Header Image - As-Salam Training Consultant

Category Archives

19 Articles

TADABBUR ANTARA AL QASHASH AYAT 77 DAN ASURANSI SYARIAH

YUK HIJRAH!

Seruan ini menjadi viral saat ini, terlebih berbondong-bondongnya kaum muda milenial yang bersemangat mengunjungi kajian-kajian Islam yang dan termutakhir ditandainya dengan banyak peserta yang hadir dalam Hijrah Fest di Jakarta lalu. Karenanya kami sebagai pegiat ekonomi syariah juga bersemangat mensyiarkan apa yang menjadi bagian dari kehidupan berIslam, yaitu berekonomi secara Islami.

Kami bukan ahli tafsir melainkan orang-orang yang berusaha untuk berIslam dengan baik dengan belajar dalam kajian-kajian dan sekolah-sekolah Islam yang kemudian kami sampaikan kembali dalam tulisan-tulisan dan pelatihan-pelatihan. Karenanya ijinkan kami mentadaburi sebuah ayat Al Quran yang bisa menjadi penyemangat kita melaksanakan hal-hal yang perlu kita kerjakan dalam berIslam. Dan tadabbur berarti merenungkan, memikirkan dan menghayati. Ketika kita melakukannya, kita dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kita berangkat dari tafsir Ibnu Katsir tentan ayat ini, Al Qashash : 77;

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah membangga-banggakan diri. Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah bersikap jahat dan sewenang-wenang, sebagaimana sikap orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.
Firman Allah Swt.:
{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash: 77)
Maksudnya, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.
{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash: 77)
Yakni yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan perkawinan. Karena sesungguhnya engkau mempunyai kewajiban terhadap Tuhanmu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap dirimu sendiri, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap keluargamu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap orang-orang yang bertamu kepadamu, maka tunaikanlah kewajiban itu kepada haknya masing-masing.
{وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ}
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Al-Qashash: 77)
Artinya, berbuat baiklah kepada sesama makhluk Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.
{وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ}
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. (Al-Qashash: 77)
Yaitu janganlah cita-cita yang sedang kamu jalani itu untuk membuat kerusakan di muka bumi dan berbuat jahat terhadap makhluk Allah.
{إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ}
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash: 77)
Kita diperintah untuk mencari negeri akhirat dengan apa yang Allah karuniakan pada kita. Kita memiliki uang, sejatinya itu adalah milik Allah, namun kita diuji untuk memilih. Apakah kita memilih untuk menggunakan di jalan Allah agar kita dapat akhirat yang baik, atau kita memilihnya untuk bermaksiat pada Allah.
 
Kita memiliki keluarga, Istri dan Anak-Anak, dan itu juga karunia dari Allah, apakah kita akan menggunakannya untuk mencari negeri akhirat atau menyiakannya sehingga pertanggunjawaban yang berat menanti kita di akhirat nanti.
 
Kita juga dikarunia akal. Dengannya kita menjadi makhluk modern. Ini pula yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan adanya akal, ada teknologi untuk mempermudah kehidupan dunia. Dengan adanya akal, ada metode dan mekanisme pengaturan keuangan. Dengannya pula bertujuan mempermudah kehidupan. Ada jual beli, ada utang piutang, ada simpan menyimpan, ada saling menjamin. Dan itu pula karunia Allah. Dan apakah kita akan menggunakannya untuk mencari negeri akhirat?
 
Asuransi merupakan hasil pemikiran manusia, sama seperti handphone, laptop, atau apapun yang Anda gunakan untuk membaca artikel ini. Hasil pemikiran ini bisa saja ada kekurangannya dan begitulah sunatullah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun kami yakin bahwa pemikiran manusia dalam hal ini digunakan untuk bertujuan baik walaupun dalam praktiknya bisa saja keluar dari koridor Islam. Dan untuk itulah kita memikirkannya bagaimana karunia-karunia itu bermanfaat dalam berIslam. Karena itu juga lahirlah Asuransi Syariah yang menggunakan kaidah-kaidah Islami. Kita tidak lagi sedang membahas kesyariahan asuransi syariah. Silakan periksa tulisan-tulisan kami yang berbicara tentang ini.
 
Ketika kita sudah sepakat bahwa Asuransi Syariah adalah karunia dari Allah. Mari kita pergunakan ini untuk mencari negeri akhirat. Dalam asuransi syariah, ada tolong-menolong sesama peserta. Dalam asuransi syariah, ada sedekah pada anak-anak kita, yang dalam An Nisaa’ ayat 9 kita diminta takut meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan yang lemah.
 
Dalam mekanisme asuransi syariah ini pula ada bagian kecil yang bisa kita nikmati dalam kehidupan dunia ini. Yaitu ketika kita sedang terkena musibah dan dana tolong menolong ini diberikan pada kita sebagai santunan sehingga hal itu dapat meringankan keadaan kita
 
Sungguh tolong-menolong ini yang disukai Allah, karena hal ini juga yang termaktub dalam ayat ini. Maka tolong menolonglah kita dengan nama Allah dan jangan berbuat kerusakan karena Allah tidak mencintai orang yang berbuat kerusakan. Bagaimana Asuransi syariah menjaga diri dari kerusakan? Mekanisme riba, mekanisme judi sangat merusak dan yang mengerikan adalah kerusakannya tidak terlihat jelas saat-saat awal. Pelan-pelan tetapi membuat kita kehilangan segalanya dan di saat itu barulah orang-orang merasakan ketidak-adilan. Asuransi syariah menghindarkan diri dari Maisir, Gharar, dan Riba sehingga ini adalah karunia Allah yang digunakan untuk menjaga keadilan bermuamalah dan menghindarkan diri dari kerusakan.
 
Akhirnya, berasuransi syariah dapat dijalankan dengan mentadabburi ayat-ayat Al Quran yang dengannya tujuan kita adalah untuk menjalankannya karena Allah sehingga kita berharap pahala dari Nya dan mendapatkan negeri akhirat yang kita cari.
 
Allahu a’lam.
 
Andrie Setiawan

BAGAIMANA CARA MEMOTIVASI AGEN ASURANSI JIWA SYARIAH

KENALI PRINSIP-PRINSIPNYA

Sudah lebih dari dua dekade, semangat berekonomi syariah di Indonesia semakin meningkat. Semakin banyak masyarakat Muslim yang mencari tahu tentang eksistensi dan esensi ekonomi syariah. Banyak kini yang sudah memutuskan untuk keluar dari riba dan sebagian besar lainnya sedang berjuang serta berusaha keras untuk keluar darinya.

Pun demikian, para praktisi juga bersungguh-sungguh untuk menegakkan tiang-tiang ekonomi syariah karena 20 tahun adalah waktu yang cukup lama namun sepertinya perjuangan belum boleh usai, nyatanya kontribusi keuangan syariah masih 5.3% (republika.co.id) terhadap ekonomi nasional di akhir tahun 2016.

Mari kita tengok terlebih dahulu persoalan yang masih ada saat ini. Kita tidak membahas tentang permasalah sistemik karena hal tersebut harus diperbaiki melalui sistem. Yang kita bahasa adalah persoalan individu yang harapannya ketika setiap individu praktisi keuangan syariah bangkit semangatnya dan benar akidahnya maka tegaknya ekonomi syariah di Indonesia adalah bukan lagi sekedar wacana.

MOTIVASI berasal dari kata MOTIVATION yang berarti, secara bebas saya mendefinisikannya dengan, MOTIVE for ACTION. Yaitu sebab musabab mengapa seseorang melakukan sesuatu.

 

Dalam sebuah kajian, Maslow mengelompokkan motive dalam sebuah hirarki. Yang paling bawah adalah motif paling dasar, semua orang membutuhkan hal ini. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan badaniyah seperti makan, minum, mandi, tempat tinggal, pakaian, istirahat, dan lainnya yang dibutuhkan badan kita. 

Dan kebutuhan tertinggi adalah menurut Maslow yaitu mengaktualisasikan diri. Kebutuhan orang untuk menerapkan ilmu dan pengetahuannya untuk menentukan cara hidupnya. Penjelasan terbaru, dalam kebutuhan ini termasuk kebutuhan spiritual. Dalam konteks seorang Muslim yaitu menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Islam.

 

PRINSIP MOTIVASI ISLAM

Prinsip atau pilar atau rukun motivasi Islami tentu bukan hanya sekedar nama dan bukan pula sekedar menambahkan kata Islami atau syariah pada prinsip-prinsip motivasi yang telah ada, walaupun bisa saja beberapa prinsip yang ada saat ini sejalan dengan yang Islam miliki.

Merujuk pada kehidupan salafusshaleh (orang-orang shaleh dalam tiga abad pertama setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hijrah), tentu kita semua mahfum (faham) bahwa mereka selalu bersemangat melakukan semua aktivitas karena berharap surga. Mereka juga bergerak melakukan kebaikan karena takut akan siksa neraka.

Anda juga demikian, bukan? Jika Anda tidak seperti itu, maka tulisan ini bukanlah untuk Anda. Silakan tutup halaman ini namun terlebih dahulu share pada yang bisa memanfaatkannya.

(Lihatlah gambar di atas bahwa tujuan kita adalah Jannah/surga.) 

Apakah tidak boleh kita mengharapkan kebaikan di dunia? Boleh. Itu mengapa setiap hari kita meminta pada Allah 

Karenanya kita selalu berharap mendapatkan kebaikan di dunia sebagai modal untuk kebaikan di akhirat. Bagaimana maksudnya ini? Sabar, saya akan ceritakan dalam paragraf berikutnya.

Pada paragraf sebelumnya muncul pertanyaan tentang bagaimana hubungan kebaikan dunia dengan kebaikan akhirat. Setiap muslim akan masuk surga karena rahmat Allah dan rahmatNya diberikan pada kita salah satunya adalah karena kita mengerjakan keshalehan dan menjauhi laranganNya.

Amalan shaleh tersebut juga merupakan tiang-tiang dari agama Islam. Perhatikanlah gambar di atas pada bagian AKTIVITAS.

Haji adalah amalan shaleh yang dikerjakan dengan membutuhkan dua hal disamping niat yang harus dilakukan. Pertama Harta dan kedua Tenaga (kesehatan). Bagaimana tidak, kita berharap kebaikan dunia yaitu dengan harta dan tenaga supaya kita bisa pergi haji, padahal haji mabrur ganjarannya adalah penghapusan dosa. Mintalah pada Allah kekayaan dan mintalah pada Allah kesehatan. Sudah bisa melihat hubungan antara kebaika dunia dengan kebaikan akhirat?

Berzakat dan bersedekah pun membutuhkan harta, semakin banyak hartanya, semakin banyak pula zakat dan sedekah yang dikeluarkan dan semakin banyak juga kaum lemah yang tertolong maka semakin banyak pula kebaikan Anda yang dihitung di sisi Allah.

Sering kali, orang tidak berpuasa dan sholat juga karena alasan tak punya harta. Karena beralasan tak berharta, maka ia bekerja keras di bulan Ramadhan dan meninggalkan puasanya dengan alasan pekerjaannya terlalu berat membutuhkan tenaga karenanya ia tak sanggup jika tak makan siang. Begitu pula karena alasan kekurangan harta, seseorang tidak melakukan sholat.

Lalu bagaimana dapat menegakkan 5 (lima) tiang Islam ketika yang tersisa hanya syahadatain. Dan ini pun terancam batal jika kemiskinannya menyebabkan tidak bersabar dan tetap bersyukur. Karena tidak bersyukur merupakan kekufuran.

Carilah harta, bukan untuk kesenangan dunia, tetapi ketenangan dalam menjalankan ibadah yang nantinya akan mendapatkan kesenangan di akhirat.

Setiap aktivitas disebabkan oleh satu atau beberapa motif dan aktivitas juga berlandaskan pada faktor-faktor mentalitas. Seseorang yang sudah berlatih beladiri tidak ada jaminan bahwa ia menyukai perkelahian walau dalam keadaan membeladiri, saya pernah mendengar dari seorang praktisi beladiri yang mengatakan bahwa orang yang sudah lama berlatih beladiri belum tentu menang melawan orang yang belum pernah berlatih beladiri namun pemberani alias nekat. Keberanian adalah kondisi mental dan didasarkan oleh keyakinan-keyakinan.

Seorang tentara yang menjaga keamanan negara harus memiliki mentalitas baik yang meyakinai bahwa membela negara adalah bagian dari perjuangan mulia dan tinggi.

Bagaimana mungkin, agen asuransi syariah tidak memiliki keyakinan yang baik padalah ia beriman pada Allah, Malaikat, KitabNya, RasuNya, Hari Pembalasan, serta KetentuanQadha dan Qadhar. Maka setiap aktivitas untuk menegakkan tiang-tiang Islam harus didasari dengan keyakinan terhadap rukun iman.

Jika sudah demikian maka tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kekhawatiran tidak dapat rejeki, rejeki diambil orang, dan lain sebagainya karena kita sudah memiliki keyakinan yang baik.

Tapi…

Tapi, bagaimana caranya agar keyakinan ini tetap terjaga?

Seorang pekerja yang sedang diawasi majikannya akan bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan selalu merasa diawasi adalah kunci untuk menjaga keyakinan ini.

Ihsan adalah kita merasa melihat Allah ketika beribadah dan jika kita tidak bisa melihat Allah, Allah tetap melihat kita. Apa-apa saja yang bersifat mubah yang kita kerjakan jika diniatkan karena Allah akan bernilai ibadah dan setiap ibadah yang dilandasi dengan ihsan akan dilakukan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam

 

HIDUP ADALAH PERJALANAN, KAU BISA PILIH DENGAN APA DAN SIAPA KAU BERJALAN

Tujuan umat Islam sangat lah jelas, yaitu mencapai surganya Allah. Layaknya mencapai tujuan, dunia ini hanyalah perjalanan.

Bayangkan bahwa Anda akan menuju, misalnya, Yogyakarta. Salah satu kota favorit saya. Anda bisa memilih apakah berjalan sendiri atau bersama teman. Anda juga bisa memilih menggunakan apa Anda menuju kesana, dengan pesawat, mobil, atau lainnya.

Seringkali, berjalan bersama teman akan mempermudah perjalanan kita atau terkadang malah menyulitkan. Mempermudah jika kita dan teman kita memiliki tujuan yang sama dan terlebih jika teman kita paham betul jalan menuju kesana, sehingga ketika kita hampir salah jalan, dia akan mengingatkan kita.

Seperti halnya perjalanan, hampir semua yang kita jumpai di jalan, kita akan biarkan dan tidak kita bawa. Karena kita tahu bahwa membawa barang-barang yang tidak diperlukan akan menyulitkan perjalanan. Risikonya kita tidak akan sampai ke tujuan. Kita hanya akan membawa perbekalan kita dan membawa barang yang kita jumpai dalam perjalanan hanya yang bermanfaat.

Ilustrasi diatas mencoba menjelaskan bahwa dalam perjalanan menuju surganya Allah, membutuhkan teman yang memiliki tujuan yang sama dan yang memiliki ilmu untuk menuju surga Nya. dengan demikian perjalanan kita akan lebih mudah.

Jika datang pada kita orang yang mengaku memiliki tujuan yang sama tetapi perilakunya tidak menunjukkan ilmu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu, dapat diartikan bahwa orang itu sedang berbohong atau orang itu adalah orang yang tidak memiliki ilmu (jahil).

Dan Anda dapat memilih cara yang sah untuk mencapai surga Nya Allah yaitu cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tulisan ini mengajak Anda, para pembaca untuk memilih teman yang baik dan cara yang sudah dicontohkan. Semoga hal ini dapat mengingatkan saya dan Anda semua agar langkah kita tidak teralihkan oleh urusan-urusan dunia yang tidak bermanfaat bahkan menyulitkan kita menuju surgaNya.

Wallahu a’lam. 

Yang Agen Asuransi Syariah Lakukan pada Nasabahnya (DAKWAH-NAFKAH-SEDEKAH)

Anda seorang praktisi keuangan syariah? Jika Ya, Anda adalah pendakwah. Ya benar, Anda adalah seorang pendakwah. Karena menurut ulama, syariah berarti Apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dari hukum-hukum yang telah dibawa oleh Nabi dari para nabi, baik yang terkait dengan keyakinan, ibadah muamalah, akhlaq dan aturan dalam kehidupan. 

Dalam keuangan syariah, atau secara spesifik adalah asuransi syariah, maka Anda sedang mengajak orang-orang untuk mengikuti Anda ke jalan syariah. Konsekuensinya, Anda pun harus sudah berada di jalan syariah.

“Tapi saya menjadi agen asuransi syariah karena tujuan bisnis dan untuk mendapatkan komisi, lalu bagaimana?”  

Amalan (aktivitas/perbuatan) seseorang akan bergantung pada niatnya dan Anda akan mendapat apa yang Anda niatkan. Seperti yang sudah Rasulullah sabdakan;

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

(Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.)

Ibnu Al Jauzi memiliki konsep menarik bahwa jika dunia dan akhirat dikumpulkan, maka ikutilah akhirat dan dunia akan mengikuti. Tetapi jika Anda mengejar dunia, Anda akan kelelahan dan tidak mendapatkan akhirat.

Seperti ketika Anda kehausan dan Anda meminum segelas air putih, maka haus pun hilang. Keperluan dunia pun terpenuhi. Namun nilainya akan berbeda ketika sebelum minum Anda mengucapkan Bismillah, maka aktivitas minum tersebut menjadi ibadah untuk mencapai akhirat Anda dan dunia pun mengikuti yaitu dengan hilangnya rasa haus.

Ingat, hanya mengejar dunia, sama dengan Anda akan kembali haus dan mencari minum dan haus lagi dan mencari minum lagi dan selanjutnya demikian seperti itu tidak ada habisnya sampai Anda diwafatkan oleh Allah lalu kemudian Anda sadar bahwa Anda belum berbuat apa-apa untuk akhirat Anda, saat itu kesadaran kita sudah tidak berguna. Tetapi dengan meniatkan aktivitas Anda sebagai ibadah dengan membaca Bismillah ketika memulainya, Anda sedang berusaha mengumpulkan apa yang Anda perlukan di akhirat nanti.

Mari kita sepakati bahwa menjadi agen asuransi syariah ini adalah jalan dakwah dan ketika kita sudah sepakat, maka apakah yang kemudian membuat Anda dan saya bersemangat untuk menjalani pekerjaan ini?

 

1.  Dakwah adalah sunnah para nabi.

“Katakanlah (Muhammad)Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf:108)

Dan kita yang berdakwah, kita sedang meniru jalan para nabi. Anda bisa merasakan, paling tidak, sedikit dari yang dulu para nabi lakukan. Dulu, para nabi mengajak kaumnya dan umat manusia untuk bertauhid, hanya mengesakan Allah dan tiada tuhan selain Dia, kini kita hanya mengambil sedikit perannya saja yaitu mengajak orang-orang yang beriman untuk istiqamah (konsisten) menjalankan kehidupan sesuai syariah. Dalam ini adalah untuk memiliki instrumen keuangan yang sesuai syariah sementara diluar sana kita dikepung sistem keuangan ribawi dan yang bertentangan dengan syariah.

 

2. Dakwah adalah pekerjaan paling bergengsi.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat:33)

Siapakah yang lebih baik perkataannya? Mario Teguh? Tung Desem Waringin? Andrie Wongso? Atau, Andrie Setiawan (hehehe)? Tentu Anda ingat bahwa tiga orang pertama diatas dibayar mahal untuk bicara. Dan siapakah yang perkataannya yang lebih baik? ANDA! Ketika Anda menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan baik dan mengatakan bahwa Anda adalah termasuk orang-orang yang beriman. Jika Mario Teguh dan lainnya itu memiliki gengsi dari pekerjaannya, maka pekerjaan Anda jauh lebih bergengsi karena Allah langsung yang akan membayar perbuatan Anda.

 

3. Dakwah memberikan multi bonus untuk Anda.

“Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Jika Anda mengajak orang lain kepada kebaikan dan orang tersebut melaksanakan kebaikan yang Anda sarankan, maka selain Anda mendapatkan pahala dakwah, Anda juga mendapatkan pahala kebaikan yang dilakukan orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Ini yang biasa kita sebut overriding, kan? Berapa overriding yang perusahaan Anda bayar? Allah membayar 100% dari pahala orang yang mengikuti ajakan kebaikan Anda tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Belum lagi jika orang tersebut mengajak orang lain, maka Anda akan mendapat pahala multi dan begitu seterusnya. Karenanya, dakwah jangan sampai hanya terjadi pada nasabah kita tetapi juga kita mendorongnya untuk mendakwahkannya pada orang lainnya.

 

4. Dakwah membuat Anda beruntung (lepas dari kerugian)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al Ashr:1-3

Dalam membawa asuransi syariah, Anda juga menasihati calon nasabah Anda tentang syariah dan tentu menasihatinya dengan cara yang sabar. Akkah akan melepaskan kerugian dari diri Anda.

 

5. Dakwah Anda di backing  oleh Allah.

 “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”  QS. Muhammad:10

Siapa yang tidak bahagia jika backing (pelindung) kita adalah Allah, Tuhan alam semesta. Bahkan terkadang, di backing tentara saja sudah membuat kita merasa aman dan bangga, apalagi ini, tidak tanggung-tanggung yang mem backing Anda adalah Allah.

 

6. Bayaran dakwah terus mengalir walaupun kita telah wafat.

“Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan.” (HR Thabrani)

 Ini mirip seperti royalti yang penghasilan akan tetap mengalir walau Anda sudah meninggal dunia, bedanya adalah bayaran ini bukan mengalir ke ahli waris melainkan kepada Anda sendiri.

 

Ini lah mengapa saya memilih untuk mengundurkan diri dari sebuah perusahaan asuransi jiwa terbesar di Indonesia dan ingin fokus ke dalam pelayanan keuangan/asuransi syariah karena saya menyadari betapa nilainya sangat besar. Saya bukan hanya mendapatkan penghasilan untuk menafkahi istri dan anak-anak tetapi saya juga dapat mengumpulkan pahala-pahala yang Allah dan RasulNya janjikan dari jalan dakwah. Dan Anda tahu, niat ini akan memberi keberkahan pada diri Anda untuk selalu merasa bersyukur dan cukup.

Beberapa dari mereka yang masih terikat dalam urusan dunia saja meragukan bahwa kita akan tetap terus produktif ketika sudah merasa cukup. Mari saya beritahu Anda. Merasa cukup itu bagi diri Anda sendiri, sedangkan mengejar pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal di hari nanti tentu akan terus kita cari. Kita tidak tahu perbuatan (amalan) yang mana yang Allah akan terima, yang kita tahu kita hanya harus berusaha.

Yang kedua, ketika Anda sudah cukup dengan biaya hidup Rp. 50 juta, misalnya. Dan saat ini Anda berpenghasilan Rp. 60 juta, maka kemanakah kelebihan penghasilan Anda sebesar Rp. 10 juta akan Anda belanjakan? Tentu akan Anda salurkan untuk kebaikan, ya, Anda sedekahkan. Apakah itu cukup? Tidak. Anda akan cari lebih banyak untuk memberikan lebih banyak sedekah. Jika kini penghasilan Anda Rp. 70 juta, tentu Anda akan sedekahkan Rp. 20 juta. Apakah sudah cukup? Belum. Penghasilan Anda meningkat lagi menjadi Rp. 80 juta, kemana kelebihan sebesar Rp. 30 juta akan Anda salurkan? Tentu sedekah lagi. Dan seterusnya dan seterusnya, inilah yang dinamakan merasa cukup atau Qana’ah. 

Anda merasa cukup atas nafkah yang Anda gunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan, dan kelebihannya Anda salurkan untuk kebaikan orang-orang.

Bahkan jika saat ini Anda berpenghasilan Rp. 200 juta dan merasa cukup dengan pemenuhan kebutuhan menggunakan dana sebesar Rp. 50 juta, tentu saat ini sebagian besar penghasilan Anda akan Anda sedekahkan. Apakah ini mustahil? Tidak, bagi Anda yang meyakini bahwa Anda saat ini ada di jalan dakwah. Berbeda halnya jika syariah hanya kita jadikan sarana untuk mencari dunia. Walaupun kita menebarkan syariah tetapi kita tetap terjangkiti penyakit cinta dunia dan takut mati, dunia bukan berada dalam genggaman tetapi sudah dimasukkan kedalam hati sehingga sulit sekali ketika kita harus berpisah dengan dunia ini, padahal sebagai praktisi asuransi syariah, pekerjaan kita berdekatan dengan kematian

Terakhir menutup tulisan ini, saya mengingatkan diri sendiri khususnya dan juga Anda semua para pembaca bahkan Anda para nasabah atau calon nasabah asuransi syariah, 

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)

Makna hayatan thoyyibah menurut para ulama pakar tafsir adalah dianugerahi rezeki yang halal, diberi sifat qana’ah (merasa cukup), beriman kepada Allah dengan melakukan ketaatan pada-Nya, kebahagiaan, kehidupan di surga. (rumaysho.com)

 

bacaan tambahan:

– https://rumaysho.com/10831-doa-malaikat-untuk-yang-mencari-nafkah-dan-rajin-sedekah.html

– https://rumaysho.com/2262-6-keutamaan-mencari-nafkah-bagi-suami.html

– https://muslim.or.id/6057-keutamaan-dakwah-ilallah.html

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

 

RIBA (Bagian 4) – Bahaya riba terhadap kehidupan sosial

Tentu para pembaca sudah tahu bahwa ekonomi Islam dibangun diatas 4 (empat) pilar yaitu; Tauhid, Adil, Kebebasan Kehendak, Tanggungjawab. Umat Muslim sadar betul bahwa rezeki adalah Allah yang beri dan dunia serta isinya diciptakan Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia. Karenanya manusia harus terus ingat bahwa semua ini ada karena Allah dan harus digunakan untuk kemaslahatan sesuai dengan perintah Allah.

Karenanya manusia diperintahkan untuk berlaku adil agar tidak ada pihak manapun yang merasa teraniaya atau terzolimi, walaupun kita diberikan kebebasan kehendak dalam menggunakan harta yang kita pegang untuk kebutuhan kita, tetapi tetap saja kita akan dimintai pertanggungjawaban dari mana dan kemana harta kita didapat dan dibelanjakan. Memahami hal ini, maka harta menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk menjalankan kehidupan yang penuh dengan keimanan.

Allah melarang riba karena praktik ini melanggar prinsip keadilan. Tentu Anda sudah dapat mengira ketika keadilan sudah tiada, dan ada pihak yang merasa teraniaya maka terasa sempitlah kehidupan dunia; sengketa, kesenjangan, hasad dan hasut, berselisih, dan akhirnya manusia jauh dari Allah (Tauhid). Dan ini lah yang diinginkan iblis; “dia (iblis) berkata, ‘Rabb ku, oleh karena Engkau telah memutuskan aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al Hijr:39).

Harta adalah karunia Allah yang kita gunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat, sehingga jelas bahwa tujuan kita adalah bukan dunia. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al Qasas:77) maka beruntunglah Anda yang Allah beri karunia kelebihan harta yaitu yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Ini mengapa dalam Islam diperbolehkan mencari rezeki yang banyak untuk digunakan dalam hal seperti ini. Anda yang memiliki mobil mewah dapat memberi tumpangan bagi tetangga-tetangga untuk diajak menuju tempat-tempat kajian ilmu, Anda yang memiliki rumah besar dapat menjadikannya tempat-tempat kajian, Anda yang memiliki uang banyak dapat Anda gunakan untuk membantu terlaksananya kegiatan-kegiatan kajian-kajian ilmu dan inilah harta yang bermanfaat.

Harta adalah “budak” manusia, bukan sebaliknya. Harta harus tunduk pada kehendak manusia bukan sebaliknya, kita, manusia, bekerja siang malam melalaikan hak-hak Allah, sholat lewat, dzikir tak sempat, zakat tak pernah terlihat, seluruh waktu dicurahkan untuk mencari harta. Ketika Anda ditanya, “untuk siapa harta ini?” Anda menjawab, ” Untuk anak dan istri.” Boleh kah yang demikian itu? Mencari harta untuk menafkahi keluarga adalah keharusan tetapi hingga membuat Anda lalai dari hak-hak Allah, itu yang bermasalah. “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al Munafiqun:9).

Dan disaat demikianlah kita sudah menjadi hamba harta, bukan lagi hamba Allah. Terlebih utang ribawi yang Anda harus bayarkan, yang Anda juga tentu sudah tahu bahwa bunga tersebut adalah compounded alias bunga berbunga yang ketika Anda telat membayar maka bunga akan berlipat dan semakin besar sehingga disaat itu Anda akan disibukkan olehnya karenanya semakin sedikitlah waktu untuk mengingat Allah. Anda atau istri Anda akan didatangi preman-preman penagih utang. Anda akan diintimidasi dan dicaci karena hutang tidak dapat terlunasi dan disaat ini lah Anda kehilangan harga diri dan disaat ini pula adalah saat yang paling kritis bagi keimanan Anda, untuk menyelamatkan diri, Anda akan tetap menyembah Allah atau “menyembah” yang lainnya.

Itulah diantara bahaya riba bagi diri sendiri dan keluarga yang nantinya akan berdampak pada sosial Anda. Di saat -saat tersebut menyesali keputusan kita di masa lalu ketika mengambil utang ribawi sepertinya tidak terlalu bermanfaat sebelum masalah pelunasan terselesaikan. Anda akan menyalahkan situasi dan pihak pemakan riba bahwa ini tidak adil.

Benar, Riba memang bertentangan dengan keadilan, karena itulah riba dilarang dalam Al Qur’an. Riba dianggap CURANG dan EKSPLOITATIF karena:

  1. Kreditur mengambil bunga (uang) dari debitur tanpa mau menanggung risiko kerugian. Contohnya dalam utang bisnis, kreditur tidak peduli apakah debitur yang sedang berbisnis sedang mengalami keuntungan atau kerugian, kreditur tetap harus mendapat bunga.
  2. Kreditur tidak bekerja dan mendapatkan uang sedang debitur bekerja keras untuk membayar bunga.
  3. Maka yang memiliki modal (kapital) akan semakin kaya dan yang miskin harus terus bekerja untuk membayar bunga. Ini lah ide kerusakan sistim kapitalisme.

Riba memiliki efek yang sama seperti morfin, seolah terlihat mengobati menghilangkan rasa sakit, namun kemudian Anda akan kesulitan lepas dari jeratannya.

Karenanya saudaraku, BERSABARLAH, jika kau memiliki hajat bersabar dan sholatlah meminta pertolongan Allah, bertakwa dan berserah dirilah pada Allah, insyaa Allah akan diberi jalan keluar, kecukupan dalam hidup, dan kemudahan dalam usaha dan Allah akan melipat gandakan pahala dan menghapuskan dosa-dosa.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At Talaq:2)

“…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …” (QS. At Talaq:3)

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At Talaq:4)

“…, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At Talaq:5)

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya