Header Image - As-Salam Training Consultant

Category Archives

22 Articles

Wahai Agen Asuransi Syariah, Masih Kau Pakai Cara-Cara Konvensional?

 

Memerhatikan media sosial, saya berkawan dengan agen-agen asuransi jiwa syariah dan saya mendapatkan infografik ini dari orang-orang tersebut. Sepintas infografik ini menceritakan sesuai fakta tetapi, bagi saya, tanpa disadari hal ini merupakan pendangkalan akidah.

Apa yang terpikirkan oleh Anda ketika melihat dan membaca infografik ini? TAKUT PUNYA ANAK?

Ketika Anda merasa takut, jelaslah bahwa Anda sedang meragukan Allah. Bahkan binatang melatapun, Allah cukupkan rezekinya, apalagi dengan kita yang Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tin: 4)

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyukai umatnya dalam jumlah banyak,

“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]

Tapi kan gambar-gambar itu bisa menjadi rambu supaya kita mempersiapkan diri untuk anak-anak kita nanti?!

 

Betul! Ayo kita hitung menurut apa yang dikatakan infografik tersebut.

Jika Anak Anda lahir tahun 2017 maka Anda harus mengeluarkan biaya membesarkan anak sebesar Rp. 3,05 M dan jika Anda menambah anak ditahun 2018, Anda harus mempersiapkan dana sebesar Rp. 3,17 M.

Untuk anak pertama, jika biaya hidup tahunan naik sebesar 5% (cek data inflasi http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/data/Default.aspx) selama 21 tahun, Maka tahun pertama Anda akan mengeluarkan biaya Rp. 85,4 juta dan bertambah 5% setiap tahunnya, artinya juga setiap bulan rata-rata Anda akan mengeluarkan biaya Rp 7,1 juta untuk anak pertama.

Untuk anak kedua, Anda harus mengeluarkan kira-kira Rp. 6,8 juta setiap bulan ditahun pertama jika Anda mulai mempersiapkannya sejak hari ini selama 22 tahun kedepan dan biaya ini meningkat sebesar 5% pertahun.

LIHAT jumlahnya, sebulan Anda harus mengeluarkan sekitar Rp. 14 juta. Trus, jika penghasilan Anda saat ini adalah UMR yang kira-kira Rp 3,6 juta apakah Anda bisa memiliki anak? Mikir! Gak mungkin kan? Lalu berapa penghasilan yang harus Anda miliki? Jika biaya kebutuhan Anak dialokasikan sebesar 14% dan biaya hidup lainnya sekitar 56%, serta biaya menabung, investasi, asuransi, bayar utang sebesar 30% maka penghasilan ideal untuk bisa memiliki 2 orang anak adalah Rp. 100 juta.

Ok, berapa lama lagi Anda memiliki penghasilan Rp. 100 juta jika menjalani pekerjaan yang ada dengan kenaikan penghasilan kira-kira 10%? 34.88 tahun dan saat itu Anda sudah melewati masa pensiun artinya sudah tidak berpenghasilan, dan itu juga berarti tidak mungkin Anda memiliki anak.

Tapi kan mereka bisa menjadi agen asuransi yang dalam 5 tahun penghasilan mereka bisa menjadi Rp. 100 juta.

Ayo, coba jujur! Berapa orang yang berpenghasilan Rp. 100 juta perbulan  di perusahaan asuransi tempat Anda bekerja? Banyak? Jangan tertipu dengan jumlahnya tetapi berapa persen dari total jumlah seluruh agen. Di sebuah perusahaan asuransi jiwa yang sangat besar di Indonesia yang katakan lah mungkin ada 1000 orang yang berpenghasilan Rp. 100 juta, tetapi dari jumlah keseluruhan 250.000 agen maka jumlahnya hanya 0,4%. Bagaimana jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja di Indonesia?  

Masihkan Anda mengatakan hal ini menjadi rambu untuk diperhatikan dalam mempersiapkan biaya hidup anak Anda? 

Sadarlah wahai agen asuransi syariah, jangan Anda takut-takuti nasabah Anda karena ini tidak halal bagi kita.

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (Shahih Sunan Abi Dawud)

Yang kedua, Anda sedang mengajak banyak orang untuk tidak meyakini bahwa Allah lah yang memberikan rezeki dan Allah lah yang mencukupkan rezeki kita.

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada ilah (sesembahan yang berhak) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir: 3).

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah simpanannya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al Hijr: 21).

 

“Berhentilah menggunakan cara-cara konvensional padahal Anda adalah seorang agen asuransi syariah.”

Menjadi Agen Syariah, Tapi Belum Kaya Juga?

 

Setiap orang memerlukan harta untuk menopang kehidupannya. Tidak dipungkiri, makanan harus dibeli, pakaian pun demikian, juga tempat tinggal membutuhkan dana untuk dibeli atau paling tidak sewa. Karenanya kita perlu bekerja untuk mendapatkan bagian dari rezeki ini, yaitu harta.

Pertanyaannya adalah apakah setiap orang butuh kaya?

Jika jawabannya YA, lanjut jawab pertanyaan berikutnya, untuk apa kekayaan itu?

Bagaimana cara mendapatkannya? Dengan cara halal saja atau halal dan haram semua disikat?

Untuk dibelanjakan kemana kekayaan Anda ini?

Lalu ketika Anda meninggal dan banyak harta yg diwariskan, apakah Anda tahu bahwa Anda juga harus mempertanggungjawabkan harta itu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hanya untuk yang telah meyakini betul hukum Allah. Bagi mereka yang masih sering melanggar ketentuan Allah walau penampilannya menyerupai agen syariah maka mereka membutuhkan pertanyaan tambahan tentang keimanan sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas.

Jika Anda menjawab sesuai dengan ketentuan syariat dan Anda meyakininya dalam hati, maka Anda membutuhkan kekayaan.

Orang-orang sholeh jika diberi harta (kekuasaan) maka dia akan bertambah kesholehannya sedangkan orang-orang jahat ketika diberi harta (kekuasaan) dia akan bertambah kejahatannya.

Lalu bagaimana, jika Anda dengan kesholehan Anda dan Allah belum mengamanahkan kekayaan pada Anda?

Sabarlah, karena orang-orang sholeh atan tetap sholeh dengan ada atau tidak adanya harta. Hal ini berbeda dibandingkan orang-orang yang tertipu dunia, mereka akan merasa susah ketika tidak ada harta dan mereka akan tetap susah ketika padahal sudah diberi kekayaan, mereka akan dipusingkan dengan mencari cara bagaimana caranya agar semakin kaya, kalau memungkinkan dialah satu-satunya orang terkaya didunia dan mereka akan dibuat sulit dengan bagaimana melindungi dan mempertahankan kekayaannya seolah mereka akan hidup kekal di dunia.

 

BAGAIMANA ORANG-ORANG SHOLEH MENGELOLA HARTANYA?

Qana’ah —> Adl —> Zuhud 

Qana’ah adalah merasa cukup, dengan demikian kita bisa terhindar dari jebakan dunia. Ketika mendapatkan banyak, orang ini bersabar dan metika mendapatkan sedikit maka orang ini bersabar. Banyak atau sedikit dirasakan cukup baginya. 

Apakah Qana’ah artinya berhenti (stop) bekerja ketika sudah merasa cukup? TIDAK.

Anda baru berhenti bekerja ketika panggilan sholat dikumandangkan;

QS Al Jumu’ah : 9

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Perhatikan ayat di atas, bahkan ayat selanjutnya menerangkan bahwa setelah sholat, umat Islam diperintahkan bekerja lagi.

QS Al Jumuah : 10

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Orang beriman adalah bukan orang yang cengeng yang meminta libur setelah bekerja. Umat Islam hanya berhenti bekerja ketika sholat. Dan setelahnya, kita kembali bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah dan mengisi waktu dengan terus mengingat Allah dan karenanya kita akan mendapat keuntungan.

Kesimpulan Qana’ah, yaitu merasa cukup atas apa yang Allah rizki kan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan terus bekerja untuk mencari karunia Allah lainnya. Tentu Anda tahu bahwa ketika Anda sudah merasa cukup dengan apa yang Allah rizkikan dan kemudian saat itu Anda terus bekerja, maka secara matematis Anda akan memiliki kelebihan rizki? Itu lah rizki yang akan Anda sedekahkan.

Adl (Adil) adalah berarti menempatkan sesuai porsinya. Harta Anda yang berasal dari Allah hanya diperkenankan didapat dari cara yang halal dan dipergunakan pada jalan yang halal sehingga dalam membelanjakan hartanya umat Islam tidak pelit dan tidak juga berlebihan.

QS Al Furqan :67

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

 

Dan ketika kita yakin menafkahkannya di jalan Allah, maka hilanglah kekhawatiran bahwa harta kita akan berkurang karena Allah sendiri yang berjanji akan mengganti harta yang kita keluarkan di jalan Allah.

QS Saba : 39

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

Dan terakhir Zuhud. Menurut Ibnu Taimiyah seperti yang dikutip olwh muridnya Ibnu Qayyim, zuhud artinya meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat. Zuhud tidak berarti harus hidup berkekurangan. Zuhud adalah ketika Anda menguasai sejumlah harta namun Anda terikat oleh harta tersebut.

Seperti yang terjadi pada Abdurrahman bin Auf ketika hendak hijrah ke Madihah dan ia dihadang orang-orang Quraisy dan dipaksa memilih harta atau agama barunya (Islam) yaitu jika ia membatalkan diri untuk berhijrah dan kembali ke agama lamanya maka mereka tidak akan mengambil hartanya namun jika ia bersikeras berhijrah maka ia dipaksa untuk meninggalkan hartanya karena mereka berdalih bahwa harta Abdurrahman bin Auf itu dikumpulkan selama ia di Makkah. Abdurrahman bin Auf yang adalah saudagar kaya meninggalkan hartanya dan dia tidak tertarik untuk mempertahankan hartanya daripada dia harus kehilangan jalan menuju Allah.

Juga yang terjadi pada Utsman bin Affan, begitu pula Abu Bakar Ash Shiddiq, dan sahabat-sahabat lainnya yang kaya raya namun tidak tertarik untuk mempertahankan hartanya namun harus kehilangan Islam. Bagi Muslim, harta adalah sarana dan bukan tujuan sehingga umat Muslim menempatkan dunia (hartanya) dalam genggaman dan menempatkan iman (agamanya) dalam hati dan bukan sebaliknya. Umat Muslim dapat dengan mudah melepas hartanya tetapi tidak akan mungkin melepas keimanannya.

Karenanya Muslim yang zuhud dan qana’ah adalah orang-orang yang kaya (hatinya) yang tidak tidak menggantungkan hidupnya pada dunia (harta) namun menjadikan harta tersebut hanya sebagai sarana.

Lalu bagaimana jika ada agen asuransi syariah namun belum kaya juga?

Tanyakanlah padanya apa yang menjadi standar dalam kekayaan. Jika dia menjawab bahwa kekayaan haruslah memiliki rumah impian, mobil mewah, tamasya keliling dunia maka sesungguhnya dia agen yang sangat miskin bahkan ketika hartanya berlimpah untuk ukuran dunia.

Tetapi jika ia menjawab bahwa kekayaan itu bukan tetang berapa banyak harta yang dikumpulkan dan dihitung-hitung melainkan berapa banyak harta yang diinfaqkan melalui tangannya maka ia adalah agen suransi syariah yang sesungguhnya kaya walaupun ia belum terlihat memiliki kemewahan dunia dan lebih mementingkan membelanjakan hartanya dijalan Allah. Terlebih jika Allah karuniakan harta berlimpah, maka ia akan semakin kaya.

… Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

(QS Al Baqarah: 200-202)

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

MEMISAHKAN ASURANSI SYARIAH DARI AGAMA?

Memisahkan Asuransi syariah dengan agama (Islam) ibarat seperti memisahkan ikan dari air. Ikan akan tampak hidup tetapi usianya tidak panjang. Dia akan sekarat dan kemudian mati. Dan begitulah ketika sesuatu dipisahkan dari unsur alamiahnya. Sama seperti manusia yang harus hidup di dalam air selama terus menerus padahal tempat hidup alamiahnya manusia adalah di darat. 

Bagaimana mungkin asuransi syariah dipisahkan dari agama padahal esensi dari asuransi syariah adalah menjalankan perintah agama?

Banyak orang kini, entah mereka kurang paham atau kelompok oportunis yang hendak meraih keuntungan sesaat, yang menyuarakan bahwa asuransi syariah untuk semua. Memang tidaklah salah ketika yang dimaksud adalah dari sisi penggunanya, tetapi hal itu tidak demikian ketika ditinjau dari sisi pelakunya.

Asuransi syariah berisi aqidah (prinsip-prinsip kebenaran yang diyakini) yang menjadi dasar sistem keuangan syariah dan di dalamnya berisi larangan-larangan yang menjadi rambu agar tidak dilanggar ketika menjalankan aktivitas keuangan ini. Ini berarti sangat penting bahwa keuangan syariah dijalankan oleh pihak yang meyakini aqidah yang mengatur sistem keuangan syariah.

Secara sederhananya begini, bagi seorang seorang muslim yang berjualan bakso sapi dan pelanggannya bisa beragam yaitu baik muslim maupun non muslim. Begitu pula keuangan syariah, baik muslim ataupun non muslim dapat memanfaatkannya.

Dalam kasus lain, seorang muslim tidak akan menjual bakso babi atau daging yang diharamkan oleh syariah karena itu menjadi prinsip dasar yang diyakini dalam menjual bakso.

Apakah bisa seorang non muslim berdagang bakso sapi? Bisa saja, tetapi calon pelanggan muslim akan memiliki pertanyaan yang lebih banyak untuk memastikan kehalalannya walaupun di depan tokonya sudah dituliskan kata حلال (Halal) karena bagi sebagian besar orang akan bertanya-tanya, walaupun bahan baku dasar berasal dari bahan-bahan yang halal tapi belum tentu dengan bahan tambahannya, atau cara pengolahannya, atau alat-alat yang digunakan untuk memasak yang pernah dipakai untuk memasak daging haram.

Mengapa banyak pertanyaan muncul? Karena menjual makanan halal bukan hanya tentang menjual sesuatu untuk dimakan tetapi juga tentang prinsip-prinsip halal yang diyakini dalam mengolah dan menyajikannya. Dalam masyarakat spiritual seperti saat ini, agen asuransi non muslim secara umum memiliki tantangan yang lebih besar dalam membawa asuransi syariah.

Tentu ini tidak terjadi pada semua agen tetapi secara umum inilah yang terjadi sesuai pengamatan kami. Belakangan, hal ini juga terjadi pada agen-agen muslim yang memperlakukan asuransi syariah hanya sebagai sebuah produk jasa untuk dijual tanpa meyakini aqidah di dalam sistem keuangan ini.

Memang sebagian orang tidak mempermasalahkan hal ini yang penting agennya muslim, tetapi saat ini semakin banyak orang yang mempersoalankan hal ini. Aqidah dalam keuangan syariah membangun sistem keuangan syariah di atas pondasi ketakwaan (kepatuhan) pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Agen-agen muslim yang membawa asuransi syariah tetapi perilakunya tidak menunjukkan kepatuhan pada Allah akan menghadapi tantangan yang hampir sama besar dengan agen non muslim.

Beberapa contoh perilaku yang menunjukkan ketidak patuhan pada hukum Allah diantaranya;

  1. agen syariah tetapi tidak segera menuju masjid ketika adzan berkumandang.
  2. agen syariah tetapi masih terlibat dalam utang riba tanpa alasan yang memaksa.
  3. agen syariah tetapi masih tidak peduli dengan hal-hal yang merusak diri sendiri dan lingkungan seperti merokok.
  4. agen syariah tetapi masih terlihat auratnya.
  5. agen syariah tetapi hanya mengejar dunia saja, terdengar dari kata-katanya yang hanya berisi urusan dunia.
  6. agen syariah tetapi masih berkata-kata tidak baik menurut syariah.
  7. dan beberapa perilaku lainnya.

Kesimpulannya, memisahkan asuransi syariah dari agama adalah hal yang mustahil karena lahirnya keuangan syariah adalah merupakan usaha untuk mencari sarana sistem keuangan yang tetap dapat mendekatkan diri pada Allah dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Anda yang benar-benar serius ingin menjadi agen asuransi syariah haruslah benar-benar memelajari kaidah-kaidah dalam ketentuan syariat dan meyakininya bahwa sistim ini didukung dengan prinsip-prinsip yang benar.

Dan siapa yang memisahkan sistem ini dari Agama (Islam) maka, percayalah, usaha Anda ini tidak akan berlangsung lama.

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

KETIKA SAKIT, PERGI KE MONTIR?

Ketika sedang sakit, kemanakah Anda akan mengikhtiarkan kesembuhan? Ke seorang dokter atau ke seorang montir?

Saya yakin, hampir semua dari Anda akan menjawab “ke seorang dokter.” Dan ketika mobil Anda bermasalah, tentu Anda akan pergi ke montir, bukan ke dokter. Dan sebagian besar Anda lebih menginginkan mendapat penanganan dari spesialis dan ahli walau Anda perlu mengeluarkan biaya lebih mahal.

Inilah yang disebut keadilan, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan menyerahkan urusan pada ahlinya.

Begitu pula dengan asuransi syariah. Memang pemerintah, melalui Otoritas Jasa Keuangan, mengampanyekan keuangan inklusif dan saya menyetujui hal ini bahwa keuangan syariah dapat dimanfaatkan oleh siapapun.

Namun yang harus masyarakat perhatikan adalah, para praktisinya haruslah orang yang memiliki integritas dan kredibilitas. Kami mengkampanyekan, praktisi keuangan syariah haruslah ekslusif. Tidak semua orang bisa dan layak menjadi agen asuransi syariah.

Padahal dia sudah memiliki sertifikat dari asosiasi asuransi syariah? Sertifikat menunjukkan ia memiliki otoritas dan itu legal secara hukum namun ia belum tentu memiliki hak untuk melayani nasabah.

Banyak nasabah syariah saat ini yang menginginkan agennya memiliki dan menunjukkan nilai-nilai syariah.

Nasabah tidak suka melihat agen syariah yang masih membuka auratnya.

Nasabah mempertimbangkan konsistensi antara ilmu yang dibawa dan produk yang ditawarkan sesuai dengan kesehariannya.

Ketika rokok menjadi haram, ia akan memerhatikan apakah agennya merokok.

Ketika riba haram, ia juga tidak akan percaya pada agen yang masih membayar dan memakan hasil riba. Mobilnya dicicil dengan riba, rumahnya diangsur dengan riba, bahkan untuk menjamu makan saja agen tersebut menggunakan kartu kredit.

Ketika kejelasan dan pemahaman kaidah dan prinsip keuangan syariah dibutuhkan, calon nasabah tidak akan memercayai agen yang tidak mampu menjelaskan konsep dan prinsip syariah.

Ketika konsistensi antara omongan dan perbuatan dibutuhkan, nasabah tidak akan percaya pada agen yang tidak percaya pada syariat Islam. Dia mengatakan bahwa syariah itu bagus tetapi dia tidak meyakini ketentuan syariah yang lainnya selain muamalah asuransi syariah.

Ini mengapa tulisan ini menasihati diri saya sendiri dan Anda sebagai agen asuransi syariah dan juga Anda sebagai calon nasabah asuransi syariah.

JIKA Anda ingin memasarkan asuransi syariah, Anda harus memercayai syariah dan hidup Anda mencerminkan keyakinan Anda ini.

JIKA Anda ingin menjadi nasabah asuransi syariah, maka carilah agen asuransi yang mengakui bahwa dia meyakini syariah ini benar selain menguntungkan dan bermanfaat dan penjelasan serta perilakunya mencerminkan pemahaman dan keyakinannya.

APAKAH Anda akan memercayai suatu urusan pada orang yang tidak meyakini kebenaran atas urusan yang Anda percayakan?

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

 

RIBA (Bagian 6) – Uang Kecil Beli Uang Besar

“Uang kecil beli uang besar,

Itulah Asuransi.

Jika kamu tidak paksa diri bayar uang kecil, 

maka kamu akan dipaksa bayar uang besar.

Simpel”

Tentu Anda, agen asuransi, hapal betul ini perkataan siapa. Pertama kali saya melihat foto dengan gambar seorang motivator yang memiliki caption tulisan di atas, saya tersenyum-senyum sambil berpikiran, “Pasti ini jadi angin segar buat para agen asuransi.” Memang benar, gambar tersebut dengan berbagai versi menjadi viral.

Sepanjang pengalaman saya menulis dan membaginya secara online, ada tulisan-tulisan yang laris dikunjungi dan disebarkan dan ada juga tulisan-tulisan yang sepi pengunjung. Saya amati bahwa ketika tulisan tersebut berisi testimoni positif, promosi pentingnya asuransi, dan sejenisnya, hampir dipastikan tulisan tersebut akan ramai pengunjung tetapi ketika tulisan saya berbicara tentang ilmu (asuransi khususnya syariah) dan nasihat-nasihat untuk para agen (khususnya agen syariah) sering kali jenis tulisan ini minim pengunjung.

Yang mengherankan, foto dengan motivator beserta caption nya itu juga disebarkan oleh agen-agen asuransi syariah. Apakah mereka tidak tahu bahwa dalam syariah hukum tukar menukar uang itu harus dalam jumlah yang sama dan diserah terimakan dalam waktu transaksi. Kedua belah pihak sama-sama menyerahkan diwaktu yang sama.

Ini menunjukkan bahwa agen asuransi jiwa di Indonesia masih banyak yang membeo dan membebek. Apa-apa saja yang kawannya sebar, maka ia akan ikut menyebarkannya padahal ia tidak tahu bahwa itu tidak benar. Ini juga mengungkapkan bahwa sebagian agen asuransi jiwa kurang giat untuk memelajari apa yang dibawanya dan kurang giat belajar. Bahkan lebih parah lagi mengenai adab/etika dalam berbisnis, pernah saya jumpai foto dua buah lutut yang terluka yang lukanya masih basah dan di atas paha salah satu kakinya ada kartu asuransi kesehatan untuk kemudian diberitahukan kepada khalayak bahwa ia beruntung memiliki asuransi.

Ya Kami setuju, itulah keuntungan memiliki asuransi, tetapi menunjukkan luka yang masih basah kepada banyak orang bukanlah hal yang etis.

Ada lagi ketika seorang agen baru saja keluar dari perawatan rumah sakit dan agen tersebut memberikan testimoni bahwa memiliki asuransi kesehatan memberinya kemudahan. Ia posting foto-foto nya saat perawatan dengan caption berita testimoni tersebut. Apakah yang saya amati? Sampai waktu terakhir pengamatan, kawan-kawannya yang berkomentar tidak menanyakan bagaimana kondisinya saat ini apakah sudah lebih baik dan pulih seperti semula, dan memberi nasihat agar menjaga kesehatan dan sejenisnya, tetapi mereka malah meminta ijin agar ia diperbolehkan membagi gambar-gambar tersebut. Anda pasti tahukan untuk apa? Iya, untuk kepentingan penjualannya.

Ayo lah wahai agen asuransi, Anda ini kan ketika di depan nasabah mengaku orang yang menolong, orang yang peka dalam melayani, orang yang memiliki empati tinggi, tetapi perilaku Anda tidak mencerminkan itu pada kawan-kawan Anda. Anda memerhatikannya kecuali ada yang menjadi kepentingan Anda. Mohon maaf jika saya dikira bicara keras, tetapi memang demikian yang terlihat.

Ini mengapa para ikhwan dan akhwat tidak tertarik dengan konsep asuransi yang kita bawa, karena terlihat bahwa kita mementingkan kepentingan kita dalam menjelaskan bukan kepentingan dakwah.

Baik, kembali lagi ke persoalan riba, tukar menukar uang yang jenisnya sama harus dilakukan dalam jumlah yang sama dan jika tidak maka itu disebut riba fadl dan jika ditukar dalam waktu yang berbeda maka ini disebut riba nasi’ah. Silakan pelajari kembali tulisan kami RIBA (bagian 1).

Dan motivator diatas menyebut bahwa ini adalah asuransi. Dengan demikian sudah bisa dipastikan bahwa bagi Muslim, asuransi konvensional yang menggunakan skema jual beli ini adalah HARAM.

Lalu apakah ada solusi bagi seorang muslim yang membutuhkan asuransi tetapi yang tidak bertentangan dengan aqidahnya?

Ada, ASURANSI SYARIAH. Silakan hubungi agen asuransi jiwa syariah terdekat dan tanyakan mengenai asuransi syariah. Atau hubungi saya untuk berkonsultasi adatu mendapatkan pelatihan tentang asuransi jiwa syariah.

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning
1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya