Header Image - As-Salam Training Consultant

Category Archives

22 Articles

BERAPA UANG PERTANGGUNGAN IDEAL ASURANSI JIWA ANDA?

Uang Pertanggungan adalah istilah dalam asuransi yang secara sederhana dapat diartikan sebagai santunan ketika tertanggung mengalami kemalangan atau musibah yaitu ketika tertanggung meninggal dunia. Kami tetap menegaskan gunakanlah asuransi jiwa syariah.

Bagi praktisi pemula, muncul dalam pikiran pertanyaan “Berapa jumlah uang pertanggungan yang sesuai?” Jawabannya adalah tergantung kebutuhan dan tergantung pendekatan yang digunakan.

 

Menggunakan pendekatan yang LIMRA miliki bahwa uang pertanggungan paling tidak sebesar 10 sampai dengan 15 kali pengeluaran tahunan, ada pula yang menghitung uang pertanggungan hanya untuk melunasi utang ketika tertanggung meninggal, dan ada pula yang menghitung semua kebutuhan, yaitu kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, melunasi utang, bahkan ada pula yang memikirkan agar bisa mendapat penghasilan dari investasi atas uang pertanggungan.

 

Pendekatan yang kami gunakan.

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad, ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga- berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat. Sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan 2/3 dari harta itu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau separuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, “Sepertiga itu banyak (atau cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya engkau belum akan berpisah. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah, sehingga akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, mudah-mudahan sahabat-sahabatku dapat melanjutkan hijrah mereka dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat mereka semula. Namun, yang kasihan (merugi) adalah Sa’ad bin Khaulah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyayangkan ia meninggal di Makkah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628).

 

Apa yang kami sarankan? 

Dari hadits di atas, kami menyarankan untuk mempersiapkan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan dengan tujuan menghindarkan diri mereka dari meminta-minta sepeninggal kita. Tentu ini sesuai dengan batas kemampuan suami (pencari nafkah) dan bukan dipaksakan seperti yang banyak agen asuransi sarankan.

Apa keutamaan dari menafkahi keluarga? 

Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari)

Menafkahi keluarga merupakan sedekah terbaik sehingga dengan keutamaan ini, layak bagi kita untuk meninggalkan nafkah bagi keluarga sesuai dengan kemampuan kita. Bukan untuk memanjakan keluarga dan bukan pula untuk memberikan kemewahan bagi anak-anak, tetapi untuk mencari keridhoan Allah.

Kebutuhan keluarga biasanya dipenuhi dari penghasilan kepala keluarga dan idealnya ketika kepala keluarga tidak ada, maka nafkah tersebut tetap terus ada. Memang, ketika pencari nafkah telah tiada, tentu kebutuhan bulanan tidak lagi sebesar biasanya karena ada biaya-biaya yang dulu timbul karena keberadaan si pencari nafkah, misal: biaya transportasi ke kantor, biaya makan siang, biaya telekomunikasi, dan biaya lain-lain. Paling tidak, saran kami, kira-kira keluarga masih dapat memenuhi kebutuhan hariannya dengan 60% sampai dengan 70% penghasilan.

Lalu bagaimana menghitung kebutuhan uang pertanggungan? Ada dua pendekatan. Pertama, ketika uang pertanggungan diterima, ahli waris menginvestasikan uangnya sambil dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ahli waris dapat mengambil dana dari kantong investasi untuk kebutuhan sehari-hari dengan periode satu tahun sekali.

Atau pendekatan kedua, ahli waris tidak perlu repot menginvestasikan kembali, cukum simpan dalam tabungan biasa, kami sarankan investasi dan tabungan syariah, yang dapat diambil dengan mudah dan cepat.

Kami sediakan aplikasi bagi Anda agar mudah.

  

1.  Masukkan penghasilan bulanan Anda pada kolom penghasilan bulanan.

2.  Scroll persentase ke kanan atau kiri untuk mendapatkan jumlah persentase yang tepat atas penghasilan bulanan, yaitu biaya hidup yang dibutuhkan ahli waris jika pencari nafkah telah tiada.

3. Masukkan usia anak termuda/terkecil dengan harapan uang pertanggungan ini akan bertahan hingga anak termuda menjadi mandiri.

4. Isikan usia harapan hidup dengan batas usia pemanfaatan uang pertanggungan, setelah usia tersebut diperkirakan uang pertanggungan telah habis terpakai dan jika usia tersebut adalah periode anak mandiri, maka anak tersebut diharapkan sudah bisa mencari nafkah untuk dirinya dan membantu keluarganya.

5. Isi lah kolom asumsi invlasi dengan angka inflasi rata-rata untuk memperkirakan kenaikan biaya hidup. (Tanyakan ahli asuransi jiwa syariah, tanyakan hanya pada ahli nya)

6. Isi kan dengan asumsi tingkat pengembalian investasi atas dana uang pertanggungan yang diterima. (Tanyakan ahli asuransi jiwa syariah, tanyakan hanya pada ahli nya)

 

7.  Klik tombol yang berada diatas “Simulasi dengan Investasi” atau “Simulasi tanpa Investas” maka Anda akan mendapati halaman hasil. 

8. Anda akan diperlihatkan berapa uang pertanggungan yang dibutuhkan berdasarkan metode perhitungan yang Anda gunakan.

9. Anda juga akan diperlihatkan grafik dengan memainkan tombol “next” dan “previous” untuk melihat kronologis penggunaan uang pertanggungan Anda.

 

10. Atau Anda juga dapat melihat tabel yang berisi informasi kronologis penggunaan uang pertanggungan Anda. Untuk mendapatkan aplikasi berbasis Ms. Excel ini silakan klik tautan Download ini.

 

Semoga Bermanfaat.

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

CELESTIAL MANAGEMENT (bagian 1)-AGENCY SYARIAH YANG MEMENANGKAN PEPERANGAN

Sukses itu harus bersama-sama karena Anda mencapai kesuksesan juga tidak sendirian. Ada keluarga yang mendukung, ada nasabah yang membeli, ada trainer yang melatih, ada buku-buku untuk dibaca, ada perusahaan sebagai tempat naungan, ada tim kerja yang menambah kekuatan, dan yang terpenting, ADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA yang mengatur segalanya.

Jadi, ketika Anda menjadi pemenang, jangan lantas Anda sombong karena itu tidak karena Anda sendiri. Lalu, sudah selayaknya setiap orang yang saya (penulis) sebutkan diatas merasakan kemenangan Anda sebagai kemenangan bersama. Fair, kan?

 Lalu, apakah Allah perlu juga merasakan kemenangan Anda? TIDAK. Allah tidak membutuhkan itu tetapi Anda lah yang membutuhkan Allah. Maka sudah seharusnya kemenangan tersebut menjadikan Anda seorang hamba yang lebih bersyukur. Kemenang Anda ini membuat Anda semakin dekat dengan Nya, bukan sebaliknya menjadi semakin jauh (maksiat) dari nya yaitu semakin bertaqwa dan semakin tawakkal.

DR. Riawan Amin, mantan President Direktur Bank Muamalat, pada tahun 2004 menyusun konsep managemen yang diterbitkan dalam sebuah buku berjudul CELESTIAL MANAGEMENT yang masih bisa Anda dapatkan di amazon.com (https://www.amazon.com/Celestial-Management-Islamic-Wisdom-Beings/dp/1456450700) dan saya mengadaptasinya dalam konteks agency asuransi syariah.

Tujuan akhir dari managemen ini adalah memenangkan “peperangan” karena hasil akhirnya akan diperlihatkan di medan pertempuran (Warfare). Dan seperti sebuah peperangan, Anda harus mempersiapkan dan melatih serta membentuk TIM KERJA-pasukan (Wealth), dan pasukan ini harus punya pola pikir yang benar yang paham untuk apa pertempuran demi pertempuran harus dilakukan (Worship). 

 

PASUKAN YANG MEMENANGKAN PEPERANGAN DENGAN “MIKR” (Militan, Intelek, Kompetitif, Regeneratif)

MILITAN

Pasukan yang akan memenangkan peperangan adalah orang-orang yang militan (=bersemangat tinggi, penuh gairah, dan siaga untuk bertempur). Orang-orang seperti ini akan menjadi penyemangat pasukannya. Sangat mungkin semangatnya menular pada orang-orang yang berada disebelahnya, mungkin lebih dari itu yaitu pada orang-orang disekelililngnya, bahkan bisa lebih dari itu yaitu menyemangati orang-orang dalam pasukannya. Anda tentu tahu bahwa Khalid bin Walid dan bagaimana kehadirannya dalam setiap peperangan membuat semangat pasukannya. Bahkan saking khawatirnya Umar bin Khaththab, yang menjadi khalifah saat itu, bahwa pasukannnya akan mengkultuskan Khalid bin Walid sebagai orang yang membawa kemenangan dan ketika Khalid tidak ada maka pasukannnya akan menjadi lemah dan dapat dikalahkan, maka Umar membuat kebijakan untuk mengganti Khalid dengan Abu Ubaidah bin Jarrah pada perang Yarmuk. Lihatlah betapa seseorang bisa menyemangati kelompok manusia yang berjumlah besar.

Sebuah Agency Syariah harus memiliki orang-orang yang dapat menebarkan semangat pada sesamanya untuk berjamaah melakukan aktivitas penjualan. Setiap agen selalu bersemangat dan bersiap siaga menerima panggilan aktivitas. Selain mengembangkan daftar prospek, tugas-tugas agen syariah adalah juga melayani hal-hal yang berhubungan dengan polis seperti pelayanan klaim, misalnya. Ketika nasabah membutuhkan bantuan dengan segera agen syariah sigap melayani. Ini yang kami sebut militansi, semangat tinggi dan siap untuk beraksi.

 

INTELEK

Hudzaifah ibnul Yaman adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang memiliki kecerdasan tinggi. Dengan perantaraannya perang Khandak dimenangkan tanpa banyak darah tertumpah. Strateginya untuk mengacaukan barisan musuh terbukti berasal dari tingkat kecerdasan dan keberanian yang tinggi. Begitu juga sahabat Salman Al Farisi yang karena kecerdasannya menyarankan penggalian parit sehingga musuh terhalau tidak mampu memasuk Madinah. Mereka mendapatkan kecerdasan tersebut dari pengalaman yang telah mereka alami dan kecerdasan tersebut digunakan di jalan Allah.

Seorang leader atau pun agen syariah, dapat menggunakan pengalaman masa lalu mereka untuk mengatasi persoalan-persoalan di masa kini dan yang akan datang. Keerdasan ini juga dapat dipelajari dari pengalaman orang lain. Karenanya para ahli mengangkum pengalaman-pengalaman banyak orang ke dalam rumusan teori yang bisa diajarkan pada agen-agen yang belum berpengalaman. Training, Coaching, Mentoring, Monitoring, dibutuhkan dalam hal ini.

 

KOMPETITIF

Pasukan Muslim dikenal dengan pasukan yang mempunyai daya kompetisi yang tinggi. Pada saat perang Badar, pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 300 an orang dan pasukan Quraisy berjumlah 1000-an orang dan peperangan dimenangkan pasukan Muslim. Bahkan dalam perang Mu’tah, pasukan Muslim yang berjumlah 3000 orang berhadapan dengan 200.000 orang pasukan Romawi. Perang ini menyebabkan gugurnya tiga panglima perang yang juga sahabat utama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abu bin Rawahah kemudian Khalid bin Walid mengambil alih pasukan dan ia paham bahwa jumlah pasukannya tidak dapat menandingi pasukan musuh.

Maka ia mengatur strategi dengan menukar posisi pasukan setiap hari. Pasukan depan ditukar dengan pasukan belakang, pasukan kanan ditukar dengan pasukan kiri. Sehingga pasukan musuh mengira bahwa pasukan Muslim mendapatkan bantuan pasukan baru setiap harinya. Khalid bin Walid sengaja mengulur waktu pertempuran hingga petang karena berdasarkan peraturan perang saat itu, pertempuran dihentikan ketika petang. Pada pagi harinya, Khalid memerintahkan pasukannya memacu kuda-kuda nya sambil menarik pelepah kurma dari arah kejauhan sehingga tampak oleh pasukan Romawi kepulan debu beterbangan seolah seperti tambahan pasukan baru yang sedang berdatangan. Pasukan Romawi merasa gentar karena dengan 3000 orang pasukan saja mereka cukup dibuat repot dan kini (mereka mengira) pasukan baru sudah berdatangan. Pasukan Romawi menarik diri dari medan pertempuran begitu juga pasukan Muslim.

Lihat lah betapa kompetitifnya pasukan-pasukan Muslim dan tak gentar dengan peperangan. Yang diharapkan oleh mereka adalah bukan kehidupan, melainkan kematian yang diridhoi Allah karena berperang dijalanNya. Beginilah kehidupan orang mukmin, mereka menggantungkan hidup mereka pada Allah dan mereka selalu menjaga diri untuk tetap berada dijalan Allah, dan mereka bersabar sehingga Allah memenangkan mereka atas orang-orang yang jumlahnya sepuluh kali lebih banyak.

Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti. 

 (QS Al Anfal:65)

Agen Syariah yang bersabar maka Allah akan selalu bersamanya, “…, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah:153). Ketika Allah sudah bersamanya, siapa kah yang sanggup mengalahkan? Ini lah yang membedakan agen syariah dan non syariah. Ketika agen syariah berpikir dan berperilaku seperti agen non syariah maka ia nilainya tidak lebih baik satu dari lainnya. Tetapi ketika ia menerapkan kesyariahannya maka Allah akan mengangkat nilainya sepuluh kali lipat.

 

REGENERATIF

Sebuah Agency Syariah yang Militan, Intelek, dan Kompetitif akan menjadi agency yang senantiasa bertumbuh dan bertambah (berkembang). Setiap orang tahu apa tugasnya, setiap orang mampu memimpin dan dipimpin karena terbiasa dengan prinsip berjamaah, dan setiap orang memiliki kemampuan mengisi kekosongan fungsi sehingga organisasi tetap dapat berjalan dengan baik kearah pertumbuhan dan pertambahan.

Masih dalam sirah mengenai perang Mu’tah dimana  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengisyaratkan dalam sabda beliau, “Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan.” (HR. Bukhari) 

Dalam kisah tersebut Khalid bin Walid mengambil inisiatif untuk memimpin pasukannya dan membuat strategi seperti yang telah kita bahas di atas sehingga membuat hati pasukan Romawi gentar.

Inilah 4 (empat) faktor yang memenangkan dalam pertempuran dan kita akan membahas bagaimana 4 (empat) faktor ini dibentuk oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam diri para sahabat.

Semoga menjadi manfaat dan inspirasi kita bersama dalam memenangkan setiap persaingan yang kita niatkan untuk kebaikan dan di jalan Allah.

Wallahu a’lam,

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

INVESTASI BUKAN (hanya) MATEMATIS, TETAPI (juga) PSIKOLOGIS

Dahulu, saya menganggap bahwa investasi adalah urusan bank dan juga lembaga keuangan lainnya yang saya tidak tahu apa itu. Investasi benar-benar alien bagi saya. Lalu saya mulai belajar tentang apa itu investasi. Diawal masa belajar, saya (seperti kebanyakan orang lainnya) menganggap bahwa investasi adalah benda matematis dimana semua isinya adalah perhitungan matematika. Seperti; berapa dana (modal) yang akan dinvestasikan, berapa tingkat pengembalian atau bunga yang diperoleh, jika dikalikan keduanya maka berapa yang akan saya dapatkan dalam beberapa tahun kedepan. Namun ternyata saya salah. Investasi bukanlah benda matematis, tetapi perihal psikologis.

Yang paling mudah untuk dilihat, beberapa diantaranya, adalah melonjaknya harga emas ditahun 2008 dan 2009 an, dimana orang tidak percaya kekuatan dolar Amerika dan mereka menukarkan dolar dengan emas sehingga permintaan akan emas meingkat tajam yang mengakibatkan harga emas melambung.

Kedua, adalah yang baru-baru saja terjadi, yaitu melonjaknya harga dolar Amerika. Persediaan dolar Amerika di Indonesia menipis karena isu tapering off Quantitative Easing. Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral suatu negara untuk “membanjiri” masyarakat dengan cash sehingga pasar akan bergairah karena mudah mendapatkan kredit karena kemampuan membayar yang tinggi dan tentunya akan menggerakkan roda perekonomian negara tersebut. Namun akhir-akhir ini pemerintah Amerika berencana mengontrol kembali jumlah uang tunai yang beredar. Hal ini ditanggapi oleh investor dengan menukarkan rupiahnya dengan dolar Amerika agar ketika kebijakan ini jadi dijalankan, mereka tidak kekurangan dolar. Perlahan lalu pasti, dolar menghilang dipasaran dan membuat Rupiah tertekan dan nilainya jatuh. Mengapa Rupiah jatuh dan bertekuk lutut dihadapan Dolar Amerika? Psikologis! Mereka lebih percaya dolar ketimbang Rupiah. Percaya atau tidaknya seseorang adalah bukan matematis melainkan psikologis. Ditambah lagi, orang-orang yang tidak mencintai negaranya sendiri, Indonesia Raya, ikut-ikutan memborong Dolar Amerika yang malah membuat nilai Rupiah makin menyusut.

Satu lagi, harga-harga saham yang sangat bergantung pada harapan atau ekspektasi investor. Saat investor percaya bahwa sebuah saham harganya akan naik dan kemudian orang-orang ikut memercayai hal tersebut, maka permintaan akan saham tersebut meningkat dan dengan demikian meningkatkan harga saham tersebut. Sebaliknya, orang-orang akan menjual sahamnya saat mereka tidak memercayai bahwa perusahaan tersebut tidak akan memberikan keuntungan yang baik ditahun yang sama, maka setiap orang menjual saham perusahaan tersebut yang membuat persediaan saham perusahaan tersebut  berlimpah dipasar kemudian menuruhkan harga saham tersebut. Nyatanya, di tahun 2008 beberapa perusahaan dipercaya tidak akan memberikan keuntungan yang baik hingga sahamnya jatuh, namun tetap saja perusahaan tersebut dapat menciptakan untung besar diakhir tahun.

Melonjaknya harga emas, dolar, dan saham, sangat dipengaruhi oleh keputusan psikologis bukan matematis.

 

Hal serupa juga terjadi saat kita memutuskan apakah memulai investasi atau menundanya. Jika semua orang berpikir matematis, maka tidak akan ada orang yang menunda investasi. Mari kita lihat contoh dibawah ini;

Ali memutuskan untuk berinvestasi lebih awal untuk persiapan masa pensiunnya sedangkan Amir menundanya hingga beberapa tahun lagi. Ali, yang memulai lebih awal, hanya mengeluarkan dana Rp. 72 juta dan mendapatkan dana yang jauh lebih besar dari pada Amir yang mengeluarkan uang lebih besar, yaitu Rp 168 juta. Jelas bahwa Investasi Bukan (hanya) Matematis, Tetapi (juga) Psikologis.

Tool diatas dapat di download dalam format Ms Excel disini.

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

PELUANG (OUTLOOK) ASURANSI JIWA SYARIAH 2017

Bagi banyak praktisi, tema outlook sangat diperlukan untuk menjadi acuan dalam menjalankan bisnisnya. Mereka beranggapan hal ini menjadi gambaran untuk meramalkan bisnisnya di tahun berjalan. Ketika outlooknya bagus, ramai-ramai mereka bersemangat dalam berbisnis dan sebaliknya ketika outlooknya tidak seberapa baik, ramai-ramai pula mereka khawatir kemudian menjadi lesu menjalankan bisnis ini. Dalam syariat, hal ini bisa bertentangan dengan hukum Allah karena hanya Allah lah yang mengetahui hal ghaib. Masa depan adalah hal yang ghaib (yang tidak terlihat/tidak diketahui) dan ketika kita menyerahkannya pada seseorang maka inilah yang bertentangan dengan keimanan dalam syariat. Allah memerintahkan kita untuk mengusahakan hari esok kita.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hasyr : 18)

Lalu apakah outlook tidak penting? Outlook tetap lah penting tetapi kita menganggap bahwa outlook ini sekedar sudut pandang seseorang terhadap sesuatu. Dan sudut pandang ini sangat terbatas pada pengetahuan si pengujarnya dan waktu outlook tersebut dikeluarkan. Jika ada seseorang mengatakan pada Anda, “Jangan lewat jalan A karena kemarin terjadi kecelakaan.” Apakah Anda turuti perkataan orang tersebut karena Anda yakin Anda akan mengalami kecelakaan ketika lewat jalan itu? Jika itu adalah jalan satu-satunya menuju tempat yang Anda akan kunjungi tentu Anda tetap akan lewati tetapi sangat mungkin Anda berhati-hati ketika melintasinya atau jika Anda mendapati ada jalan lain menuju tepat yang sama maka sangat mungkin Anda akan mengambil jalan yang berbeda. Tetapi Anda tetap menuju jalan yang sama, kan?

Maka dari nya, ketika Anda mendengar outlook yang kurang “cerah” akhir-akhir ini, itu Artinya Anda hanya harus berhati-hati dan mencari cara yang lebih baik untuk melewatinya, bukan untuk memercayai bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri kita. Tetapi tenang saja, berdasarkan pengalaman kami, setiap outlook yang disajikan oleh perusahaan penjualan asuransi, insyaa Allah, akan selalu menggunakan sudut pandang dan kalimat positif karena mereka tahu jika menggunakan bahasa alakadarnya maka hal itu bisa jadi merugikan perusahaan karena penjualan akan lesu.

LALU BAGAIMANA OUTLOOK ASURANSI SYARIAH 2017 BERDASARKAN BANYAK SUMBER YANG KAMI KUMPULKAN?

Asuransi Syariah tahun 2017 masih biasa-biasa saja bahkan cenderung turun. Kenapa? Karena banyak perusahaan besar di Indonesia, khususnya perusahaan asuransi jiwa besar yang percaya bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih sedang lesu. Hal ini akan diyakini sumberdaya manusia di perusahaan tersebut, kemudian disampaikan pada agen-agen nya, dan terus menjadi efek virus menular yang lalu secara kolektif meyakini bahwa memang kondisi ekonomi sedang sulit, padahal kita tahu siapa yang sebaik-baiknya pemberi rejeki? ALLAH. Walaupun banyak pengamat mengatakan bahwa Pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) Amerika Serikat hanya tumbuh 2%-3%, Eropa 1,2%-2%, Cina 6,3%-6,4%, dan Indonesia 5%-5,1%, tetap saja ini hanya sebagai rambu-rambu yang membuat kita berpikir bagaimana kita melalui masa-masa ini bukan sebuah keniscayaan.

Alasan kedua, belum banyak perusahaan yang menaruh perhatian pada pengembangan sumberdaya manusia dalam syariah, jika pun ada, sebagian besar masih bersifat formalitas. Mungkin ini karena mindset bahwa Keuangan Syariah adalah keuangan inklusif yaitu semua bisa memanfaatkan danmenggunakan instrumen dan fasilitas keuangan syariah. Itu tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena mindset tersebut sepertinya membuat perusahaan asuransi berpikir bahwa membawakan keuangan syariah sama dengan asuransi konvensional hanya beberapa kalimatnya saja yang diubah. Jelas TIDAK DEMIKIAN, Keuangan syariah memang inklusif dari sisi pengguna tetapi tetap esklusif dari sisi pelaku. Hanya pelaku yang memiliki pengetahuan yang memadai yang berhak membawakan asuransi syariah. Sebenarnya ini merupakan fitrah dalam bermuamalah, suatu perkara harus diserahkan pada ahlinya. Ilmu kedokteran dapat dimanfaatkan oleh semua orang, tetapi pelaku kedokteran hanya mereka yang ahli dan bersertifikat dokter.

Mengapa alasan ini kami kemukakan? Karena nasabah membutuhkan penjelasan yang tepat tentang asuransi syariah. Yang kami amati, kebanyakan nasabah syariah adalah orang yang memercayai agennya walau belum paham betul apa itu syariah dan sedikit lainnya adalah orang yang sudah paham syariah. Banyak orang yang belum mau membeli asuransi syariah karena belum mendapatkan penjelasan yang tepat tentang asuransi syariah. Semakin banyak masyarakat yang terdidik dan paham akan asuransi syariah makan akan semakin berkembang. Lalu yang diuntungkan? Pasti yang pertama diuntungkan adalah Perusahaan dan Pelaku (agen) asuransi syariah. Memang pengembangan sumberdaya manusia ini bukan hal instan. Perusahaan tidak bisa sembarang mengadakan sebua acara seminar motivasi syariah lalu menganggap hal itu sudah cukup sebagai bekal agen untuk menjual asuransi syariah. Ketika agen menjual dengan cara yang salah, maka dikemudian hari perusahaan akan direpotkan dengan banyak masalah.

Alasan ketiga yaitu Masih Membutuhkan Dukungan Pemerintah. Tidak dipungkiri, pemerintah melalui OJK sudah melakukan banyak untuk membangun ekonomi syariah dan tentu masih tetap diperlukan dukungan pemerintah seperti kemudahan-kemudahan kebijakan dan secara langsung mendukung pengembangan perusahaan-perusahaan asuransi syariah. Ketika Malaysia sangat serius dalam pengembangan ekonomi syariah, terlihat nyata pertumbuhan asuransi syariah di tahun 2015 yaitu 9,7% untuk asuransi jiwa syariah dan Indonesia di angka 6,2%. Memang Alhamdulillah angka ini masih lebih tinggi dari pertumbuhan GDP Indonesia yaitu 4,79% jika dibanding pertumbuhan asuransi konvensional pada tahun yang sama yaitu 1,6%.

Alasan keempat, kemudahan masyarakat akan akses informasi yang dibutuhkan. Masih dibutuhkan banyak sosialisasi asuransi syariah secara masif. Sementara ini sosialisasi baru menyasar kelompok kecil walaupun kami tidak mengatakan bahwa itu tidak baik. Pemerintah (OJK) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah telah melakukan banyak kegiatan sosialisasi keuangan syariah namun jika hanya  mereka yang melakukan sosialisasi tentu persoalannya adalah sumberdaya manusia yang terbatas. Bisa saja, OJK bersama perusahaan menerbitkan aturan bahwa perusahaan yang menjual asuransi syariah wajib membuat program edukasi dan literasi keuangan syariah. Iklan layanan masyarakat di televisi dinilai ampuh karena dapat menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Pun demikian, perusahaan asuransi yang besar yang memiliki jumlah agen yang banyak sebetulnya memiliki kekuatan untuk “Menyelam sambil minum air.” Satu sisi memberikan eddukasi pada masyarakat dan ketika masyarakat sudah paham, maka dijual lah produknya. Sementara ini kebanyakan yang dikedepankan adalah menjual walau kami memerhatikan para agen masih memerlukan wawasan asuransi syariah. Sekali lagi, yang kami sarankan memang tidak kompatibel untuk hasil jangka pendek tetapi hal ini berguna untuk melanggengkan bisnis asuransi syariah.

PELUANG-PELUANG YANG MASIH TERBENTANG

  1. Masih menjadi sumber motivasi utama bagi praktisi asuransi bahwa penetrasi asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah. Banyak laporan dari para agen bahwa masyarakat merasa sudah cukup dengan program BPJS sehingga memperkecil peluang mereka untuk dapat menjual asuransi ke masyarakat. Kami melihat ini sebagai peluang bahwa masyarakat belum mengetahui fungsi berbeda dari prduk asuransi yang tawarkan dan menyamakannya dengan BPJS. Untuk ini dibutuhkan agen-agen asuransi yang memiliki wawasan yang luas tentang pemahaman asuransi jiwa khususnya syariah.
  2. Populasi penduduk dan market asuransi syariah yang luas belum tergarap. Ini juga yang membuat banyak perusahaan asuransi menerbitkan produk syariah bahkan beberapa perusahaan yang belum terbilang lama ada yang sudah langsung membuat perusahaan asuransi syariah full pledged.
  3. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak buruk, maka yakinlah bahwa rejeki Allah itu besar. Berdoa lah agar dipermudah dan berusahalah ubah lelah menjadi lillah, begitu kira-kira kata-kata bijak yang sering kita dengar.
  4. Inovasi Produk menjadi salah satu pengungkit pasar yang menurut kami, hal ini dapat mengungkit semangat agen atau praktisi asuransi jiwa untuk menjual lagi karena memiliki produk baru yang bisa ditawarkan ulang. Kami mengira, tidak banyak masyarakat yang paham ketika ada produk baru yang diluncurkan, mereka hanya memahami asuransi adalah asuransi dan mereka hanya harus membayar premi. Edukasi yang tepat dari agen nya akan sangat bermanfaat.
  5. Tingkat menabung masyarakat yang masih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi masyarakat masih baik dan mereka perlu edukasi asuransi syariah dari praktisi yang mumpuni.

Kesimpulannya, mari kita bangun keyakinan bahwa ekonomi masih akan baik-baik saja ketika kita percaya bahwa Allah lah yang memberikan dan menahan rejeki. Maka berdoa dan berusaha tanpa terpengaruh oleh ramalan-ramalan moderen yang disebut outlook kecuali hanya memperlakukannya sebagai rambu-rambu agar berhati-hati dan bijak dalam menjalankan bisnis asuransi jiwa syariah ini. Wallahu a’lam

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

ASURANSI JIWA ITU TIDAK PERCAYA TAKDIR!

Bisnis asuransi memang bisnis yang menarik, di samping ada manfaat bisnis yaitu keuntungan untuk para pihak (nasabah dan perusahaan), asuransi juga memiliki manfaat sosial yaitu usaha untuk menjaminkan keadaan ekonomi seseorang atau sebuah keluarga ketika seseorang atau pencari nafkah diuji dengan musibah, perusahaan asuransi dan nasabah lain terhitung sebagai pihak yg membantu keberlangsungan ekonomi sebuah keluarga.

ASURANSI SYARIAH MANFAATNYA LEBIH DARI ITU

Jika asuransi secara umum, memiliki dua manfaat yaitu bisnis dan sosial, maka asuransi syariah memiliki manfaat bisnis, sosial, dan akhirat. Memang surga menjadi hak Allah untuk memasukkan hamba-hamba Nya ke dalamnya, namun perbuatan-berbuatan baIk (amal sholeh) bisa menjadi sebab Allah memasukkan kita ke dalam surga. Surga bagi siapa? Agen dan nasabah nya serta orang-orang yang terlibat dalam kebaikan, tentu hal ini adalah khusus bagi orang-orang yang meyakininya, yakin pada Allah dan yakin pada hari akhir.

ASURANSI JIWA ITU TIDAK PERCAYA TAKDIR!

Dan beberapa orang mengatakan memiliki asuransi jiwa itu tidak percaya takdir. HIngga saat ini, hal tersebut masih terus menjadi topik pertanyaan dan pembahasan di dalam kelas-kelas pelatihan kami. Memang pernyataan tersebut muncul bisa karena beberapa sebab. Bisa jadi karena kurang paham atau kurang ilmu, bisa jadi karena memang Anda sebagai agen asuransi sudah ditolak olehnya. Jika persoalannya karena dia tidak menyukai, tidak menginginkan Anda baik sebagai individu maupun sebagai agen asuransi maka penjelasannya akan lain. Tapi jika memang yang terjadi adalah karena kurang pemahaman maka kami menjawab bahwa:

“Justru berasuransi karena kami percaya takdir. Kami percaya bahwa setiap yang bernyawa pasti mati1

“Kami juga percaya bahwa mati itu pasti dan Rasulullah mengingatkan kita untuk mempersiapkannya.”2,

Allah juga memerintahkan kita untuk memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (yaitu akhirat kita)” 3

“Dan kami percaya bahwa amalan yang pahala tidak akan terputus ketika kita sudah mati nanti adalah amal shodaqoh jariyyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan.”4

“Maka darinya asuransi insyaa Allah dapat membantu ikhtiar mendapatkan hal-hal tersebut, karena kami tahu bahwa kami akan mati walau kami tidak tahu kapan waktu itu tiba. Asuransi syariah adalah satu cara saling membantu sesama anggota yang mengalami musibah dengan menyantuni keluarganya dari dana yang kami kumpulkan. Kami berharap hal itu menjadi shodaqoh jariyyah kami, kami juga berharap apa yang kami lakukan ini menjadi ilmu dan santunan yang kami tinggalkan untuk keluarga dapat membantu anak-anak kami untuk tetap bersekolah sehingga ilmu yang bermanfaat kelak juga dapat memberi kami pahala, dan asuransi hanyalah sebuah cara sedang kami tetap harus mengajari anak-anak kami dengan ilmu agama agar menjadi anak sholeh dan selalu berdoa bagi kami. Kami berharap, santunan yang diniatkan agar anak-anak kami dapat melanjukkan kehidupan ekonominya mendapat balasan doa yang kami butuhkan kelak.”

“Kami juga selalu berusaha mengamalkan sunnah nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang berpesan pada sahabat beliau yang kala itu sedang sakit yaitu Sa’ad bin abi Waqqash, “Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Alah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.”5

“Semoga ini membantu Anda memahami bahwa sangat mungkin kita perlu asuransi syariah walaupun Anda tetap boleh memilih untuk tidak memilikinya karena memilikinya merupakan langkah ikhtiar kita agar hidup kita kini dan nanti dimudahkan oleh Allah.”

Jika Anda masih membutuhkan wawasan tentang ini, kami mengundang Anda ke seminar asuransi syariah seperti yang tertera pada flyer dibawah ini.

copy-of-eid-brunch-flyer-3

UNTUK KETERANGAN LEBIH LANJUT DAN FORMULIR PENDAFTARAN, SILAKAN KLIK GAMBAR

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

[1]                                                                                                                                                                                                               كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” [al-‘Ankabût/29:57]

[2]                                                                       اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

[3]                                                                                                             يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Al Hasyr:18)

[4] Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

[5]     عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ ، أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَ بِى مِنَ الْوَجَعِ مَا تَرَى ، وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلاَ يَرِثُنِى إِلاَّ ابْنَةٌ لِى وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَىْ مَالِى قَالَ « لاَ » . قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ « لاَ » . قُلْتُ فَالثُّلُثِ قَالَ « وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ ، إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ ، وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً  تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا ، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِى فِى امْرَأَتِكَ »

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad, ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga- berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat. Sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan 2/3 dari harta itu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau separuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, “Sepertiga itu banyak (atau cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Alah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.” (HR. Bukhari, no. 4409; Muslim, no. 1628).

 

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya