Header Image - As-Salam Training Consultant

Tag Archives

5 Articles

RIBA (Bagian 5) – Salah Satu Pilar Sistim Keuangan Setan

Dalam tulisan lalu kita sudah membahas bahaya riba terhadap kehidupan sosial. Dan tadi pagi, sepulang mengantar anak saya (penulis) ke sekolah, bahaya itu pun ditampakkan dihadapan saya. Pernahkah Anda memikirkan kenapa beberapa tahun terakhir ini jalanan macet semakin menjadi-jadi? Apa penyebabnya? Kendaraan motor dan mobil? Iyak bener. Dapatkah Anda memikirkan lebih dalam lagi? Karena produksi kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat meningkat? Betul. Dapatkah Anda memikirkan lebih dalam lagi? Karena permintaan kendaraan meningkat? Dapatkah Anda memikirkannya lebih dalam lagi? Karena kebutuhan akan kendaraan meningkat? Dapatkah Anda memikirkannya lebih dalam lagi? Karena ada kemudahan dalam membeli kendaraan? Yak betul, kredit. Cicilan dengan bunga, lagi-lagi riba.

Dan riba ini lah yang seolah-olah menciptakan kebutuhan akan kendaraan.

Yang udah punya sepeda, pingin punya motor. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Yang udah punya motor satu pingin punya dua, buat istrinya ke pasar. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. Biar istri kagak punya SIM yang penting roda motor bisa gelinding.

Yang udah punya dua, pingin punya  tiga, buat anaknya yang masih SMP ke sekolah. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Yang udah punya motor, pingin punya mobil. Biar kalo jalan-jalan bisa sekeluarga, karena anak udah dua. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Udah punya mobil buat sekeluarga ternyata kakek dan nenek nya anak-anak belom bisa terangkut. Ganti mobil yang gedean. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Udah punya mobil yang gedean ternyata istri pingin ikutan nyetir biar kalo ke pasar atau nganter anak yang kecil ke sekolah gak kehujanan. Tambah, beli lagi mobil yang kecilan. Uang buat beli tunai gak ada, kredit aja, gampang. 

Apakah ini yang terjadi pada Anda? Seolah-olah kebutuhan itu tercipta secara alamiah tetapi sebetulnya yang terjadi adalah manipulasi pikiran (baca: syahwat) Selalu punya keinginan lebih dan lebih lagi. 

Ketika kendaraan itu keluar semua dari rumah dalam waktu bersamaan, Anda bisa bayangkan apa yang terjadi? MACET!

Apakah masalahnya hanya macet? TIDAK.

Gambar adalah ilustrasi kemacetan

Apakah halal membawa kendaraan tanpa memiliki Surat Ijin Mengendara (SIM)? HARAM! Setelah kita melakukan transaksi membeli motor dengan cara yang batil (dengan riba), jelas bahwa kebatilan lainnya akan mengikuti. Yaitu mengendara tampa SIM sudah menjadi satu hal yang biasa bagi Anda. Ingatlah bahwa seorang muslim terikat dengan peraturan (kesepakatan). Anda tahu peraturannya bahwa mengendarai motor harus memiliki SIM, lalu mengapa kita dengan santai melanggarnya? Karena kita memulai dengan cara yang haram ketika membeli motor tersebut.

Anak Anda yang masih SMP mengendarai motor, apakah memiliki SIM? Sudah pasti tidak, kan? Apakah mengenakan pelindung standar seperti helm? Sebagian besar tidak. Apakah mengendarai kendaraan tersebut dengan santun mengikuti peraturan dan etika di perjalanan? Kebanyakan tidak? Mengapa hal itu terjadi? Karena hal yang bahaya yang lebih besar sudah kita abaikan ketika memulai membeli kendaraan tersebut.

Tentu Anda tahu apa yang biasa terjadi dalam setiap kemacetan. Apakah yang keluar dari mulut orang-orang adalah dzikir mengingat Allah? Seperti misalnya, Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu AkbarLaa hawla wa laa quwwata illa billah? TIDAK. Yang keluar dari mulutnya adalah omongan yang tidak bermanfaat bahkan tak jarang mengumpat, menghina, mencaci, dan mencela.

Apakah orang-orang yang mengalami kemacetan kemudian bersabar mengantri seseuai dengan jalur dan jalannya? TIDAK, mereka mengambil jalur yang berlawanan dan mengambil jalan orang lain sehingga makin memperparah keadaan. Kezaliman-kezaliman sambung-menyambung terjadi, mengapa? Karena kita sudah memulai memiliki kendaraan tersebut dengan kezaliman terhadap diri sendiri.

Bahkan tadi pagi, seorang anak SMP di atas motornya berusaha menyerobot memotong antrian dengan cara menggeber-geber gas motornya yang membuat  seorang bapak marah karena jalurnya terpotong dan terhambat. Lalu, tahukah Anda apa yang terjadi? Anak itu menoleh dengan mata membelalak ke arah si bapak kemudian berkata, “Udah terlambat (nih) pak!” Subhanallah, beginikah adab seorang pemuda kepada orang yang lebih tua yang diajarkan Islam? Saat kemacetan terjadi, banyak orang berkerumun dengan kendaraannya yang sebagian besarnya pasti beragama Islam (tertulis di KTPnya), lalu kemana semangat kebaikan dan semangat berjamaah, kemana semangat memuliakan saudaranya sendiri, kemana kesabaran, kemana adab? Ini semua dipicu oleh RIBA dalam kemudahan memiliki kendaraan. Setan benar-benar telah berhasil mengacaukan umat Islam di Indonesia.

 

SALAH SATU PILAR SETAN DALAM EKONOMI ADALAH RIBA

Riba merupakan satu sistim pencurian dan perampokan yang dilegalkan. Bagaimana itu bisa terjadi? Bayangkan ini, saya adalah sebuah bank sentral yang berhak mencetak uang, dan Anda adalah warga biasa yang tidak berhak mencetak uang. Katakanlah kemudian, saya mencetak uang pecahan KRUT 100.000 (KRUT = anggap saja ini mata uang yang saya cetak, seperti RP, ataupun USD) sebanyak 1000 lembar. Total nominal uang yang saya cetak adalah KRUT 100.000 x 1000 lembar = KRUT 100.000.000.

Lalu saya pinjamkan pada Anda semuanya dengan jaminan rumah Anda, dan Anda harus membayar bunganya sebesar 10% per tahun. Apakah Anda sudah lihat permasalahannya? Saya sedang merampok rumah Anda.

Berapa yang harus Anda kembalikan ke saya tahun depan? KRUT 100.000.000 + KRUT 10.000.000 = KRUT 110.000.000. Berapa lembar yang Anda harus kembalikan pada saya? 1100 lembar. Berapa lembar yang saya pinjamkan? 1000 lembar. Ada bunga sebanyak 100 lembar yang harus dibayarkan pada saya. Bagaimana Anda dapat mengembalikan itu pada saya padahal Anda tidak memiliki hak untuk mencetak uang sendiri? ANDA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBAYAR UTANG ANDA dan saya mendapatkan rumah Anda. Modal saya hanya kertas yang dicetak dengan gambar dan meyakinkan Anda bahwa uang saya bernilai (jika tidak di dukung dengan aset, secara intrinsik ini hanya sekedar kertas), lalu saya mendapatkan rumah Anda.

INILAH PILAR SETAN DALAM EKONOMI yang akan membuat kita saling menzalimi. Mungkin Anda bertanya bahwa ilustrasi diatas terlalu sederhana dan berbeda dengan kondisi sebenarnya bahwa yang kredit kan banyak dan uang Anda untuk membayar bunga bisa didapat dari bekerja.

Jika Anda memahami prinsip sederhananya, maka insyaa Allah Anda akan memahami konsep luasnya. Jika bukan Anda yang disita asetnya, maka akan ada orang lain yang disita asetnya.

“TAPI ITU KAN ORANG LAIN, YANG PENTING BUKAN SAYA!”

Disitulah setan telah berhasil membuat manusia menjadi egois dan memikirkan diri sendiri, tidak lagi mencintai saudaranya dan dari pintu itu setan akan bermain dan dengan mudah memecah belah sampai tahap selanjutnya.

Nauzubillahi min zalik.

 

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

RIBA (Bagian 4) – Bahaya riba terhadap kehidupan sosial

Tentu para pembaca sudah tahu bahwa ekonomi Islam dibangun diatas 4 (empat) pilar yaitu; Tauhid, Adil, Kebebasan Kehendak, Tanggungjawab. Umat Muslim sadar betul bahwa rezeki adalah Allah yang beri dan dunia serta isinya diciptakan Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia. Karenanya manusia harus terus ingat bahwa semua ini ada karena Allah dan harus digunakan untuk kemaslahatan sesuai dengan perintah Allah.

Karenanya manusia diperintahkan untuk berlaku adil agar tidak ada pihak manapun yang merasa teraniaya atau terzolimi, walaupun kita diberikan kebebasan kehendak dalam menggunakan harta yang kita pegang untuk kebutuhan kita, tetapi tetap saja kita akan dimintai pertanggungjawaban dari mana dan kemana harta kita didapat dan dibelanjakan. Memahami hal ini, maka harta menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk menjalankan kehidupan yang penuh dengan keimanan.

Allah melarang riba karena praktik ini melanggar prinsip keadilan. Tentu Anda sudah dapat mengira ketika keadilan sudah tiada, dan ada pihak yang merasa teraniaya maka terasa sempitlah kehidupan dunia; sengketa, kesenjangan, hasad dan hasut, berselisih, dan akhirnya manusia jauh dari Allah (Tauhid). Dan ini lah yang diinginkan iblis; “dia (iblis) berkata, ‘Rabb ku, oleh karena Engkau telah memutuskan aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al Hijr:39).

Harta adalah karunia Allah yang kita gunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat, sehingga jelas bahwa tujuan kita adalah bukan dunia. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al Qasas:77) maka beruntunglah Anda yang Allah beri karunia kelebihan harta yaitu yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Ini mengapa dalam Islam diperbolehkan mencari rezeki yang banyak untuk digunakan dalam hal seperti ini. Anda yang memiliki mobil mewah dapat memberi tumpangan bagi tetangga-tetangga untuk diajak menuju tempat-tempat kajian ilmu, Anda yang memiliki rumah besar dapat menjadikannya tempat-tempat kajian, Anda yang memiliki uang banyak dapat Anda gunakan untuk membantu terlaksananya kegiatan-kegiatan kajian-kajian ilmu dan inilah harta yang bermanfaat.

Harta adalah “budak” manusia, bukan sebaliknya. Harta harus tunduk pada kehendak manusia bukan sebaliknya, kita, manusia, bekerja siang malam melalaikan hak-hak Allah, sholat lewat, dzikir tak sempat, zakat tak pernah terlihat, seluruh waktu dicurahkan untuk mencari harta. Ketika Anda ditanya, “untuk siapa harta ini?” Anda menjawab, ” Untuk anak dan istri.” Boleh kah yang demikian itu? Mencari harta untuk menafkahi keluarga adalah keharusan tetapi hingga membuat Anda lalai dari hak-hak Allah, itu yang bermasalah. “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al Munafiqun:9).

Dan disaat demikianlah kita sudah menjadi hamba harta, bukan lagi hamba Allah. Terlebih utang ribawi yang Anda harus bayarkan, yang Anda juga tentu sudah tahu bahwa bunga tersebut adalah compounded alias bunga berbunga yang ketika Anda telat membayar maka bunga akan berlipat dan semakin besar sehingga disaat itu Anda akan disibukkan olehnya karenanya semakin sedikitlah waktu untuk mengingat Allah. Anda atau istri Anda akan didatangi preman-preman penagih utang. Anda akan diintimidasi dan dicaci karena hutang tidak dapat terlunasi dan disaat ini lah Anda kehilangan harga diri dan disaat ini pula adalah saat yang paling kritis bagi keimanan Anda, untuk menyelamatkan diri, Anda akan tetap menyembah Allah atau “menyembah” yang lainnya.

Itulah diantara bahaya riba bagi diri sendiri dan keluarga yang nantinya akan berdampak pada sosial Anda. Di saat -saat tersebut menyesali keputusan kita di masa lalu ketika mengambil utang ribawi sepertinya tidak terlalu bermanfaat sebelum masalah pelunasan terselesaikan. Anda akan menyalahkan situasi dan pihak pemakan riba bahwa ini tidak adil.

Benar, Riba memang bertentangan dengan keadilan, karena itulah riba dilarang dalam Al Qur’an. Riba dianggap CURANG dan EKSPLOITATIF karena:

  1. Kreditur mengambil bunga (uang) dari debitur tanpa mau menanggung risiko kerugian. Contohnya dalam utang bisnis, kreditur tidak peduli apakah debitur yang sedang berbisnis sedang mengalami keuntungan atau kerugian, kreditur tetap harus mendapat bunga.
  2. Kreditur tidak bekerja dan mendapatkan uang sedang debitur bekerja keras untuk membayar bunga.
  3. Maka yang memiliki modal (kapital) akan semakin kaya dan yang miskin harus terus bekerja untuk membayar bunga. Ini lah ide kerusakan sistim kapitalisme.

Riba memiliki efek yang sama seperti morfin, seolah terlihat mengobati menghilangkan rasa sakit, namun kemudian Anda akan kesulitan lepas dari jeratannya.

Karenanya saudaraku, BERSABARLAH, jika kau memiliki hajat bersabar dan sholatlah meminta pertolongan Allah, bertakwa dan berserah dirilah pada Allah, insyaa Allah akan diberi jalan keluar, kecukupan dalam hidup, dan kemudahan dalam usaha dan Allah akan melipat gandakan pahala dan menghapuskan dosa-dosa.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At Talaq:2)

“…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …” (QS. At Talaq:3)

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At Talaq:4)

“…, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At Talaq:5)

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

RIBA (Bagian 3) – Apa yang kau Banggakan?

Kita telah membahas dalil larangan riba yang sebelumnya didahului dengan bentuk-bentuk riba, tentu Anda, pembaca, sudah semakin paham apa itu riba beserta dalil larangannnya. Berikutnya tulisan ini berusaha untuk menjadi pengingat diri bahwa bisa jadi kita masih terlibat riba dan bahkan kita masih berencana bertransaksi dengan riba. 

Ini adalah untuk Anda, seorang praktisi keuangan muslim, yang Anda tentu yakin bahwa Allah adalah yang Anda sembah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah utusan Allah dan orang yang Anda tiru dalam kehidupan sehari-hari, dan juga Anda yakin bahwa Al Quran yang berisi perintah dan larangan serta pedoman hidup umat muslim adalah ayat-ayat Allah, maka sudah sepatutnya kita masuk kedalam Islam secara kaaffah. Yaitu masuk secara sempurna, tidak sebagian maupun tidak setengah-setengah.

Bagi Anda, praktisi keuangan syariah, Islam adalah bagai satu-satunya kendaraan yang berada dijalan yang benar dan menuju ke tujuan yang benar dan ketika Anda hendak naik kedalamnya naiklah dengan seluruh tubuh Anda, seluruhnya, tidak sebagian, tidak pula setengah-setengah. Maka sudah saatnya pula Anda meninggalkan riba yang dilarang dalam Islam.

Dalam aktivitas Anda sehari-hari sebagai praktisi keuangan syariah, tidak dipungkiri Anda berada dalam lingkungan yang sangat bersemangat dalam mencari penghidupan dunia. Itu tidaklah salah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tenggelam didalam urusan dunia ini.

Tidak jarang kita dimotivasi dengan harta yang berkilauan, mobil mewah, rumah mewah, dan liburan mewah. Hati-hati lah saudaraku, kita yang kemudian jauh dari Allah akan terperosok memaksakan diri untuk memerolehnya dengan cepat menggunakan cara-cara yang terlarang yaitu membuat transaksi ribawi.

Membeli mobil dengan cara riba,

Membeli rumah dengan cara riba,

Liburan dengan berutang riba,

Tidakkah kita tahu bahwa Allah dan RasulNya sudah pernah mengingatkan tentang larangan riba?

Allah telah menyiapkan siksa yang pedih untuk kita yang masih bertransaksi ribawi?

Allah akan menghancurkan harta kita?

Allah dan RasulNya akan memerangi kita?

Dosa riba yang paling ringan sama dengan menikahi ibu kandungnya sendiri?

Dan riba sebesar 1 dirham saja buruknya lebih dahsyat dari 36 wanita pezina? (1 Dirham = Rp 65.339,- | sumber: http://www.salmadinar.com/update-harga/)

Ketika Anda menaiki mobil dengan cicilan ribawi, tidakkah Anda terbayang wajah ibu Anda, tidak kah Anda meyakini Al Qur’an dan Hadits bahwa Anda sedang MENIKAHI IBU ANDA SENDIRI?

Berapakah riba yang Anda bayarkan untuk rumah Anda? Hitunglah itu senilai berapa dirham? Kalikan dengan 36 wanita pezina. Seberapa burukkah rumah Anda itu?

Saudaraku, maka dari itu, tenangkan lah hatimu, bersabarlah agar Anda bisa memperolehnya tanpa riba. Dan Anda sebagai praktisi keuangan Islami, bukankah Anda terus mempromosikan bahwa sistim keuangan ini adalah bebas gharar, maisir, dan riba? Lalu mengapa Anda masih melakukan riba?

Sekali lagi mari tinggalkan ini dan bersabarlah agar terhindar dari kebencian Allah. Tidakkah Anda merasa susah ketika Anda dibenci atasan Anda, kawan dekat Anda, atau orang yang Anda cintai? Maka tidak ada perasaan yang lebih susah dari pada dibenci Allah, Tuhan semesta alam yang menciptakan kita semua.

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS. As Saff ; 2-3)

LALU APA YANG DAPAT KAU BANGGAKAN DENGAN INI SEMUA?

Maka bersabarlah dan belilah barang-barang kebutuhan Anda secara tunai atau paling tidak bukan dengan cara transaksi ribawi.

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

RIBA (Bagian 2) – Larangan Riba

Setelah mengetahui bentuk awal dari riba, kini saatnya kita mengetahui dalil-dalil pelarangan riba yang berasal dari Al Qur’an dan Al Hadits;

Ar Rum : 39

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)

An Nisaa : 161

dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih

Ali Imran : 130 – 132

130 Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

131 Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

132 Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.

Al Baqarah : 275 ,276, 278, 279,

275 Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

276 Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa

278 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman

279 Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Dari Jabir ra.: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mengutuk penerima dan pembayar bunga, orang yang mencatatnya, dan saksi mata dari transaksi tersebut dan mengatakan. ‘mereka semua sama(dalam dosa)’

[Muslim-Kitab al Musawat, Tirmidhi, Musnad Ahmad]

Dari Anas ibn Malik ra.: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Ketika salah satu di antara kalian memberikan pinjaman dan yang meminjam menawarkan makanan, janganlah kamu memakannya; dan jika yang meminjam menawarkan tumpangan pada hewannya, janganlah kamu menaikinya, kecuali mereka sebelumnya sudah terbiasa dengan saling bertukar bantuan.”

[Baihaqi, 1344 H, Kitab Al Buyu’]

Diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri bahwa pada suatu ketika Bilal membawa barni (sejenis kurma berkualitas baik) ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkannya?” Bilal menjawab, “Saya mem-punyai sejumlah kurma dari jenis yang rendah mutunya dan menukar-kannya dua sha’ untuk satu sha’ kurma jenis barni untuk dimakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam“, selepas itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus berkata, “Hati-hati! Hati-hati! Ini sesungguhnya riba, ini sesungguhnya riba. Jangan berbuat begini, tetapi jika kamu membeli (kurma yang mutunya lebih tinggi), juallah kurma yang mutunya rendah untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut untuk membeli kurma yang bermutu tinggi itu.”

[H.R. Bukhari no. 2145, kitab Al Wakalah]

Dari Abdullah bin Masud RA dari Nabi SAW bersabda,”Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang laki-laki menikahi ibunya sendiri.

[HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim]

Dari Abdullah bin Hanzhalah ghasilul malaikah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,”Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan sadar, jauh lebih dahsyat dari pada 36 wanita pezina.

[HR. Ahmad]

Seandainya kami tidak khawatir tulisan ini menjadi terlalu panjang, maka kami akan mencari dan menambahkan dalil-dalil tersebut kedalam tulisan ini. Semoga yang sedikit ini dapat menjadi referensi keilmuan tentang terlarangnya riba.

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

RIBA (bagian 1)

Semakin sadar masyarakat akan kebutuhan sistim keuangan Islami, semakin banyak produk-produk keuangan Islami diserbu pada nasabah. Salah satu yang menjadi alasan masyarakat memilih produk keuangan Islami adalah agar terhindar dari riba.

Lalu apa itu riba?

“Riba berarti pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip transaksi secara Islam.”  (Modul Sertifikasi Keahlian Asuransi Syariah Tingkat Dasar Islamic Insurance Society).

Jadi, riba dapat terjadi didalam dua jalan, yaitu melalui utang (pinjam meminjam) dan pertukaran (jual beli).

Riba dalam mekanisme pinjam meminjam tentu Anda telah paham. Jika Bapak A meminjam uang pada Bapak B dan menjanjikan akan membayar lebih banyak saat pengembalian, maka tambahan tersebut adalah riba dari pinjaman atau disebut riba qardh.

Dan ketika Bapak A tidak mampu melunasi sesuai dengan tempo yang ditentukan kemudian dikenakan denda (tambahan uang) maka denda (tambahan) tersebut juga termasuk riba atau biasa disebut riba jahiliyyah.

Lalu bagaimana dengan riba yang terjadi dalam jual beli?

Riba ini terjadi atas barang-barang ribawi. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang termasuk barang ribawi adalah emas, perak, gandum, sya’ir, kurma, garam.

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Misal, Bapak A ingin menukarkan emasnya dengan bapak B maka yang harus dilakukan adalah

  1. Penukaran emas harus diselesaikan secara tunai saat terjadi akad. Tidak boleh ditunda.
  2. Kuantitasnya harus sama. 1 gram ditukar dengan 1 gram, 5 gram dengan 5 gram, dan seterusnya.

Jika Bapak A menyerahkan 7 gram dan Bapak B menyerahkan 5 gram, maka 2 gram selisih yang diterima Bapak B adalah riba. Riba ini disebut riba fadhl

Jika Bapak B menyerahkan emas nya, misal, dua hari kemudian setelah akad maka tambahan hari tersebut adalah riba yang dikenal dengan sebutan riba nasi’ah.

Apakah jika Bapak A memiliki emas 22 karat dan Bapak B memiliki emas 24 karat tetap harus ditukarkan dalam berat yang sama?

Benar, karena persyaratan pertukaran barang sejenis menurut hadits diatas hanya adala dua yaitu TUNAI dan SAMA KUANTITASNYA.

Bagaimana jika yang ditukarkan berbeda, misal emas dengan perak?

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

Dari hadits diatas, pertanyaan sudah terjawab yaitu boleh dengan kuantitas berbeda namun tetap dilakukan secara tunai atau kontan.

Penjelasan diatas tidak terdapat uang, apakah pertukaran uang dengan uang baik dengan tambahan jumlah ataupun dilakukan tidak tunai juga disebut riba?

Para ulama berpendapat bahwa uang memiliki illat karena fungsi yang sama dengan emas dan perak yaitu sebagai alat tukar. Maka pertukaran uang dengan uang juga harus mengikuti ketentuan diatas.

Kecuali, pertukaran mata uang yang berbeda jenisnya, misal Rupiah dengan Dolar maka kuantitas bisa berbeda dan tidak harus 1 Rupiah ditukar dengan 1 Dolar. Namun tetap harus dilakukan secara TUNAI.

Semoga bermanfaat dan insyaa Allah kita akan lanjutkan dalam tulisan berikutnya, apa bahayanya riba, apakah ada agama lain selain Islam yang mengharamkan riba? Dan bagaimana bentuk riba dalam asuransi jiwa, apakah hanya dalam hal simpanan dan investasi ribawi atau pada pokok prinsip dan operasionalnya?

Namun sebelum berpisah, ada baiknya Anda menjawab pertanyaan dibawah sebagai bahan evaluasi.

 

Mari kita uji pemahaman kita tentang riba.

  1. Bapak A meminjam uang Rp. 100.000,- pada Bapak B dan berjanji mengembalikannya dalam waktu 2 hari. Dalam perjanjian Bapak A harus mengembalikan dalam jumlah yang sama.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

 

  1. Bapak A meminjam uang Rp. 100.000,- pada Bapak B dan berjanji mengembalikannya dalam waktu 2 hari. Dalam perjanjian Bapak A harus mengembalikan dengan menambahkan Rp. 10.000 atas utangnya.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

 

  1. Bapak A menukarkan beras jenis rojo sepat dengan beras jenis ciomas milik Bapak B. Karena beras rojo sepat kualitasnya lebih baik dari beras ciomas, maka Bapak A menukar 1 karung rojo sepat dengan 2 karung ciomas milik Bapak B. Beras ditukar tunai saat akad.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

Catatan: Ada pendapat mengatakan bahwa beras memiliki illat yang sama dengan gandum dan kurma yaitu sebagai bahan makanan pokok yang dapat ditakar dan disimpan.

 

  1. Bapak A menukarkan 1 karung beras rojo sepat dengan 2 karung tepung terigu milik Bapak B secara tunai pada saat akad.

Apakah ada riba?

Jika ada, riba apa?

 

  1. Bapak A bekerja sebagai seorang pengendara ojeg bagi Bapak B. Bapak B membayar ongkos ojegnya dari sebuah bank ribawi yang bernama Bank Global Sentral Riba.

Apakah ada riba dalam penghasilan Bapak A?

Jika ada, riba apa?

 

Memerlukan pelatihan dan mengundang  saya:

Tel: 0811 187 5432

WA: 0812 8100 9812

email: andrie.setiawan@assalamconsultant.com

  • Islamic Finance
  • Sharia Insurance Selling
  • Sharia Agency Development Strategies
  • Sharia Insurance Agent Recruitment
  • Group Selling for Sharia Insurance
  • Leadership
  • Motivation
  • Pre-Pension Workshop
  • Islamic Financial Planning

 

 

1
×
Assalamu'alaikum,

Klik untuk bertanya tentang As Salam Training Consultant dan Program-Programnya