Header Image - As-Salam Training Consultant

Category Archives

19 Articles

ASURANSI IMAN

credit to www.assalamconsultant.com

credit to www.assalamconsultant.com

Sesungguhnya, segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan dan ampunan-Nya, Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan dari kejahatan amal perbuatan kami, Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa  yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Maha Esa Dia dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan  aku  bersaksi  bahwa  Muhammad  adalah hamba dan Rasul-Nya.

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan kepada keluarganya, dan para sahabatnya, dan orang-orang yang istiqomah mengikutnya hingga hari akhir.

Sebagai praktisi asuransi syariah, kita tak henti-hentinya bersemangat, berteriak, dan berusaha agar setiap orang, termasuk diri sendiri, mendapatkan jaminan keuangan. Itu perbuatan yang mulia. Karena sesungguhnya harta dunia ini bisa menjadi sarana untuk mendapatkan nikmat dan kasih saying Allah kelak di surga.

Namun, sudahkah pula kita berusaha berteriak dengan semangat untuk mendapatkan jaminan bahwa Iman ini tidak akan hilang dan tetap gemilang sampai nanti kita “berpulang” dan kembali pada Yang Maha Penyayang?

Ini bagian dari tugas agen asuransi syariah. Kita memang berbisnis alias bertijaroh, dan utamanya berbisnis dalam syariah adalah kita juga berbisnis dengan Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS As Shaf:10-11)

Sebelum mengasuransikan diri ini, sudahkah kita mengasuransikan Iman kita?

Nah, gimana cara mengasuransikan Iman? Harus bayar premi juga? Siapa penjaminnya? Bisa lapse (=jaminan tidak berlaku karena tidak membayar premi) juga? Lalu apa bentuk pertanggungannya?

Jawabannya adalah, insyaa Allah caranya mudah, dan harus ada yang di”bayarkan” juga, serta penjaminnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul Nya Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan jaminan ini juga dapat hilang ketika keimanan kita menghilang dan tentu pertanggungannya adalah sesuatu yang sangat besar yang manusia belum pernah lihat dan rasakan kenikmatannya karena hanya dipersiapkan bagi orang-orang yang mau “membayar harganya.”

“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS As Shaf:12)

BAGAIMANA MENGASURANSIKAN IMAN?

  1. Ketahuilah besar dan bentuk pertanggungannya.

“Berada dalam jannah kenikmatan.” (QS Al Waqiah:13)

“Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al Waqiah:16-25)

Masih banyak lagi janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tersebar di banyak surat dalam Al Qur’an. Tidak kah kita senang dan yakin dengan janji Allah, Tuhan yang memiliki langit dan bumi serta seluruh isinya? Sedangkan dijanjikan nasabah atau atasan saja kita begitu yakin dan senangnya, apalagi ini adalah janji dari pencipta segala sesuatu.

  1. Bayarlah “premi” nya secara berkala dan rutin tanpa beban dan rasa malas.

Dalam Al Qur’an banyak tersebar ayat bermakna dirikanlah sholat dan tunaikan zakat. Dan ini salah satu dari premi yang harus dibayar dan ini pulalah yang membuat orang-orang munafik malas membayarnya. Allah telah menyiapkan cara agar kita terhindar dari sifat-sifat munafik.

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/ibadah/2012/07/07/19793/keutamaan-mendapati-takbiratul-ihram-imam-selama-40-hari/#sthash.Er8a3XOW.dpuf

Betapa pentingnya sholat berjamaah sehingga harga nya tidak bisa ditandingi dengan uang berapapun. Dalam kajian-kajian tentang perubahan perilakupun angka 40 hari dipercaya menjadi durasi uang cukup untuk menempa diri dan mengganti perilaku lama dengan perilaku baru. Jika kita awalnya berangkat ke masjid dengan bermalas-malasan, setelah rutin selama 30 hari berangkat ke Masjid karena Allah, pasti Allah akan hilangkan sifat kemunafikan dari diri kita. Apa untungnya terhindar dari kemunafikan? Kita akan merasa ringan dalam “membayar premi” asuransi Iman ini.

  1. Carilah tambahan yang memberikan keuntungan lebih.

Kini asuransi tidak lagi berdiri sendiri, dia dikemas dengan manfaat tambahan seperti perlindungan terkait (biaya rumah sakit, kecelakaan, penyakit kritis, dan lainnya) serta manfaat investasi. Begitu pula dalam mencari jaminan Allah dan Rasul Nya, ada manfaat-manfaat tambahan yang bisa dikejar, tentu dengan “Premi” tambahan. Salah satunya adalah MEMBANGUN RUMAH DI SURGA walau kita masih di dunia, bahkan walau saat di dunia ini kita belum memiliki rumah. Berikut adalah amalan tambahan yang dapat memberikan kita jaminan rumah di surga*;

Membangun masjid dengan ikhlas karena Allah

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Membaca surat Al-Ikhlas sepuluh kali

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang membaca qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (surat Al-Ikhlas,) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ahmad, 3: 437. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguat)

Mengerjakan shalat dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang shalat Dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadits ini hasan)

Mengerjakan 12 raka’at shalat rawatib dalam sehari

Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728)

Meninggalkan perdebatan

Meninggalkan dusta

Berakhlak mulia

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Mengucapkan alhamdulillah dan istirja’ (inna ilaihi wa innaa ilaihi raaji’’un) ketika anak kita wafat

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata, “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku di surga, dan namai ia dengan nama baitul hamdi (rumah pujian).” (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Menutup celah dalam shaf shalat

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)

Beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan, ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.” (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

*Sumber: https://rumaysho.com/13072-11-amalan-dapat-jaminan-rumah-di-surga.html

Semoga, sebelum kita benar-benar menerima pertanggungan dari asuransi syariah, kita telah mendapatkan janji dari Allah yaitu kenikmatan di surge yang melimpah ruah.

Wallahu a’lam bishawab,

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

PERSIAPAN RAMADHAN 1437 UNTUK AGEN ASURANSI: OMZET MELESAT DIBULAN PENUH RAHMAT

Puasa-Ramadhan-2015Bisa jadi judul tulisan ini menimbulkan polemik, tapi bukan itu maksud kami. Satu pihak mungkin berpendapat bahwa Ramadhan adalah bulan untuk beristirahat dari kehidupan dunia dan memusatkan pikiran dengan kehidupan akhiratnya, namun pendapat kami bahwa tidaklah seorang muslim berhenti mengejar akhiratnya dan tidak pula seorang muslim meninggalkan kehidupan dunianya. Bagi seorang muslim, setiap hari yang dikerjakannya adalah untuk ambisi akhiratnya.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qasas:77)

Jelas sudah, insyaa Allah, mulai hari ini kita niatkan apa yang kita kerjakan di dunia ini untuk akhirat, Allah akan balas dengan pahala ibadah dan juga janganlah juga kita meninggalkan ibadah-ibadah yang memiliki keutamaan-keutamaan dalam bulan Ramadhan.

Yang para praktisi asuransi syariah harus persiapkan;

1. NIAT: Meniatkan pekerjaan kita sebagai bagian dari mencari imbalan dari Allah dan Dia akan meringankan beban kita. Kita tahu bahwa kita memerlukan, salah satunya, uang untuk menjalankan kehidupan namun seringkali kita kehilangan keyakinan bahwa yang memiliki dunia dan seisinya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tenanglah wahai saudara-saudara, bahwa ketika kita dekat pada-Nya maka yakin lah bahwa Dia tidak akan men sia-siakan kita. Wallahu a’lam.

2. PENGETAHUAN TENTANG ASURANSI SYARIAH: Asuransi syariah bagian dari dakwah bagaimana kita umat manusia menjalankan ekonomi sesuai sunnah dan tanggungjawab kita adalah memahami isi yang kita dakwahkan karena jika Anda benar dalam hal pengetahuan asuransi syariah maka nasabah juga benar karena perantaraan Anda, dan sebaliknya jika Anda salah, begitupula lah nasabah Anda melalui perantaraan Anda. Bagaimana jika Anda baru saja tahu sebagian dan sebagian lainnya belum dikuasai? Sampaikanlah yang Anda tahu. Belajarlah lagi terlebih dulu dan jika waktu mendesak mintalah bantuan orang lain untuk menjelaskannya pada Anda atau nasabah Anda.

3. BERLATIHLAH: Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan 2 Hijriyah dan sebelum terjadinya hari itu, pasukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dipersiapkan. Anda tentu tahu berapa jumlah pasukan kaum muslim dan berapa pasukan kaum Quraisy, yaitu kurang lebih 313 orang melawan 1000 orang, dan pertempuran dimenangkan kaum Muslim. Secara kasat mata tentu kita sepakat bahwa kemenangan ditentukan, salah satunya, oleh persiapan. Dan orang-orang beriman juga tentu sepakat bahwa kemenangan tersebut tidak lain dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Berlatihlah menggunakan pengetahuan mengenai ekonomi dan asuransi syariah yang Anda telah kuasai bersama teman, minta lah dia untuk memberikan pendapat tentang kemampuan Anda.

4. ATUR STRATEGI: Latihan telah dilakukan maka ketahuilah siapa yang akan Anda hadapi, bagaimana kondisi medannya. Apakah pasar asuransi syariah adalah pasar yang banyak orang berebut didalamnya atau sebaliknya, pasar dengan air tenang setenang memancing di danau yang banyak ikannya.

Anda memerlukan data, saudara-saudara;

Berdasarkan data sensus BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010;

  1. Jumlah penduduk Jakarta 9.607.787 jiwa
  2. Jumlah penduduk muslim Jakarta 8.200.796 jiwa
  3. Bapenas menghitung perkiraan laju pertumbuhan penduduk Jakarta 2010-2015 sebesar 1,09% dan 2015-2020 sebesar 0,90%.
  4. Kira-kira penduduk muslim Jakarta di tahun 2016 sekitar 8.735.508 jiwa dengan usia produktif kira-kira 5.135.583 jiwa
  5. Penetrasi pasar asuransi syariah di Indonesia, menurut OJK sekitar 0,075% – 0,08%.
  6. Jadi, secara kasar yang memiliki polis asuransi jiwa syariah di Jakarta baru 6.552 orang.
  7. Kepadatan penduduk muslim di Jakarta 2016 kira-kira 13.155 Jiwa per KM2
  8. Per KM2 kurang lebih baru ada 10 orang yang memiliki asuransi syariah.

Dengan peta ini, Anda dapat mengolah pasar Asuransi Syariah di sekitar tempat tinggal Anda dengan radius hanya 1 KM2.

5. BUAT RENCANA: Silakan Anda buat perencanaan masing-masing dan setelah itu tentu Anda laksanakan dan EVALUASI.

IDE AS-SALAM TRAINING CONSULTANT: Sosialisasi Ekonomi dan Asuransi Syariah di sekitar lingkungan Masjid Anda.

|Disclaimer : Ini adalah merupakan ide yang diikhtiarkan untuk memasyarakatkan/mensosialisasikan pengetahuan dan pemahaman akan keuangan syariah, segala aktivitas yang mengikutinya haruslah seseuai dengan Kaidah Al Qur’an dan Hadits dan yang berhubungan dengan peraturan setempat dimana ide ini dilaksanakan maka harus mengikuti peraturan tersebut yang tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadits. Pengguna ide ini bertanggungjawab penuh atas dampak dari aktivitas yang dilakukan berdasarkan|

  • Bentuklah tim kerja Anda yang terdiri dari berapapun anggotanya. Semakin banyak semakin meriah.
  • Mintalah surat pengantar dari kantor Anda untuk melaksanakan sosialisasi keuangan syariah bagi warga Jakarta yang nantinya akan ditembuskan pada ketua Rukun Warga setempat untuk meminta ijin melakukan aktivitas di lingkungannya. Anda tidak boleh melakukan aktivitas sebelum mendapatkan surat ijin dari ketua lingkungan setempat.
  • Meminta data jumlah dan nomor rumah warga muslim di lingkungan tersebut.
  • Anda bisa melakukan aktivitas ini selama sebulan penuh atau hanya beberapa hari saja untuk kemudian berpindah wilayah. Tentu Anda harus meminta ijin kembali pada ketua lingkungan selanjutnya.

Aktivitas Alternatif 1:

  • Tim yang telah terbentuk tadi dibagi menjadi tim-tim kecil yang masing-masing terdiri dari dua orang, jika ada anggota tim yang wanita maka perhatikan ketentuan tentang mahrom untuk menjauhi berdua-dua dengan yang bukan mahromnya.
  • Setiap tim memegang data dan membagi data-data tersebut agar kunjungan tidak terjadi berulang yang akan mengganggu warga setempat.
  • Mulai aktivitas dengan mengunjungi setiap rumah berdasarkan data yang dimiliki. Mulai dengan penjelasan pentingnya ekonomi syariah.
  • Contoh kisi-kisi sosialisasi
  1. Apa itu ekonomi syariah.
  2. Pentingnya Ekonomi Syariah
  3. Macam-macam lembaga ekonomi syariah; Bank, Investasi, Asuransi.
  4. Lalu Anda dapat melanjutkan dengan pentingnya asuransi syariah.

Aktivitas Alternatif 2:

  • Undang warga untuk berkumpul di ruang pertemuan yang dimiliki, misal: aula pertemuan masjid, untuk dilakukan sosialisasi.
  • Jika ruangan tidak mencukupi, bagilah undangan dalam beberapa hari.

BAGAIMANA MENJAGA AMALAN RAMADHAN sehingga kita tidak disibukkan hanya dengan urusan sosialisasi ekonomi syariah?

  • Mulailah, dipagi hari dan setiap anggota kelompok berkumpul di masjid setempat, dengan sholat sunnah dan membaca Al Qur’an. Sebagian orang dapat menyelesaikan 1 juz Al Quran dalam waktu 1 jam. Dengan demikian Anda akan mengkhatamkan Al Qur’an selama Ramadhan. Sebelum melakukan amalan-amalan Ramadhan di dalam masjid, niatkan lah untuk beri’tikaf.
  • Setelah selesai mengerjakan amalan Ramadhan, keluar dari masjid dan kunjungi rumah-rumah untuk sosialisasi Ekonomi Syariah.
  • Kembalilah ke masjid setiap saat sholat fardu dan laksanakan sholat.
  • Besedekahlah, sehingga walaupun Anda sebagai agen asuransi yang sibuk dengan pekerjaan Anda, namun juga sibuk dengan ibadah yang Anda lakukan.
  • Aktivitas harian dapat diakhiri saat Maghrib (berbuka puasa).
  • Dengan demikian 1 bulan penuh Anda melakukan amalan-amalan Ramadhan den memakmurkan masjid sambil mensosialisasikan keuangan syariah.

SEMOGA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MELINDUNGI KITA SEMUA

Bahan Bacaan

http://www.bappenas.go.id/files/5413/9148/4109/Proyeksi_Penduduk_Indonesia_2010-2035.pdf

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?wid=0000000000&tid=321&fi1=58&fi2=3

http://keuangan.kontan.co.id/news/penetrasi-asuransi-syariah-masih-mini

https://rumaysho.com/1199-berlipatnya-pahala-amalan-di-bulan-ramadhan.html

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

MANUSIA KEBETULAN

cc243-kebetulan-hidupDalam banyak pertanyaan yang kita lontarkan ataupun yang terlontar untuk kita, seringkali jawabannya mengaitkan kata “kebetulan”.

Kebetulan anak saya dua, Pak.

Kebetulan saya ingin memiliki rumah dan mobil, Pak.

Kebetulan saya seorang karyawan, Pak.

Saat memberikan pelatihan pada para leader agen asuransi seorang leadermemulai pertanyaan dengan mengatakan, “Pak Andrie, kebetulan saya seorang leader dan kebetulan ini adalah agen saya (sambil menunjuk orang yang ada disebelahnya)…” Sambil berseloroh saya mengatakan, “Waduh, Anda menjadi leader tidak niat ya, bu?” Dan tentu Anda paham bahwa seorang leader tidak boleh sembarangan merekrut agen. Dengan mengatakan kebetulan, terdengar ia tidak memiliki visi untuk agennya.

Entah bagaimana kata “kebetulan” tercipta, tapi jelas kata ini (sesuai pengamatan saya) hanya digunakan oleh orang-orang yang tidak optimis walaupun mungkin mereka bukan orang-orang yang pesimis. Jika mereka ditanya tentang tujuan hidup, senangnya mereka menjawab “Hidup saya mengalir bagaikan air.”

Jika Anda percaya bahwa Tuhan ada, dan Dia selalu ada setiap detik dalam hidup kita maka tidak ada lagi kejadian-kejadian yang kebetulan. Saya selalu ingat pelajaran dari guru saya bahwa Tuhan menciptakan kita disertai dengan dua hal; Takdir dan Nasib. Lagi-lagi hal ini yang saya munculkan dalam tulisan saya. Makanya, saya tidak membahas keduanya lagi disini dan membiarkan Anda pembaca yang budiman mencarinya dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Saya tidak sepakat dengan ungkapan “hidup yang mengalir seperti air”. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Menempati ruang yang kosong terbentuk seperti wadahnya. Bercampur dengan benda lainnya yang bersih maupun yang kotor. Dan itu artinya kita tidak memiliki pilihan dalam hidup ini. Hanya (terpaksa) mengalir mengikuti keadaan (bukan nasib).

Hidup ini selalu ada pilihan untuk orang-orang optimis. Hidup ini memiliki banyak pilihan unuk diambil. Kita, manusia, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan kita dapat memilih salah satunya, tentu dengan konsekuensi masing-masing dari pilihan yang diambil.

Ditempat kerja, kita dapat memilih menjadi bahagia atau dikendalikan pekerjaan kita, dalam keluarga kita dapat memilih menjadi anggota keluarga yang membahagiakan lainnya daripada menyusahkannya, dalam perjalanan kita dapat memilih santai dan menikmati perjalanan ketimbang ugal-ugalan, dalam masalah kita dapat memilih bersabar dibanding amarah berkobar, dan pilihan demi pilihan telah tersedia bagi orang-orang yang optimis lebih dari orang yang pesimis yang menjadi korban keadaan.

“Saya tidak mau menjadi korban keadaan, bagaimana cara keluar dari situasi ini?”

Caranya sederhana… Hanya perlu mengubah pikiran kita.

“Lalu bagaimana cara mengubah pikiran kita?”

Nah, yang ini sulit caranya…hehehe… Tapi tenang, saya, insyaAllah, tidak akan meninggalkan Anda tanpa solusi, paling tidak saya bisa menitipkan inspirasi untuk berubah.

Masih ingat ini? PIKIRAN > PERKATAAN > PERBUATAN > KEBIASAAN > KARAKTER > NASIB. Pikiran akan menyebabkan perkataan. Perkataan yang berulang-ulang akan menjadi perbuatan. Perbuatan yang berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akan menjadi karakter. Karakter akan menyebabkan nasib kita sendiri. Nasib baik dimulai dari pikiran yang baik dan sebaliknya, pikiran buruk menyebabkan nasib buruk.

Kembali lagi ke pembahasan mengubah pikiran. Bagaimana mengubah pikiran? Ingat, walaupun ini sulit bukan berarti tidak mungkin. Pikiran dapat berubah jika kita mengubah penggunaan kata-kata kita secara terus menerus dan konsisten. Perhatikan ini…

Daripada berkata

“Kebetulan anak saya dua, Pak.”

Lebih baik berkata,

“Alhamdulillah anak saya sudah dua, Pak.”

Menghilangkan kata kebetulan mengajak diri sendiri bertanggungjawab atas konsekuensi yang sudah dipilih. Mengucap syukur akan memberitahu pikiran kita bahwa pilihan yang telah kita buat adalah tepat.

Daripada berkata,

“Kebetulan saya ingin memiliki rumah dan mobil, Pak.”

Lebih baik mengatakan,

“Alhamdulillah, saya sudah memiliki kebutuhan akan rumah dan mobil.”

Kalimat diatas merupakan pilihan daripada tergantung pada keadaan.

Daripada mengatakan,

“Kebetulan saya seorang karyawan, Pak.”

Lebih baik mengatakan,

“Alhamdulillah saya seorang karyawan, Pak.”

Saat kita menghilangkan kata “kebetulan” dan menggantinya dengan kata-kata penuh rasa syukur, maka perasaanpun akan berubah. Jika Anda tidak percaya, mengapa Anda tidak mencobanya agar Anda tahu “rasa”nya.

Semua yang terjadi adalah bukan kebetulan, karena mereka adalah kehendak Tuhan.

 

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwiir: 28-29).

 

Dan itu adalah setelah apa yang Anda usahakan.

 

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
(QS: Ar-Ra’d Ayat: 11)

 

MUSLIM KAYA (?)

JikAllah Makes The Impossible Possiblea orang Muslim kaya, itu memang keren.

Tapi perlu diperhatikan bahwa ia harus muslim (berserah diri pada Allah) dahulu barulah menjadi kaya.

Tidak seharusnya untuk menjadi muslim (berserah diri  pada Allah) seseorang menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Jangan-jangan belum sempat menjadi muslim, kita sudah keburu dipanggil Allah. Bahkan bisa jadi sebelum kaya, kita sudah meninggal.

Jika proses KAYA mendahului menjadi MUSLIM, bisa jadi inilah yg terjadi KAYA MUSLIM (seperti orang muslim), gak bener-bener muslim, gak Kaffah, alias muslim KW.

Dan jika masih ada orang yang berdalih menjadi muslim dapat berbarengan dengan menjadi kaya, menurus saya itu juga tidak memiliki makna, lihatlah ini “Mkuasylaim”. Anda tidak sedang salah baca atau bukan pula salah eja. Kata tersebut adalah pemaksaan proses menjadi Muslim dan Kaya secara bersamaan.

Maka menjadi muslim lah terlebih dahulu barulah menjadi kaya (MUSLIM KAYA), hal ini menjadi lebih bermakna jika prosesnya dibalik (KAYA MUSLIM), terlihat seperti muslim saja tapi sesungguhnya bukan. Dan jangan pula memaksakan prosesnya menjadi MUSLIM dan KAYA secara bersamaan, maka akan menjadi MKUASYLAIM. Tidak ada maknanya.

Menjadi Muslim yang kaya tidak akan risau jika Allah ambil kembali kekayaannya. Menjadi kaya muslim akan galau jika Allah mengambil hartanya. Menjadi MKUASYLAIM, hidupnya pasti stress, hehehe (membacanya saja sudah stress apalagi menjalaninya).

Muslim tidak harus kaya, tetapi muslim kaya bisa membuat hidup lebih bermakna, insyaa Allah.

 

“Sekelompok fakir dari kaum muhajirin mendatangi Nabi SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM, lalu mengadu: beruntunglah para orang kaya, mereka memilik derajat, kehormatan dan kedudukan. Rasul SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM berkata: apa yang kalian maksud. Mereka menjawab: Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka sedekah sedangkan kami tidak bisa bersedekah serta mereka bisa memerdekakan budak sedangkan kami tidak bisa. Rasul SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM bersabda: maukah aku ajarkan sebuah amalan yang bisa mengungguli orang-orang sebelum dan sedudah kalian dan tidak ada yang bisa menandingi derajat kalian kecuali mereka yang berbuat seperti yang kalian amalkan. Mereka menjawab; baiklah, ya Rasulullah. Rasul bersabda: bacalah tasbih, takbir dan tahmid setiap selesai shalat masing-masing sebanyak 33 kali. Abu Shalih berkata: Kemudian orang-orang miskin itu kembali menemui Rasul SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM dan mengadu: ‘Orang-orang kaya telah mendengar hal itu dan mereka juga melakukan hal yang sama sebagaimana yang kami perbuat. Rasul SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM bersabda: Itulah kelebihan yang deberikan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA kepada siapa yang dikehendaki.” (H.R Muslim)

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya