Header Image - As-Salam Training Consultant

Tag Archives

3 Articles

TADABBUR ANTARA AL QASHASH AYAT 77 DAN ASURANSI SYARIAH

YUK HIJRAH!

Seruan ini menjadi viral saat ini, terlebih berbondong-bondongnya kaum muda milenial yang bersemangat mengunjungi kajian-kajian Islam yang dan termutakhir ditandainya dengan banyak peserta yang hadir dalam Hijrah Fest di Jakarta lalu. Karenanya kami sebagai pegiat ekonomi syariah juga bersemangat mensyiarkan apa yang menjadi bagian dari kehidupan berIslam, yaitu berekonomi secara Islami.

Kami bukan ahli tafsir melainkan orang-orang yang berusaha untuk berIslam dengan baik dengan belajar dalam kajian-kajian dan sekolah-sekolah Islam yang kemudian kami sampaikan kembali dalam tulisan-tulisan dan pelatihan-pelatihan. Karenanya ijinkan kami mentadaburi sebuah ayat Al Quran yang bisa menjadi penyemangat kita melaksanakan hal-hal yang perlu kita kerjakan dalam berIslam. Dan tadabbur berarti merenungkan, memikirkan dan menghayati. Ketika kita melakukannya, kita dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kita berangkat dari tafsir Ibnu Katsir tentan ayat ini, Al Qashash : 77;

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah membangga-banggakan diri. Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah bersikap jahat dan sewenang-wenang, sebagaimana sikap orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.
Firman Allah Swt.:
{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash: 77)
Maksudnya, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.
{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash: 77)
Yakni yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan perkawinan. Karena sesungguhnya engkau mempunyai kewajiban terhadap Tuhanmu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap dirimu sendiri, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap keluargamu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap orang-orang yang bertamu kepadamu, maka tunaikanlah kewajiban itu kepada haknya masing-masing.
{وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ}
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Al-Qashash: 77)
Artinya, berbuat baiklah kepada sesama makhluk Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.
{وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ}
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. (Al-Qashash: 77)
Yaitu janganlah cita-cita yang sedang kamu jalani itu untuk membuat kerusakan di muka bumi dan berbuat jahat terhadap makhluk Allah.
{إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ}
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash: 77)
Kita diperintah untuk mencari negeri akhirat dengan apa yang Allah karuniakan pada kita. Kita memiliki uang, sejatinya itu adalah milik Allah, namun kita diuji untuk memilih. Apakah kita memilih untuk menggunakan di jalan Allah agar kita dapat akhirat yang baik, atau kita memilihnya untuk bermaksiat pada Allah.
 
Kita memiliki keluarga, Istri dan Anak-Anak, dan itu juga karunia dari Allah, apakah kita akan menggunakannya untuk mencari negeri akhirat atau menyiakannya sehingga pertanggunjawaban yang berat menanti kita di akhirat nanti.
 
Kita juga dikarunia akal. Dengannya kita menjadi makhluk modern. Ini pula yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan adanya akal, ada teknologi untuk mempermudah kehidupan dunia. Dengan adanya akal, ada metode dan mekanisme pengaturan keuangan. Dengannya pula bertujuan mempermudah kehidupan. Ada jual beli, ada utang piutang, ada simpan menyimpan, ada saling menjamin. Dan itu pula karunia Allah. Dan apakah kita akan menggunakannya untuk mencari negeri akhirat?
 
Asuransi merupakan hasil pemikiran manusia, sama seperti handphone, laptop, atau apapun yang Anda gunakan untuk membaca artikel ini. Hasil pemikiran ini bisa saja ada kekurangannya dan begitulah sunatullah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun kami yakin bahwa pemikiran manusia dalam hal ini digunakan untuk bertujuan baik walaupun dalam praktiknya bisa saja keluar dari koridor Islam. Dan untuk itulah kita memikirkannya bagaimana karunia-karunia itu bermanfaat dalam berIslam. Karena itu juga lahirlah Asuransi Syariah yang menggunakan kaidah-kaidah Islami. Kita tidak lagi sedang membahas kesyariahan asuransi syariah. Silakan periksa tulisan-tulisan kami yang berbicara tentang ini.
 
Ketika kita sudah sepakat bahwa Asuransi Syariah adalah karunia dari Allah. Mari kita pergunakan ini untuk mencari negeri akhirat. Dalam asuransi syariah, ada tolong-menolong sesama peserta. Dalam asuransi syariah, ada sedekah pada anak-anak kita, yang dalam An Nisaa’ ayat 9 kita diminta takut meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan yang lemah.
 
Dalam mekanisme asuransi syariah ini pula ada bagian kecil yang bisa kita nikmati dalam kehidupan dunia ini. Yaitu ketika kita sedang terkena musibah dan dana tolong menolong ini diberikan pada kita sebagai santunan sehingga hal itu dapat meringankan keadaan kita
 
Sungguh tolong-menolong ini yang disukai Allah, karena hal ini juga yang termaktub dalam ayat ini. Maka tolong menolonglah kita dengan nama Allah dan jangan berbuat kerusakan karena Allah tidak mencintai orang yang berbuat kerusakan. Bagaimana Asuransi syariah menjaga diri dari kerusakan? Mekanisme riba, mekanisme judi sangat merusak dan yang mengerikan adalah kerusakannya tidak terlihat jelas saat-saat awal. Pelan-pelan tetapi membuat kita kehilangan segalanya dan di saat itu barulah orang-orang merasakan ketidak-adilan. Asuransi syariah menghindarkan diri dari Maisir, Gharar, dan Riba sehingga ini adalah karunia Allah yang digunakan untuk menjaga keadilan bermuamalah dan menghindarkan diri dari kerusakan.
 
Akhirnya, berasuransi syariah dapat dijalankan dengan mentadabburi ayat-ayat Al Quran yang dengannya tujuan kita adalah untuk menjalankannya karena Allah sehingga kita berharap pahala dari Nya dan mendapatkan negeri akhirat yang kita cari.
 
Allahu a’lam.
 
Andrie Setiawan

MUAMALAH SALAH SATU KUNCI SURGA

Orang beriman merindukan surga dan orang tak beriman takut meninggalkan dunia. Jika saja kita tahu bahwa dosa-dosa yang selama ini sudah diampuni dan kita bersih dari dosa, tentu kita akan berharap untuk segera berjumpa dengan Nya. Karena surga adalah isinya hanya kenikmatan dan tidak ada lagi kesulitan. Orang-orang yang tidak beriman takut mati karena merasa dunia adalah kenikmatan yang besar.

Sebelum masuk surga, kita harus melalui hari perhitungan. Perhitungan aktivitas kita selama di dunia. Ada dua yang akan di perhitungkan.

Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” (HR. An-Nasa’i no. 3991. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

dan penjelasan untuk hadits ini dari An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu yaitu;

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah’ menunjukkan pentingnya masalah darah. Sehingga hal itu merupakan perkara yang diputuskan pertama kali di antara manusia pada hari kiamat. Hal ini disebabkan karena agungnya masalah ini dan besarnya bahayanya.

Hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits terkenal di dalam As-Sunan, ‘Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat’, karena hadits yang ke dua ini berkaitan dengan urusan yang terjadi antara seorang hamba dan Allah Ta’ala. Adapun hadits ini berkaitan dengan urusan yang terjadi di antara sesama manusia.” (Al-MInhaaj Syarh Shahih Muslim, 1/167).

Betapa pentingnya urusan yang terjadi diantara sesama manusia yang bisa memasukkan kita kedalam surga atau sebaliknya menjerumuskan kedalam neraka.

Maka berhati-hatilah dalam urusan ini karena sering kali urusan ini terabaikan. Orang mengira bahwa agama hanyalah urusan antara hamba dengan Allah saja. Mereka tidak resah ketika mereka menyakiti saudaranya, mereka tidak gelisah ketika saudaranya hidup susah. Berhati-hatilah dalam urusan dunia.

Wallahu a’alam. 

 

 

RIBA (bagian 1)

Semakin sadar masyarakat akan kebutuhan sistim keuangan Islami, semakin banyak produk-produk keuangan Islami diserbu pada nasabah. Salah satu yang menjadi alasan masyarakat memilih produk keuangan Islami adalah agar terhindar dari riba.

Lalu apa itu riba?

“Riba berarti pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip transaksi secara Islam.”  (Modul Sertifikasi Keahlian Asuransi Syariah Tingkat Dasar Islamic Insurance Society).

Jadi, riba dapat terjadi didalam dua jalan, yaitu melalui utang (pinjam meminjam) dan pertukaran (jual beli).

Riba dalam mekanisme pinjam meminjam tentu Anda telah paham. Jika Bapak A meminjam uang pada Bapak B dan menjanjikan akan membayar lebih banyak saat pengembalian, maka tambahan tersebut adalah riba dari pinjaman atau disebut riba qardh.

Dan ketika Bapak A tidak mampu melunasi sesuai dengan tempo yang ditentukan kemudian dikenakan denda (tambahan uang) maka denda (tambahan) tersebut juga termasuk riba atau biasa disebut riba jahiliyyah.

Lalu bagaimana dengan riba yang terjadi dalam jual beli?

Riba ini terjadi atas barang-barang ribawi. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang termasuk barang ribawi adalah emas, perak, gandum, sya’ir, kurma, garam.

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Misal, Bapak A ingin menukarkan emasnya dengan bapak B maka yang harus dilakukan adalah

  1. Penukaran emas harus diselesaikan secara tunai saat terjadi akad. Tidak boleh ditunda.
  2. Kuantitasnya harus sama. 1 gram ditukar dengan 1 gram, 5 gram dengan 5 gram, dan seterusnya.

Jika Bapak A menyerahkan 7 gram dan Bapak B menyerahkan 5 gram, maka 2 gram selisih yang diterima Bapak B adalah riba. Riba ini disebut riba fadhl

Jika Bapak B menyerahkan emas nya, misal, dua hari kemudian setelah akad maka tambahan hari tersebut adalah riba yang dikenal dengan sebutan riba nasi’ah.

Apakah jika Bapak A memiliki emas 22 karat dan Bapak B memiliki emas 24 karat tetap harus ditukarkan dalam berat yang sama?

Benar, karena persyaratan pertukaran barang sejenis menurut hadits diatas hanya adala dua yaitu TUNAI dan SAMA KUANTITASNYA.

Bagaimana jika yang ditukarkan berbeda, misal emas dengan perak?

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

Dari hadits diatas, pertanyaan sudah terjawab yaitu boleh dengan kuantitas berbeda namun tetap dilakukan secara tunai atau kontan.

Penjelasan diatas tidak terdapat uang, apakah pertukaran uang dengan uang baik dengan tambahan jumlah ataupun dilakukan tidak tunai juga disebut riba?

Para ulama berpendapat bahwa uang memiliki illat karena fungsi yang sama dengan emas dan perak yaitu sebagai alat tukar. Maka pertukaran uang dengan uang juga harus mengikuti ketentuan diatas.

Kecuali, pertukaran mata uang yang berbeda jenisnya, misal Rupiah dengan Dolar maka kuantitas bisa berbeda dan tidak harus 1 Rupiah ditukar dengan 1 Dolar. Namun tetap harus dilakukan secara TUNAI.

Semoga bermanfaat dan insyaa Allah kita akan lanjutkan dalam tulisan berikutnya, apa bahayanya riba, apakah ada agama lain selain Islam yang mengharamkan riba? Dan bagaimana bentuk riba dalam asuransi jiwa, apakah hanya dalam hal simpanan dan investasi ribawi atau pada pokok prinsip dan operasionalnya?

Namun sebelum berpisah, ada baiknya Anda menjawab pertanyaan dibawah sebagai bahan evaluasi.

 

Mari kita uji pemahaman kita tentang riba.

  1. Bapak A meminjam uang Rp. 100.000,- pada Bapak B dan berjanji mengembalikannya dalam waktu 2 hari. Dalam perjanjian Bapak A harus mengembalikan dalam jumlah yang sama.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

 

  1. Bapak A meminjam uang Rp. 100.000,- pada Bapak B dan berjanji mengembalikannya dalam waktu 2 hari. Dalam perjanjian Bapak A harus mengembalikan dengan menambahkan Rp. 10.000 atas utangnya.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

 

  1. Bapak A menukarkan beras jenis rojo sepat dengan beras jenis ciomas milik Bapak B. Karena beras rojo sepat kualitasnya lebih baik dari beras ciomas, maka Bapak A menukar 1 karung rojo sepat dengan 2 karung ciomas milik Bapak B. Beras ditukar tunai saat akad.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

Catatan: Ada pendapat mengatakan bahwa beras memiliki illat yang sama dengan gandum dan kurma yaitu sebagai bahan makanan pokok yang dapat ditakar dan disimpan.

 

  1. Bapak A menukarkan 1 karung beras rojo sepat dengan 2 karung tepung terigu milik Bapak B secara tunai pada saat akad.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

 

  1. Bapak A bekerja sebagai seorang pengendara ojeg bagi Bapak B. Bapak B membayar ongkos ojegnya dari sebuah bank ribawi yang bernama Bank Global Sentral Riba.

Apakah ada riba dalam penghasilan Bapak A?

Jika ada, riba apa?

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

 

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya