah, tentu juga memerlukan teori. Syariah itu berasal dari Al Quran dan Sunnah. Sudah semestinya Anda paham aturan Al Quran dan As Sunnah yang berhubungan dengan asuransi syariah. Syariat berarti aturan dan bisnis Anda berpotensi menyimpang jika tidak memahami aturannya.

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya