Header Image - As-Salam Training Consultant

Category Archives

22 Articles

MUAMALAH SALAH SATU KUNCI SURGA

Orang beriman merindukan surga dan orang tak beriman takut meninggalkan dunia. Jika saja kita tahu bahwa dosa-dosa yang selama ini sudah diampuni dan kita bersih dari dosa, tentu kita akan berharap untuk segera berjumpa dengan Nya. Karena surga adalah isinya hanya kenikmatan dan tidak ada lagi kesulitan. Orang-orang yang tidak beriman takut mati karena merasa dunia adalah kenikmatan yang besar.

Sebelum masuk surga, kita harus melalui hari perhitungan. Perhitungan aktivitas kita selama di dunia. Ada dua yang akan di perhitungkan.

Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” (HR. An-Nasa’i no. 3991. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

dan penjelasan untuk hadits ini dari An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu yaitu;

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah’ menunjukkan pentingnya masalah darah. Sehingga hal itu merupakan perkara yang diputuskan pertama kali di antara manusia pada hari kiamat. Hal ini disebabkan karena agungnya masalah ini dan besarnya bahayanya.

Hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits terkenal di dalam As-Sunan, ‘Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat’, karena hadits yang ke dua ini berkaitan dengan urusan yang terjadi antara seorang hamba dan Allah Ta’ala. Adapun hadits ini berkaitan dengan urusan yang terjadi di antara sesama manusia.” (Al-MInhaaj Syarh Shahih Muslim, 1/167).

Betapa pentingnya urusan yang terjadi diantara sesama manusia yang bisa memasukkan kita kedalam surga atau sebaliknya menjerumuskan kedalam neraka.

Maka berhati-hatilah dalam urusan ini karena sering kali urusan ini terabaikan. Orang mengira bahwa agama hanyalah urusan antara hamba dengan Allah saja. Mereka tidak resah ketika mereka menyakiti saudaranya, mereka tidak gelisah ketika saudaranya hidup susah. Berhati-hatilah dalam urusan dunia.

Wallahu a’alam. 

 

 

Wahai Agen Asuransi Syariah, Masih Kau Pakai Cara-Cara Konvensional?

 

Memerhatikan media sosial, saya berkawan dengan agen-agen asuransi jiwa syariah dan saya mendapatkan infografik ini dari orang-orang tersebut. Sepintas infografik ini menceritakan sesuai fakta tetapi, bagi saya, tanpa disadari hal ini merupakan pendangkalan akidah.

Apa yang terpikirkan oleh Anda ketika melihat dan membaca infografik ini? TAKUT PUNYA ANAK?

Ketika Anda merasa takut, jelaslah bahwa Anda sedang meragukan Allah. Bahkan binatang melatapun, Allah cukupkan rezekinya, apalagi dengan kita yang Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tin: 4)

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyukai umatnya dalam jumlah banyak,

“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]

Tapi kan gambar-gambar itu bisa menjadi rambu supaya kita mempersiapkan diri untuk anak-anak kita nanti?!

 

Betul! Ayo kita hitung menurut apa yang dikatakan infografik tersebut.

Jika Anak Anda lahir tahun 2017 maka Anda harus mengeluarkan biaya membesarkan anak sebesar Rp. 3,05 M dan jika Anda menambah anak ditahun 2018, Anda harus mempersiapkan dana sebesar Rp. 3,17 M.

Untuk anak pertama, jika biaya hidup tahunan naik sebesar 5% (cek data inflasi http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/data/Default.aspx) selama 21 tahun, Maka tahun pertama Anda akan mengeluarkan biaya Rp. 85,4 juta dan bertambah 5% setiap tahunnya, artinya juga setiap bulan rata-rata Anda akan mengeluarkan biaya Rp 7,1 juta untuk anak pertama.

Untuk anak kedua, Anda harus mengeluarkan kira-kira Rp. 6,8 juta setiap bulan ditahun pertama jika Anda mulai mempersiapkannya sejak hari ini selama 22 tahun kedepan dan biaya ini meningkat sebesar 5% pertahun.

LIHAT jumlahnya, sebulan Anda harus mengeluarkan sekitar Rp. 14 juta. Trus, jika penghasilan Anda saat ini adalah UMR yang kira-kira Rp 3,6 juta apakah Anda bisa memiliki anak? Mikir! Gak mungkin kan? Lalu berapa penghasilan yang harus Anda miliki? Jika biaya kebutuhan Anak dialokasikan sebesar 14% dan biaya hidup lainnya sekitar 56%, serta biaya menabung, investasi, asuransi, bayar utang sebesar 30% maka penghasilan ideal untuk bisa memiliki 2 orang anak adalah Rp. 100 juta.

Ok, berapa lama lagi Anda memiliki penghasilan Rp. 100 juta jika menjalani pekerjaan yang ada dengan kenaikan penghasilan kira-kira 10%? 34.88 tahun dan saat itu Anda sudah melewati masa pensiun artinya sudah tidak berpenghasilan, dan itu juga berarti tidak mungkin Anda memiliki anak.

Tapi kan mereka bisa menjadi agen asuransi yang dalam 5 tahun penghasilan mereka bisa menjadi Rp. 100 juta.

Ayo, coba jujur! Berapa orang yang berpenghasilan Rp. 100 juta perbulan  di perusahaan asuransi tempat Anda bekerja? Banyak? Jangan tertipu dengan jumlahnya tetapi berapa persen dari total jumlah seluruh agen. Di sebuah perusahaan asuransi jiwa yang sangat besar di Indonesia yang katakan lah mungkin ada 1000 orang yang berpenghasilan Rp. 100 juta, tetapi dari jumlah keseluruhan 250.000 agen maka jumlahnya hanya 0,4%. Bagaimana jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja di Indonesia?  

Masihkan Anda mengatakan hal ini menjadi rambu untuk diperhatikan dalam mempersiapkan biaya hidup anak Anda? 

Sadarlah wahai agen asuransi syariah, jangan Anda takut-takuti nasabah Anda karena ini tidak halal bagi kita.

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (Shahih Sunan Abi Dawud)

Yang kedua, Anda sedang mengajak banyak orang untuk tidak meyakini bahwa Allah lah yang memberikan rezeki dan Allah lah yang mencukupkan rezeki kita.

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada ilah (sesembahan yang berhak) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir: 3).

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah simpanannya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al Hijr: 21).

 

“Berhentilah menggunakan cara-cara konvensional padahal Anda adalah seorang agen asuransi syariah.”

BERAPA UANG PERTANGGUNGAN IDEAL ASURANSI JIWA ANDA?

Uang Pertanggungan adalah istilah dalam asuransi yang secara sederhana dapat diartikan sebagai santunan ketika tertanggung mengalami kemalangan atau musibah yaitu ketika tertanggung meninggal dunia. Kami tetap menegaskan gunakanlah asuransi jiwa syariah.

Bagi praktisi pemula, muncul dalam pikiran pertanyaan “Berapa jumlah uang pertanggungan yang sesuai?” Jawabannya adalah tergantung kebutuhan dan tergantung pendekatan yang digunakan.

 

Menggunakan pendekatan yang LIMRA miliki bahwa uang pertanggungan paling tidak sebesar 10 sampai dengan 15 kali pengeluaran tahunan, ada pula yang menghitung uang pertanggungan hanya untuk melunasi utang ketika tertanggung meninggal, dan ada pula yang menghitung semua kebutuhan, yaitu kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, melunasi utang, bahkan ada pula yang memikirkan agar bisa mendapat penghasilan dari investasi atas uang pertanggungan.

 

Pendekatan yang kami gunakan.

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad, ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga- berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat. Sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan 2/3 dari harta itu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau separuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, “Sepertiga itu banyak (atau cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya engkau belum akan berpisah. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah, sehingga akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, mudah-mudahan sahabat-sahabatku dapat melanjutkan hijrah mereka dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat mereka semula. Namun, yang kasihan (merugi) adalah Sa’ad bin Khaulah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyayangkan ia meninggal di Makkah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628).

 

Apa yang kami sarankan? 

Dari hadits di atas, kami menyarankan untuk mempersiapkan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan dengan tujuan menghindarkan diri mereka dari meminta-minta sepeninggal kita. Tentu ini sesuai dengan batas kemampuan suami (pencari nafkah) dan bukan dipaksakan seperti yang banyak agen asuransi sarankan.

Apa keutamaan dari menafkahi keluarga? 

Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari)

Menafkahi keluarga merupakan sedekah terbaik sehingga dengan keutamaan ini, layak bagi kita untuk meninggalkan nafkah bagi keluarga sesuai dengan kemampuan kita. Bukan untuk memanjakan keluarga dan bukan pula untuk memberikan kemewahan bagi anak-anak, tetapi untuk mencari keridhoan Allah.

Kebutuhan keluarga biasanya dipenuhi dari penghasilan kepala keluarga dan idealnya ketika kepala keluarga tidak ada, maka nafkah tersebut tetap terus ada. Memang, ketika pencari nafkah telah tiada, tentu kebutuhan bulanan tidak lagi sebesar biasanya karena ada biaya-biaya yang dulu timbul karena keberadaan si pencari nafkah, misal: biaya transportasi ke kantor, biaya makan siang, biaya telekomunikasi, dan biaya lain-lain. Paling tidak, saran kami, kira-kira keluarga masih dapat memenuhi kebutuhan hariannya dengan 60% sampai dengan 70% penghasilan.

Lalu bagaimana menghitung kebutuhan uang pertanggungan? Ada dua pendekatan. Pertama, ketika uang pertanggungan diterima, ahli waris menginvestasikan uangnya sambil dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ahli waris dapat mengambil dana dari kantong investasi untuk kebutuhan sehari-hari dengan periode satu tahun sekali.

Atau pendekatan kedua, ahli waris tidak perlu repot menginvestasikan kembali, cukum simpan dalam tabungan biasa, kami sarankan investasi dan tabungan syariah, yang dapat diambil dengan mudah dan cepat.

Kami sediakan aplikasi bagi Anda agar mudah.

  

1.  Masukkan penghasilan bulanan Anda pada kolom penghasilan bulanan.

2.  Scroll persentase ke kanan atau kiri untuk mendapatkan jumlah persentase yang tepat atas penghasilan bulanan, yaitu biaya hidup yang dibutuhkan ahli waris jika pencari nafkah telah tiada.

3. Masukkan usia anak termuda/terkecil dengan harapan uang pertanggungan ini akan bertahan hingga anak termuda menjadi mandiri.

4. Isikan usia harapan hidup dengan batas usia pemanfaatan uang pertanggungan, setelah usia tersebut diperkirakan uang pertanggungan telah habis terpakai dan jika usia tersebut adalah periode anak mandiri, maka anak tersebut diharapkan sudah bisa mencari nafkah untuk dirinya dan membantu keluarganya.

5. Isi lah kolom asumsi invlasi dengan angka inflasi rata-rata untuk memperkirakan kenaikan biaya hidup. (Tanyakan ahli asuransi jiwa syariah, tanyakan hanya pada ahli nya)

6. Isi kan dengan asumsi tingkat pengembalian investasi atas dana uang pertanggungan yang diterima. (Tanyakan ahli asuransi jiwa syariah, tanyakan hanya pada ahli nya)

 

7.  Klik tombol yang berada diatas “Simulasi dengan Investasi” atau “Simulasi tanpa Investas” maka Anda akan mendapati halaman hasil. 

8. Anda akan diperlihatkan berapa uang pertanggungan yang dibutuhkan berdasarkan metode perhitungan yang Anda gunakan.

9. Anda juga akan diperlihatkan grafik dengan memainkan tombol “next” dan “previous” untuk melihat kronologis penggunaan uang pertanggungan Anda.

 

10. Atau Anda juga dapat melihat tabel yang berisi informasi kronologis penggunaan uang pertanggungan Anda. Untuk mendapatkan aplikasi berbasis Ms. Excel ini silakan klik tautan Download ini.

 

Semoga Bermanfaat.

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

RIBA (Bagian 5) – Salah Satu Pilar Sistim Keuangan Setan

Dalam tulisan lalu kita sudah membahas bahaya riba terhadap kehidupan sosial. Dan tadi pagi, sepulang mengantar anak saya (penulis) ke sekolah, bahaya itu pun ditampakkan dihadapan saya. Pernahkah Anda memikirkan kenapa beberapa tahun terakhir ini jalanan macet semakin menjadi-jadi? Apa penyebabnya? Kendaraan motor dan mobil? Iyak bener. Dapatkah Anda memikirkan lebih dalam lagi? Karena produksi kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat meningkat? Betul. Dapatkah Anda memikirkan lebih dalam lagi? Karena permintaan kendaraan meningkat? Dapatkah Anda memikirkannya lebih dalam lagi? Karena kebutuhan akan kendaraan meningkat? Dapatkah Anda memikirkannya lebih dalam lagi? Karena ada kemudahan dalam membeli kendaraan? Yak betul, kredit. Cicilan dengan bunga, lagi-lagi riba.

Dan riba ini lah yang seolah-olah menciptakan kebutuhan akan kendaraan.

Yang udah punya sepeda, pingin punya motor. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Yang udah punya motor satu pingin punya dua, buat istrinya ke pasar. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. Biar istri kagak punya SIM yang penting roda motor bisa gelinding.

Yang udah punya dua, pingin punya  tiga, buat anaknya yang masih SMP ke sekolah. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Yang udah punya motor, pingin punya mobil. Biar kalo jalan-jalan bisa sekeluarga, karena anak udah dua. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Udah punya mobil buat sekeluarga ternyata kakek dan nenek nya anak-anak belom bisa terangkut. Ganti mobil yang gedean. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Udah punya mobil yang gedean ternyata istri pingin ikutan nyetir biar kalo ke pasar atau nganter anak yang kecil ke sekolah gak kehujanan. Tambah, beli lagi mobil yang kecilan. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Apakah ini yang terjadi pada Anda? Seolah-olah kebutuhan itu tercipta secara alamiah tetapi sebetulnya yang terjadi adalah manipulasi pikiran (baca: syahwat) Selalu punya keinginan lebih dan lebih lagi. 

Ketika kendaraan itu keluar semua dari rumah dalam waktu bersamaan, Anda bisa bayangkan apa yang terjadi? MACET!

Apakah masalahnya hanya macet? TIDAK.

Gambar adalah ilustrasi kemacetan

Apakah halal membawa kendaraan tanpa memiliki Surat Ijin Mengendara (SIM)? HARAM! Setelah kita melakukan transaksi membeli motor dengan cara yang batil (dengan riba), jelas bahwa kebatilan lainnya akan mengikuti. Yaitu mengendara tampa SIM sudah menjadi satu hal yang biasa bagi Anda. Ingatlah bahwa seorang muslim terikat dengan peraturan (kesepakatan). Anda tahu peraturannya bahwa mengendarai motor harus memiliki SIM, lalu mengapa kita dengan santai melanggarnya? Karena kita memulai dengan cara yang haram ketika membeli motor tersebut.

Anak Anda yang masih SMP mengendarai motor, apakah memiliki SIM? Sudah pasti tidak, kan? Apakah mengenakan pelindung standar seperti helm? Sebagian besar tidak. Apakah mengendarai kendaraan tersebut dengan santun mengikuti peraturan dan etika di perjalanan? Kebanyakan tidak? Mengapa hal itu terjadi? Karena hal yang bahaya yang lebih besar sudah kita abaikan ketika memulai membeli kendaraan tersebut.

Tentu Anda tahu apa yang biasa terjadi dalam setiap kemacetan. Apakah yang keluar dari mulut orang-orang adalah dzikir mengingat Allah? Seperti misalnya, Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu AkbarLaa hawla wa laa quwwata illa billah? TIDAK. Yang keluar dari mulutnya adalah omongan yang tidak bermanfaat bahkan tak jarang mengumpat, menghina, mencaci, dan mencela.

Apakah orang-orang yang mengalami kemacetan kemudian bersabar mengantri seseuai dengan jalur dan jalannya? TIDAK, mereka mengambil jalur yang berlawanan dan mengambil jalan orang lain sehingga makin memperparah keadaan. Kezaliman-kezaliman sambung-menyambung terjadi, mengapa? Karena kita sudah memulai memiliki kendaraan tersebut dengan kezaliman terhadap diri sendiri.

Bahkan tadi pagi, seorang anak SMP di atas motornya berusaha menyerobot memotong antrian dengan cara menggeber-geber gas motornya yang membuat  seorang bapak marah karena jalurnya terpotong dan terhambat. Lalu, tahukah Anda apa yang terjadi? Anak itu menoleh dengan mata membelalak ke arah si bapak kemudian berkata, “Udah terlambat (nih) pak!” Subhanallah, beginikah adab seorang pemuda kepada orang yang lebih tua yang diajarkan Islam? Saat kemacetan terjadi, banyak orang berkerumun dengan kendaraannya yang sebagian besarnya pasti beragama Islam (tertulis di KTPnya), lalu kemana semangat kebaikan dan semangat berjamaah, kemana semangat memuliakan saudaranya sendiri, kemana kesabaran, kemana adab? Ini semua dipicu oleh RIBA dalam kemudahan memiliki kendaraan. Setan benar-benar telah berhasil mengacaukan umat Islam di Indonesia.

 

SALAH SATU PILAR SETAN DALAM EKONOMI ADALAH RIBA

Riba merupakan satu sistim pencurian dan perampokan yang dilegalkan. Bagaimana itu bisa terjadi? Bayangkan ini, saya adalah sebuah bank sentral yang berhak mencetak uang, dan Anda adalah warga biasa yang tidak berhak mencetak uang. Katakanlah kemudian, saya mencetak uang pecahan KRUT 100.000 (KRUT = anggap saja ini mata uang yang saya cetak, seperti RP, ataupun USD) sebanyak 1000 lembar. Total nominal uang yang saya cetak adalah KRUT 100.000 x 1000 lembar = KRUT 100.000.000.

Lalu saya pinjamkan pada Anda semuanya dengan jaminan rumah Anda, dan Anda harus membayar bunganya sebesar 10% per tahun. Apakah Anda sudah lihat permasalahannya? Saya sedang merampok rumah Anda.

Berapa yang harus Anda kembalikan ke saya tahun depan? KRUT 100.000.000 + KRUT 10.000.000 = KRUT 110.000.000. Berapa lembar yang Anda harus kembalikan pada saya? 1100 lembar. Berapa lembar yang saya pinjamkan? 1000 lembar. Ada bunga sebanyak 100 lembar yang harus dibayarkan pada saya. Bagaimana Anda dapat mengembalikan itu pada saya padahal Anda tidak memiliki hak untuk mencetak uang sendiri? ANDA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBAYAR UTANG ANDA dan saya mendapatkan rumah Anda. Modal saya hanya kertas yang dicetak dengan gambar dan meyakinkan Anda bahwa uang saya bernilai (jika tidak di dukung dengan aset, secara intrinsik ini hanya sekedar kertas), lalu saya mendapatkan rumah Anda.

INILAH PILAR SETAN DALAM EKONOMI yang akan membuat kita saling menzalimi. Mungkin Anda bertanya bahwa ilustrasi diatas terlalu sederhana dan berbeda dengan kondisi sebenarnya bahwa yang kredit kan banyak dan uang Anda untuk membayar bunga bisa didapat dari bekerja.

Jika Anda memahami prinsip sederhananya, maka insyaa Allah Anda akan memahami konsep luasnya. Jika bukan Anda yang disita asetnya, maka akan ada orang lain yang disita asetnya.

“TAPI ITU KAN ORANG LAIN, YANG PENTING BUKAN SAYA!”

Disitulah setan telah berhasil membuat manusia menjadi egois dan memikirkan diri sendiri, tidak lagi mencintai saudaranya dan dari pintu itu setan akan bermain dan dengan mudah memecah belah sampai tahap selanjutnya.

Nauzubillahi min zalik.

 

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

RIBA (Bagian 4) – Bahaya riba terhadap kehidupan sosial

Tentu para pembaca sudah tahu bahwa ekonomi Islam dibangun diatas 4 (empat) pilar yaitu; Tauhid, Adil, Kebebasan Kehendak, Tanggungjawab. Umat Muslim sadar betul bahwa rezeki adalah Allah yang beri dan dunia serta isinya diciptakan Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia. Karenanya manusia harus terus ingat bahwa semua ini ada karena Allah dan harus digunakan untuk kemaslahatan sesuai dengan perintah Allah.

Karenanya manusia diperintahkan untuk berlaku adil agar tidak ada pihak manapun yang merasa teraniaya atau terzolimi, walaupun kita diberikan kebebasan kehendak dalam menggunakan harta yang kita pegang untuk kebutuhan kita, tetapi tetap saja kita akan dimintai pertanggungjawaban dari mana dan kemana harta kita didapat dan dibelanjakan. Memahami hal ini, maka harta menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk menjalankan kehidupan yang penuh dengan keimanan.

Allah melarang riba karena praktik ini melanggar prinsip keadilan. Tentu Anda sudah dapat mengira ketika keadilan sudah tiada, dan ada pihak yang merasa teraniaya maka terasa sempitlah kehidupan dunia; sengketa, kesenjangan, hasad dan hasut, berselisih, dan akhirnya manusia jauh dari Allah (Tauhid). Dan ini lah yang diinginkan iblis; “dia (iblis) berkata, ‘Rabb ku, oleh karena Engkau telah memutuskan aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al Hijr:39).

Harta adalah karunia Allah yang kita gunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat, sehingga jelas bahwa tujuan kita adalah bukan dunia. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al Qasas:77) maka beruntunglah Anda yang Allah beri karunia kelebihan harta yaitu yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Ini mengapa dalam Islam diperbolehkan mencari rezeki yang banyak untuk digunakan dalam hal seperti ini. Anda yang memiliki mobil mewah dapat memberi tumpangan bagi tetangga-tetangga untuk diajak menuju tempat-tempat kajian ilmu, Anda yang memiliki rumah besar dapat menjadikannya tempat-tempat kajian, Anda yang memiliki uang banyak dapat Anda gunakan untuk membantu terlaksananya kegiatan-kegiatan kajian-kajian ilmu dan inilah harta yang bermanfaat.

Harta adalah “budak” manusia, bukan sebaliknya. Harta harus tunduk pada kehendak manusia bukan sebaliknya, kita, manusia, bekerja siang malam melalaikan hak-hak Allah, sholat lewat, dzikir tak sempat, zakat tak pernah terlihat, seluruh waktu dicurahkan untuk mencari harta. Ketika Anda ditanya, “untuk siapa harta ini?” Anda menjawab, ” Untuk anak dan istri.” Boleh kah yang demikian itu? Mencari harta untuk menafkahi keluarga adalah keharusan tetapi hingga membuat Anda lalai dari hak-hak Allah, itu yang bermasalah. “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al Munafiqun:9).

Dan disaat demikianlah kita sudah menjadi hamba harta, bukan lagi hamba Allah. Terlebih utang ribawi yang Anda harus bayarkan, yang Anda juga tentu sudah tahu bahwa bunga tersebut adalah compounded alias bunga berbunga yang ketika Anda telat membayar maka bunga akan berlipat dan semakin besar sehingga disaat itu Anda akan disibukkan olehnya karenanya semakin sedikitlah waktu untuk mengingat Allah. Anda atau istri Anda akan didatangi preman-preman penagih utang. Anda akan diintimidasi dan dicaci karena hutang tidak dapat terlunasi dan disaat ini lah Anda kehilangan harga diri dan disaat ini pula adalah saat yang paling kritis bagi keimanan Anda, untuk menyelamatkan diri, Anda akan tetap menyembah Allah atau “menyembah” yang lainnya.

Itulah diantara bahaya riba bagi diri sendiri dan keluarga yang nantinya akan berdampak pada sosial Anda. Di saat -saat tersebut menyesali keputusan kita di masa lalu ketika mengambil utang ribawi sepertinya tidak terlalu bermanfaat sebelum masalah pelunasan terselesaikan. Anda akan menyalahkan situasi dan pihak pemakan riba bahwa ini tidak adil.

Benar, Riba memang bertentangan dengan keadilan, karena itulah riba dilarang dalam Al Qur’an. Riba dianggap CURANG dan EKSPLOITATIF karena:

  1. Kreditur mengambil bunga (uang) dari debitur tanpa mau menanggung risiko kerugian. Contohnya dalam utang bisnis, kreditur tidak peduli apakah debitur yang sedang berbisnis sedang mengalami keuntungan atau kerugian, kreditur tetap harus mendapat bunga.
  2. Kreditur tidak bekerja dan mendapatkan uang sedang debitur bekerja keras untuk membayar bunga.
  3. Maka yang memiliki modal (kapital) akan semakin kaya dan yang miskin harus terus bekerja untuk membayar bunga. Ini lah ide kerusakan sistim kapitalisme.

Riba memiliki efek yang sama seperti morfin, seolah terlihat mengobati menghilangkan rasa sakit, namun kemudian Anda akan kesulitan lepas dari jeratannya.

Karenanya saudaraku, BERSABARLAH, jika kau memiliki hajat bersabar dan sholatlah meminta pertolongan Allah, bertakwa dan berserah dirilah pada Allah, insyaa Allah akan diberi jalan keluar, kecukupan dalam hidup, dan kemudahan dalam usaha dan Allah akan melipat gandakan pahala dan menghapuskan dosa-dosa.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At Talaq:2)

“…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …” (QS. At Talaq:3)

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At Talaq:4)

“…, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At Talaq:5)

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya