Header Image - As-Salam Training Consultant

Tag Archives

4 Articles

RIBA (Bagian 6) – Uang Kecil Beli Uang Besar

“Uang kecil beli uang besar,

Itulah Asuransi.

Jika kamu tidak paksa diri bayar uang kecil, 

maka kamu akan dipaksa bayar uang besar.

Simpel”

Tentu Anda, agen asuransi, hapal betul ini perkataan siapa. Pertama kali saya melihat foto dengan gambar seorang motivator yang memiliki caption tulisan di atas, saya tersenyum-senyum sambil berpikiran, “Pasti ini jadi angin segar buat para agen asuransi.” Memang benar, gambar tersebut dengan berbagai versi menjadi viral.

Sepanjang pengalaman saya menulis dan membaginya secara online, ada tulisan-tulisan yang laris dikunjungi dan disebarkan dan ada juga tulisan-tulisan yang sepi pengunjung. Saya amati bahwa ketika tulisan tersebut berisi testimoni positif, promosi pentingnya asuransi, dan sejenisnya, hampir dipastikan tulisan tersebut akan ramai pengunjung tetapi ketika tulisan saya berbicara tentang ilmu (asuransi khususnya syariah) dan nasihat-nasihat untuk para agen (khususnya agen syariah) sering kali jenis tulisan ini minim pengunjung.

Yang mengherankan, foto dengan motivator beserta caption nya itu juga disebarkan oleh agen-agen asuransi syariah. Apakah mereka tidak tahu bahwa dalam syariah hukum tukar menukar uang itu harus dalam jumlah yang sama dan diserah terimakan dalam waktu transaksi. Kedua belah pihak sama-sama menyerahkan diwaktu yang sama.

Ini menunjukkan bahwa agen asuransi jiwa di Indonesia masih banyak yang membeo dan membebek. Apa-apa saja yang kawannya sebar, maka ia akan ikut menyebarkannya padahal ia tidak tahu bahwa itu tidak benar. Ini juga mengungkapkan bahwa sebagian agen asuransi jiwa kurang giat untuk memelajari apa yang dibawanya dan kurang giat belajar. Bahkan lebih parah lagi mengenai adab/etika dalam berbisnis, pernah saya jumpai foto dua buah lutut yang terluka yang lukanya masih basah dan di atas paha salah satu kakinya ada kartu asuransi kesehatan untuk kemudian diberitahukan kepada khalayak bahwa ia beruntung memiliki asuransi.

Ya Kami setuju, itulah keuntungan memiliki asuransi, tetapi menunjukkan luka yang masih basah kepada banyak orang bukanlah hal yang etis.

Ada lagi ketika seorang agen baru saja keluar dari perawatan rumah sakit dan agen tersebut memberikan testimoni bahwa memiliki asuransi kesehatan memberinya kemudahan. Ia posting foto-foto nya saat perawatan dengan caption berita testimoni tersebut. Apakah yang saya amati? Sampai waktu terakhir pengamatan, kawan-kawannya yang berkomentar tidak menanyakan bagaimana kondisinya saat ini apakah sudah lebih baik dan pulih seperti semula, dan memberi nasihat agar menjaga kesehatan dan sejenisnya, tetapi mereka malah meminta ijin agar ia diperbolehkan membagi gambar-gambar tersebut. Anda pasti tahukan untuk apa? Iya, untuk kepentingan penjualannya.

Ayo lah wahai agen asuransi, Anda ini kan ketika di depan nasabah mengaku orang yang menolong, orang yang peka dalam melayani, orang yang memiliki empati tinggi, tetapi perilaku Anda tidak mencerminkan itu pada kawan-kawan Anda. Anda memerhatikannya kecuali ada yang menjadi kepentingan Anda. Mohon maaf jika saya dikira bicara keras, tetapi memang demikian yang terlihat.

Ini mengapa para ikhwan dan akhwat tidak tertarik dengan konsep asuransi yang kita bawa, karena terlihat bahwa kita mementingkan kepentingan kita dalam menjelaskan bukan kepentingan dakwah.

Baik, kembali lagi ke persoalan riba, tukar menukar uang yang jenisnya sama harus dilakukan dalam jumlah yang sama dan jika tidak maka itu disebut riba fadl dan jika ditukar dalam waktu yang berbeda maka ini disebut riba nasi’ah. Silakan pelajari kembali tulisan kami RIBA (bagian 1).

Dan motivator diatas menyebut bahwa ini adalah asuransi. Dengan demikian sudah bisa dipastikan bahwa bagi Muslim, asuransi konvensional yang menggunakan skema jual beli ini adalah HARAM.

Lalu apakah ada solusi bagi seorang muslim yang membutuhkan asuransi tetapi yang tidak bertentangan dengan aqidahnya?

Ada, ASURANSI SYARIAH. Silakan hubungi agen asuransi jiwa syariah terdekat dan tanyakan mengenai asuransi syariah. Atau hubungi saya untuk berkonsultasi adatu mendapatkan pelatihan tentang asuransi jiwa syariah.

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

SETELAH NASABAHKU IKUT PENGAJIAN SI ANU, DIA MEMBATALKAN POLIS SYARIAHNYA

asuransi-syariah2

Dalam sebuah forum diskusi, kalimat seperti judul diatas sempat terlontar. Lalu apa maksudnya? Jelas itu adalah ekspresi kekecewaan yang bisa jadi ketika nasabahnya membatalkan polis asuransinya (istilah teknisnya surrender) maka agen tersebut akan kehilangan sebagian penghasilannya dan dalam profesi asuransi tentu hal ini akan mengurangi perhitungan-perhitungan yang memengaruhi peluang mendapatkan berbagai insentif atau bonus.

Ternyata kalimat itu tidak berhenti pada satu orang, beberapa anggota forum tersebut menimpali dan memiliki kalimat-kalimat bernada serupa. Wah, menarik ini. Kenapa ikut pengajian kok membuat nasabah menghentikan manfaat polis asuransinya? Apa bener pengajian-pengajian tersebut melarang polis asuransi? Apa sih yang sedang terjadi? Berikut pengamatan kami.

  1. Agen terlalu berasumsi

Agen terlalu berasumsi bahwa pengajian tertentu menyebabkan jamaahnya menjadi anti asuransi. Kami mendapatinya tidak demikian. Kami menelusuri kajian-kajian para ustadz yang disebutkan dalam forum diskusi tersebut dan kami bahkan menikmati kajian-kajian beliau-beliau. Kajian yang berisi keteduhan untuk hati yang gersang dan memotivasi hidup harus optimis. Beliau-beliau ini selalu menyadarkan jamaahnya bahwa tempat satu-satunya bergantung adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Para ustadz tersebut tidak secara eksplisit menentang asuransi. Memang mereka sepakat bahwa asuransi konvensional haram bagi umat Islam, tetapi tentang asuransi syariah mereka tidak melarang.

Memang ada satu situasi yang membuat seorang ustadz menjawab bahwa asuransi apapun adalah sama saja. Tapi itu tidak lebih karena ustadz tersebut menjawab berdasarkan keterangan dari jamaah yang bertanya dan kami menyadari jamaah tersebut tidak memiliki cukup informasi tentang konsep asuransi syariah yang ditanyakan, sehingga mengesankan praktik asuransi yang ditanyakan sama dengan konvensional dan telah berlaku dzolim padanya sebagai nasabah.

SARAN:

  1. Pastikan nasabah asuransi syariah Anda mengerti tentang manfaat dan konsep asuransi Islami.
  2. Pastikan Anda sebagai agen juga memahami konsep asuransi syariah dan mampu menjelaskannya dengan baik dan rinci. Bagaimana mungkin kita menjelaskan dengan baik jika pemahaman kita buruk. Bagaimana mungkin kita menerangkannya dengan benar jika pengetahuan kita salah.
  3. Jangan terlalu berasumsi karena nyatanya banyak agen yang tidak menonton, mengikuti, atau membaca buku kajian para ustadz yang dimaksud. Mereka hanya percaya perkataan teman-temannya yang memiliki masalah serupa, yakni nasabah yang mengakhiri polisnya dan tentu agen tersebut sedang kecewa.

Ingat!! Asumsi -> Pikiran -> Perkataan -> Perbuatan -> Perbuatan -> Kebiasaan -> Karakter -> Nasib

Intinya, jika Anda memiliki pikiran buruk tentang sesuatu, maka nasib Anda akan buruk atas hal tersebut.

  1. Agen tidak memiliki cukup waktu untuk nasabah tersebut.

Banyak agen, kami tidak sebut sebagian besar apalagi semuanya, yang datang menemui nasabah dan muncul hanya ketika ada masalah, ketika nasabah belum membayar premi (kontribusi), ketika klaim nasabah ditolak, dan ketika nasabah berniat mengakhiri polis asuransinya.

Mengetahui perkembangan nasabah secara berkala akan memberi keuntungan pada agen. Agen mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada diri nasabah. Salah satunya adalah perubahan wawasan nasabah. Karenanya jika dirasa agen harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi disebabkan wawasan baru tentang asuransi yang dia miliki maka agen dapat segera meluruskannya. Jika nasabah sudah terlanjur bertekad bulat mengakhiri polis asuransinya, maka bisa jadi peluang untuk meluruskan kesalahpahaman menjadi jauh lebih kecil.

Saya (penulis) pernah bertemu seorang nasabah asuransi jiwa dari perusahaan asuransi yang sering disebut sebagai terbaik di Indonesia. Dia berniat ingin menghentikan manfaat polis (surrender) asuransi dirinya dan keluarganya, namun dia sempat bertanya pada saya apakah asuransi syariah faktanya sama saja dengan yang konvensional. Setelah saya jelaskan, dia dapat memahami bahwa dia tetap harus melanjutkan polis asuransi syariah jiwa nya.

SARAN:

  1. Sediakan waktu rutin mengunjungi nasabah, tidak perlu terlalu sering. Tiga bulan atau enam buan sekali kami kira waktu yang cukup. Niatkan silaturahim, maka insyaa Allah, Allah akan memanjangkan umur Anda dan memperbanyak rejeki Anda.
  2. Ulangi atau jelaskan kembali manfaat apa yang dimiliki nasabah dan tanyakan apakah mereka sudah memahami konsep manfaat yang mereka miliki. Ajarkan pula bagaimana melakukan klaim jika Anda tidak sedang berkesempatan berada didekatnya.
  3. Ikutlah, sesekali, bersamanya menghadiri pengajian yang biasa dia hadiri sehingga Anda tahu informasi apa yang didapat dari pengajiannya, dan syukur-syukur Anda juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari pengajian tersebut.
  1. Cara-cara yang dilakukan agen dalam membawa dan menawarkan asuransi syariah sama dengan agen-agen yang menawarkan asuransi konvensional.

Inilah menurut pengamatan kami mengapa beberapa orang mengatakan bahwa asuransi syariah sama saja dengan asuransi konvensional. Yang ditawarkan adalah ketakutan-ketakutan yang bakal menimpa dimasa depan.

Saudara-saudara agen, andai saja Anda ikut hadir dalam kajian yang mereka ikuti, Anda insyaa Allah akan memahami mengapa mereka memilih untuk tidak berasuransi setelah mendengarkan penawaran Anda. Karena pesan yang sering kita bawa adalah bahwa nasabah bisa menggantungkan hidupnya beserta risiko-risikonya pada manfaat asuransi (polis asuransi). Padahal satu-satunya tempat bergantung adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

SARAN:

  1. Ubahlah cara Anda menawarkan asuransi syariah. Jangan seperti agen yang menawarkan asuransi konvensional yang jika tidak memiliki asuransi maka ketika risiko terjadi harta akan habis dan keluarga akan hidup sengsara. Padahal bagi orang yang senang ikut kajian Islam, mereka percaya bahwa Allah yang memberikan rejeki dan Allah lah yang akan menjaga keluarganya nanti, dan memang demikian adanya.
  2. Berasuransi bukan karena takut kehilangan harta tetapi karena takut kehilangan keutamaan-keutamaan pahala menjaga keluarga. Asuransi adalah bukan untuk membuatnya menjauh dari Allah tetapi malah mendekatkannya.

Pak, asuransi yang kami bawa adalah untuk membuat nasabah kami semakin pasrah pada Allah.

 Pertama adalah kita berusaha dengan apa yang kita bisa dan selebihnya pasrahkan pada Allah Ta’ala.

 Kedua, keutamaan menanggung anak yatim adalah akan mendapatkan tempat bersama Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam kelak di surga. Dan kita sedang mempersiapkan tanggungan itu bagi yatim-yatim kita sendiri.

 Ketiga, mengikuti nasehat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada seorang sahabat bernama Sa’ad bin Abi Waqqas untuk meninggalkan istri dan anak dalam kondisi kecukupan daripada meminta-minta dan bergantung pada manusia karena kita yakin kita hanya bergantung pada Allah saja dan Anda yang berusaha menanggungnya sebagai kepala keluarga.

 Terakhir, saya pernah membaca sebuah kaidah fiqih yang mengatakan bahwa WASILAH TERGANTUNG PADA TUJUANNYA. Wasilah,  Anda tentu tahu artinya adalah perantara atau alat atau sarana. Dan Asuransi Syariah tidak lebih hanya sebagai sarana atau wasilah. Jika Anda pandang bahwa tujuan-tujuan diatas yang saya sebutkan tadi BAIK, maka ASURANSI SYARIAH ini pun BAIK bagi Anda, insyaa Allah.

  1. Agen terlalu sibuk mengurus calon nasabah yang menolak bukan sebaliknya sibuk dengan nasabah yang menerima.

 Sebab turunnya surah Al Qur’an  ‘Abasa (80) ayat 1-11 karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sempat berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum sahabat yang buta matanya yang telah beriman yang ketika itu datang kepada beliau untuk minta diajari Islam, namun Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sedang menghadapi para pembesar musyrikin Quraisy untuk diajak beriman pada Allah. Tak lama berselang turun ayat-ayat terebut yang menegur Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam untuk mengutamakan orang beriman yang membutuhkan ilmu ketimbang pembesar Quraisy yang tidak ingin beriman dan sudah merasa berkecukupan.

Surah ini memberitahu pada kita bahwa petunjuk datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita sebagai agen hanya berusaha. Agen asuransi syariah yang juga berfungsi sebagai pendakwah tentu paham bahwa target dari dakwah adalah penyampaian bukan hasil. Hasil adalah menjadi urusan Allah yang membolak-balikkan hati.

Ketika kita berfokus pada yang menolak, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Sekali lagi! Saat orang yang kita datangi menolak kita, maka yang harus kita lakukan adalah mendatangi Pencipta orang yang telah menolak Anda tadi. Yaitu Allah. Allah ah yang membolak-balikkan hati. Dan tenanglah, ketika mereka tidak menjadi nasabah Anda, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Layanilah nasabah Anda dengan baik yang insyaa Allah, Allah akan tambahkan bagi Anda nasabah yang lain.

Dalam bukunya Yuswohady-Marketing to Middle

4-faces-of-middle-class-moslem-consumersClass Muslim, ia membagi konsumen Muslim kelas menengah menjadi empat kelompok seperti dalam gambar. Dan Anda yang sedang “ketakutan” pada pengajian tertentu biasanya hanya berfokus pada salah satu kelompok saja yaitu Conformist yang sangat bersemangat menjalankan ajaran Islam dan khawatir hal-hal baru yang tidak

pernah ada di masa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang hal tersebut dapat mengurangi ke Islam an nya.

Maka sudah sebaiknya agen juga harus menyadari kelompok lainya untuk didekati.

SARAN

  1. Pelajari, termasuk kelompok manakah nasabah Anda. Memang karakter manusia tidak sesempit rumusan di atas karakter manusia bisa berupa-rupa wajahnya. Tetapi paling tidak rumusan yang telah disusun oleh Yuswohady bisa menjadi pendekatan umum dari kelompok orang-orang terkait dengan tingkat religi dan manfaat yang dibutuhkan dari sebuah produk.
  2. Jika ingin lebih jelas tentang keempat kelompok tersebut, Anda dapat membelinya dan jangan berhenti hanya pada membeli. Pelajarilah.
  1. Agen Asuransi Syariah adalah agen yang benar-benar harus syariah

 Ketika Anda berharap mendapatkan sajian masakan Padang yang lebih baik, apakah Anda akan mengunjungi warung makan yang penjualnya asli dari Padang atau dari Jawa? Sebaliknya, jika menginginkan gudeg Jogja maka Anda akan mengunjungi warung makan yang masakannya disiapkan dan disajikan oleh orang Jogja atau orang Padang? Begitu juga ketika ingin menikmati Mie Bangka, tentu Anda tidak perlu pergi ke Bangka, tapi paling tidak ketika  penjualnya asli Bangka Anda akan lebih merasa nyaman menikmatinya. Dan contoh serupa lainnya dapat Anda cari sendiri.

Hal-hal tersebut adalah perasaan-perasaan normal yang diharapkan pelanggan. Ketika membawa asuransi syariah tetapi agennya tidak terlihat menjalankan kaidah-kaidah syariah maka perasaan nasabah akan kebenaran produk yang dibawa wajar diragukan. Selain berpenampilan dan berperilaku syariah, ada empat kaidah dalam bermuamalah;

  • Tauhid
  • Adil
  • Bebas Berkehendak
  • Bertanggung Jawab
  • Tauhid artinya selalu meng Esa kan Allah. Ada beberapa keutamaan ketika Agen bertauhid;
  1. Allah satu-satunya tempat bergantung (QS. Al Ikhlas : 2). Agen yang memahami ini akan selalu merasa tenang menghadapi nasabah dan calon nasabahnya. Agen tidak akan terburu-buru dan memburu nasabahnya untuk closing. Karena dia tahu, Allah tempat bergantung dan kepada Nya lah agen meminta rejeki. Ketenangan Agen inilah yang dibutuhkan calon nasabah. Ingat, asuransi bukan untuk menghilangkan ketakutan, tetapi asuransi adalah salah satu cara untuk menumbuhkan ketenangan.
  2. Tauhid dalam hal ini juga dapat diartikan segala sesuatu terjadi dan dilakukan karena Allah. Bekerja karena Allah, menjadi agen asuransi syariah juga karena Allah. Insyaa Allah hasil yang dibawa pulang kepada keluarga menjadi sedekah dan aktivitasnya mendapatkan pahala dakwah.
  3. Agen yang bertauhid menyadari bahwa asuransi bukanlah sebab dari pertolongan. Asuransi adalah sarana dari pertolongan Allah. Allah lah yang menolong dan asuransi perantaranya. Dengan demikian ketika agen asuransi berhadapan dengan calon nasabah yang conformist, ia tidak akan gusar dan ia, insyaa Allah akan mampu menjelaskan posisi asuransi dalam kehidupan bermuamalah seorang muslim yang taat.

 

  • Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Agen yang adil tahu kapan bekerja dan kapan berdoa. Tentu Anda juga tahu bahwa hidup ini membutuhkan D.U.I.T. Doa, Usaha, Ikhlas, Tawakal. Agen asuransi syariah adalah agen yang selalu berdoa dan dengan demikian pikiran dan hatinya selalu lekat dan sadar akan keberadaan Allah. Agen ini tidak akan melakukanhal-hal yang tidak etis karena ia tahu Allah selalu Mengawasinya.

Dalam beberapa kejadian agen lebih mementingkan komisi daripada misi yang sering didengungkan yaitu membantu nasabah dengan perlindungan. Atau agen dapat dengan mudah menutupi kebenaran agar calon nasabahnya segera closing atau menutup dirinya dengan asuransi. Agen asuransi syariah masih memiliki mindset yang lekat dengan materi. Motivasinya adalah uang sehingga untuk medapatkan uang, bisa melakukan apa saja.

Kami sering mencari tahu apakah agen memiliki mindset ini ketika mengajar di dalam kelas.

As-Salam: Bapak/Ibu datang kesini mau apa?

Peserta: Belajar

As-Salam: Untuk apa belajar?

Peserta: Supaya pinter, Pak.

As-Salam: Untuk apa pinter?

Peserta: Supaya gampang jual, Pak.

As-Salam: Untuk apa gampang jual?

Peserta: Supaya komisi besar, Pak.

As-Salam: Untuk apa komisi besar?

Peserta: Supaya bisa membeli yang kita mau dan liburan kemana saja, Pak.

As-Salam: Untuk apa itu semua?

Peserta: Supaya bahagia,Pak?

As-Salam: Kalau sudah bahagia, lalu apa?

Peserta: Jualan lagi, Pak.

As-Salam: LHO?? Lalu dimana ALLAH nya?

Hal-hal inilah yang banyak orang melihat asuransi syariah tidak ada bedanya dengan konvensional, hal ini karena yang dicitrakan sama saja. Asuransi syariah, sebagaimana produknya yang merupakan produk keuangan etis (yang menjunjung tinggi etika) adalah berbeda dengan konvensional.

Agen asuransi syariah tidak menggunakan cara-cara yang menjatuhkan satu pihak untuk meninggikan posisi tawarnya sendiri. Baru-baru ini beredar viral di media sosial sebuah gambar sekelompok pengendara motor dari ormas Islam tertentu yang tidak mengenakan helm yang berhadap-hadapan dengan seorang polisi dan dibawahnya tertulis narasi singkat yang mengesankan bahwa kelompok orang ini adalah pelanggar lalulintas yang tidak mengenakan helm dan mereka berdalih, dan saya yakin ini dusta, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam saja tidak mengenakan helm dan sudah selayaknya merekapun demikian. Kemudian ditambahkan dengan meng qiyas kan pemahaman orang-orang yang menolak berasuransi karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pun tidak mencontohkannya. Subhanallah, sadarkah kita, orang-orang yang beriman, bahwa berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam hukumannya sangatlah berat?

Anda, agen yang Adil, pasti hanya melakukan hal-hal yang layak disematkan pada profesi Anda bukan hal-hal yang malah menghinakan diri Anda sendiri.

  • Bebas Berkehendak. Anda tentu masih ingat kaidah fiqh yang kami bahas dalam artikel sebelumnya bahwa Hukum asal muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yang melarangnya. Jadi jika tidak ada dalil yang melarang asuransi, maka Anda boleh menjual asuransi syariah. Nasabah juga memiliki kebebasan kehendak apakah ia ingin menggunakan asuransi ataupun tidak karena hukum asalnya boleh-boleh saja bukan wajib.
  • Bertanggung Jawab, agen asuransi sebagai juru dakwah keuangan syariah dan juga pegiat tolong menolong akan dimintakan pertanggungjawabannya. Baik di hadapan nasabah maupun Penciptanya. Agen yang paham akan hal ini tentu akan selalu mendekatkan diri pada Allah karena kekhawatiran bukan terletak pada tidak terlindunginya nasabah dari risiko-risiko tetapi karena tidak terlindunginya diri kita dari dosa-dosa bermuamalah. Maka kita, agen asuransi syariah, akan sangat khusyuk mengucapkan doa dalam Al Fatihah ketika sholat اهدناالصراطالمستققيم (Ihdinash Shirotol Mustaqiim=Tunjukilah kami jalan yang lurus).

KESIMPULAN

  1. Pandangan kami, bisnis asuransi syariah adalah mulia karena dalam muamalah Anda juga melakukan dakwah. Pelajarilah ilmu-ilmunya, tingkatkan selalu, dan kembalilah pada nasabah Anda untuk memperbaiki hal-hal yang terlupa yang telah Anda lakukan sebelumnya
  1. Menjadi kaya adalah lebih banyak keutamaannya dari yang miskin. Memang ada hadits yang mengatakan bahwa orang kaya akan dihisab (diperhitungkan perbuatannya didunia) lebih lama dari orang miskin. Tetapi itu karena orang miskin tidak memiliki banyak harta untuk diperhitungkan.

Orang kaya memiliki lebih banyak peluang untuk melakukan amal sholeh seperti para sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, mereka yang kaya lebih banyak bersedekah daripada orang miskin.

  1. Allah memberi keutamaan pada siapa saja yang Allah inginkan. Ingatlah ini ketika kita belum merasa kaya. Dan mintalah hanya kepada DIA YANG MAHA KAYA. Bukan bergantung pada manusia apalagi menjual asuransi dengan cara-cara yang hina.
  1. Kenalilah nasabah-nasabah Anda, jika mereka menolak Anda ambilah ini menjadi tanggungjawab Anda. Bisa jadi mereka belum paham, atau Anda yang belum memahami mereka.
  1. Agen syariah harus benar-benar syariah. Ini bukan rasis apalagi SARA namun begitulah adanya. Ketika ingin menikmati Chinese food Anda lebih suka berkunjung ke restoran yang pengelolanya keturunan Tionghoa, kan? Anda tidak bisa dikatakan rasis dalam hal itu. Ini masalah selera pelanggan khususnya yang termasuk dalam kelompok Conformist. Akankah Anda membeli mobil Toyota di dealer Suzuki?

Wallahu a’alam…

Diselesaikan dalam perjalanan ke Medan 11 Dzulhijjah 1437/13 September 2016

www.assalamconsultant.com

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

MELATIH AGEN ASURANSI ITU (TIDAK) MUDAH? (Asuransi, Sebuah Bahasa Hati yang didengarkan oleh Hati)

Tiga Perlindungan Keuangan yang dimiliki dalam waktu bersamaan

Tiga Perlindungan Keuangan yang dimiliki dalam waktu bersamaan

Beberapa waktu lalu seorang kawan yang juga seorang trainer di sebuah perusahaan asuransi jiwa terkemuka di Indonesia menceritakan tentang kebijakan baru pemimpinnya yang mengarahkan bahwa trainer harus berperan lebih sebagai seorang fasilitator. Fasilitator yang artinya, ia hanya perlu memfasilitasi kegiatan di dalam kelas seperti diskusi dan praktik penjualan. Kembali kemudian ia menambahkan bahwa trainer mengalami kesulitan ketika melatih calon agen dan/atau agen baru karena kegiatan didalam kelas “macet”, peserta sulit untuk memulai diskusi dan praktik penjualan, nyatanya kebanyakan peserta pelatihan diperusahaan tersebut adalah agen pemula.

Ada tingkatan dan waktu yang tepat kapan kiranya seorang trainer berperan sebagai fasilitator. Mengacu pada teori bagaimana bahasa ibu (mother tongue) dipelajari dan dikuasai secara alamiah oleh setiap orang, maka ada tahapan sebelum seseorang mampu untuk memulai diskusi.

Proses dalam Language Acquisition yaitu Listening (Mendengar) –> Speaking (Berbicara) –> Reading (Membaca) –> Writing (Menulis)

Bagaimana seorang agen dapat diminta mempraktikkan presentasi penjualan sedangkan ia belum mampu membicarakan materi yang akan dipresentasikan. Bagaimana ia akan mampu membicarakan materi presentasi sedangkan ia belum pernah mendengar hal-hal yang harus dibicarakan dalam presentasi.

Biarkan seorang agen yang masih baru mendengarkan dan seorang trainer berperan sebagai seorang mentor yang menceritakan hal-hal yang perlu dipresentasikan mulai dari profil perusahaan hingga pengetahuan produk. Setelah proses tersebut selesai, biarkan peserta pelatihan mengulang-ulang materi yang harus dipresentasikan, dan dalam hal ini seorang trainer berperan sebagai pelatih, kemudian minta peserta untuk mempraktikkan, lalu minta melaporkan hasil praktiknya. Barulah pada saat ini trainer bisa berperan sebagai seorang fasilitator.

Seorang trainer yang terjebak dalam satu peran saja akan membuat pesertanya gagap dan gugup dalam menerima materi-materi pelatihan dan kemudian peserta yang adalah orang-orang dewasa akan menggunakan nalarnya masing-masing untuk menginterpretasikan materi yang dipelajari. Tidak dapat disangkal jika suatu ketika melihat hasilnya, akan banyak agen yang tidak fasih (well-spoken) dalam menyampaikan presentasinya. Fasih (well-spoken) dalam hal ini bukan hanya lancar dalam penyampainnya tetapi juga sesuai dalam memilih kata dan makna sesuai dengan kualitas dan situasi-kondisi kawan bicara.

Fenomena penggunaan skrip presentasi “Pak Ali dan konsep menabung 3 in 1” merupakan teknik yang paling cepat, berdasarkan pengamatan kami, untuk memampukan seorang agen baru membicarakan materi presentasi pada calon nasabahnya. Teknik, repeat after me ini sesuai dengan teori perkembangan dan penguasaan bahasa yang sudah kami bahas diatas. Yang harus seorang agen pemula lakukan adalah Dengarkan mentornya berbicara, dan Ulangi, begitu dan begitu terus hingga agen tersebut hapal dan lancar.  Namun kelemahannya adalah kelancaran presentasi tidak disertai kefasihan. Agen kurang memahami hal-hal terkait dengan yang dikatakannya, ia hanya “menghapal mati” skrip tentang pak Ali tersebut.

Contoh, ada makna kalimat dari skrip menabung 3 in 1. “Kalo nabungnya di tabungan bank, maka bunga sekitar 3% pertahun. Tapi kalo nabungnya di deposito, bunga sekitar 6% pertahun. Produk kita juga tabungan, Pak. Nama nya tabungan 3 in 1. Sama, nih. Pak Ali juga nabung 2 juta perbulan bulan pertama. Bulan kedua Pak Ali nabung 2 juta, bulan ketiga Pak Ali nabung 2 juta kalo Pak Ali nabung selama 100 kali maka uang Pak Ali akan menjadi 100 dikalikan 2 juta plus bunga tapi hebatnya Pak, kalo Pak Ali nabung di 3 in 1 bunga yang diberikan oleh 3 in 1 itu di kisaran 15% pertahun jadi lebih menarik 3 in 1 pak ya…” (https://www.youtube.com/)

Skrip diatas sangat menarik dan mudah dihapal. Namun pembuatan skrip yang tidak cermat hanya akan mebuat masalah di kemudian hari.

Agen baru akan menghadapi masalah jika ditanyakan kepadanya:

  1. Apakah perusahaan Anda bank juga?
  2. Apakah ada buku tabungannya?
  3. Apakah ada jaminannya seperti LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)?
  4. Jika bunganya 15% mengapa semua nasabah bank tidak berpindah semua ke tabungan ini?
  5. Apakah ada ATM nya?
  6. Apakah bisa diambil sewaktu-waktu?
  7. Apakah dana kami tetap utuh untuk diambil seluruhnya seperti menabung di bank?
  8. Apakah… Apakah… Apakah…?

Masih banyak “Apakah…Apakah” lainnya.

Tentu kita paham bahwa asuransi tidak serupa dengan tabungan dan investasi. Walaupun mereka mirip bukan berarti mereka sama. Mereka memiliki fungsi masing-masing yang harus dimiliki secara bersamaan. Penggunaan istilah tabungan dan bunga dalam produk yang sebenarnya berbeda akan sangat rawan masalah dikemudian hari. Komplain akan berdatangan jika kenyataannya “tabungan” dengan “bunga” 15% itu tidak benar-benar menghasilkan sesuai yang “dijanjikan”

Ini lah pentingnya agen asuransi mendapatkan pelatihan yang tepat. Teknik mem-beo adalah yang paling cepat memampukan agen baru berbicara, namun pembuatan skrip yang tidak melanggar norma-norma dan konsep produk sangat dibutuhkan.

Kedua, mem-beo saja tidak cukup. Agen harus diajarkan pengetahuan lanjutan agar memiliki wawasan keuangan yang sesuai dengan situasi dan kondisi sebenarnya. Dan dalam tahapan ini, barulah seorang trainer dapat berfungsi sebagai fasilitator.

Dengan menggunakan pendekatan Penguasaan Bahasa, seorang trainer dapat mengajarkan bagaimana presentasi adalah BAHASA ASURANSI YANG MUDAH DIPAHAMI DAN FASIH SESUAI FUNGSI.

Ingin membaca tulisan tentang asuransi lainnya dari As-Salam Training Consultant;

http://www.assalamconsultant.com/v3/category/artikel/

Untuk undang kami berbicara, melatih, dan berkonsultasi tentang asuransi jiwa syariah;

Info@assalamconsultant.com | andrie.setiawan@assalamconsultant.com |

Malang, 28 Syawal 1437 (2 Agustus 2016)

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

ASURANSI HARAM, ASURANSI SYARIAH JUGA HARAM (?)*

Bismillah, Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Setelah fokus padaAsuransi Syariah aktivitas di bulan Ramadhan, kami-As Salam Training Consultant-kembali menyapa Anda seraya berbagi manfaat dengan harapan kita semua mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Anda para praktisi asuransi syariah tentu paham bahwa dalam asuransi konvensional terdapat unsur yang dilarang oleh syariat yaitu Maisir, Gharar, dan Riba. Dengan demikian asuransi konvensional haram menurut syariat, atau terlarang.

Namun apa yang pendapat kita bahwa asuransi syariah juga haram?

Coba perhatikan larangan dari hadits Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam berikut ini,

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud no. 5004 dan Ahmad 5: 362. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits inihasan)

Kemudian ingat-ingat kembali bagaimana kita menawarkan produk asuransi syariah yang kita bawa. Sebagian besar masih menggunakan cara menakut-nakuti calon nasabah kita yang mereka itu juga termasuk saudara kita.

“Pak, bayangkan bagaimana jika mengalami sakit kritis, tentu bapak harus mengeluarkan uang yang sangat besar dari tabungan, dan jika tabungan tidak mencukupi maka bapak harus mencari pinjaman atau menjual aset.”

“Bagaimana jika bapak meninggal dunia dan bagaimana dengan biaya pendidikan anak-anak bapak?”

Kami masih sering menerima penawaran semacam ini melalui media-media yang sifatnya umum maupun personal.

Memang cara menawarkan produk terpisah dari sejatinya produk, namun nasabah Anda menganggap semua yang Anda bawa dan tawarkan merupakan satu kesatuan karena  kebanyakan nasabah tidak memahami produk dan seluk beluk asuransi syariah tersebut.

Maka selalu lakukan lah hanya yang Halal dan dengan cara yang Baik. Insyaa Allah di lain waktu kita akan bahas bagaimana menawarkan asuransi syariah dengan cara yang baik tanpa harus menakut-nakuti.

Asuransi bukan untukMenakut-nakuti,

Asuransi adalah untuk Ketenangan Hati.

Mohon Maaf Lahir dan Batin|Minal Aidin wal Fa Idzin|Taqobbalallahu Minna wa Minkum|Selamat Hari Raya Idul Fitri

*edisi revisi dengan menambahkan tanda (?) agar tidak membuat salah paham orang yang hanya membaca judulnya saja

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning
1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya